MAFIA CANTIK

MAFIA CANTIK
Cp. 36


__ADS_3

Suasana hening malam yang panjang semua sedang terlelap tetapi tidak dengan Zevia ia terpikirkan semua yang ditutukan Tanu bagaimana bisa ada manusia seperti Sentoso, kejam tidak berprikemanusiaan dan berperasaan sesuka hati menyiksa orang-orang.


Namun tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar yang membuat Zevia segera keluar untuk memeriksanya dan diikuti Calta yang terjaga juga saat mendengar suara paman Black yang panik.


"Ada apa" Zevia menghampiri paman Black yang terlihat berdiri memijit kepalanya pening.


"Ada apa Paman" Zevia menaikan oktaf suaranya kebingungan.


"Markas Sentoso diserang" Jawab Tanu yang datang dari arah belakang menghampiri mereka.


"APA" Zevia dan Calta bersamaan sembari menatap wajah Tanu tak percaya.


"Kak apa yang aku katakan" Ucap Calta.


Namun Zevia dengan cepat menggenggam tangan Calta dan menggelengkan kepala mengatakan bahwa ini bukan seperti yang ia pikirkan.


"Aku harus pergi" Zevia pergi namun paman Black segera mencegahnya.


"Jangan bertindak bodoh Zevia" Bentak paman Black murka.


"Aku tidak bertindak bodoh, Bagaimana keselamatan Ibu, Ibu Tanu, Coel dan yang lainnya.. Aku tidak ingin membuat kesalahan kedua kalinya cukup aku kehilangan AYAH aku tidak akan kehilangan Ibu lagi, jika ingin ikut silahkan ikut jika tidak aku bisa mengatasi ini sendiri" Ucap Zevia kesal dan pergi.


"Aku ikut kak Zevia" Ucap Calta tegas


"Aku juga" Tanu menimpali dan pergi mempersiapkan diri.


Melihat tekad semua anak-anak yang ia bina paman Black tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikutinya mengerahkan semua anggota MGR (Mafia Group Rubie) miliknya untuk mempersiapkan semua nya.


*


3 jam sebelum kejadian penyerangan.


"Tuan Saya mendapatkan informasi MGR akan melakukan penyerangan lusa"


"Apa.. kenapa tiba-tiba"


"Nona Kayla yang meminta untuk cepat melakukan penyerangan"


"Aah anak itu memang tidak berubah, selalu saja keras kepala dan tidak suka menunggu dan menunda-nunda"


"Tuan,, apa yang harus kami lakukan"


Lelaki itu menghampiri Pria yang tengah duduk di kursi roda dan membelakanginya.


"Kita harus melakukannya malam ini, aku tidak ingin mengotori tangan putriku hanya demi masalah kedua orang tuanya dimasa lalu putriku Kalya terlalu Manis untuk melakukan semua ini" Pria itu memutar kursi rodanya dan menatap lelaki yang berdiri di menghadapnya.


"Baik Tuan Albert"


"Pastikan informasi ini jangan sampai bocor Ben"


"Pasti Tuan" Ucap lelaki yang bernama Ben tersebut kemudian pergi membawa seluruh pasukan anggotanya menuju Markas kediaman Sentoso.


"Masuk dan serang sekarang, bunuh semua yang berdiri dihadapan sentoso dan pastikan Sentoso tidak pergi dari tempat ini" Ben memberikan arahan kepada anggotanya untuk melaksanakan semua rencana mereka.


Suasana yang semula damai dan sepi tiba-tiba berubah keos saat terdengar sebuah tembakan dan teriakan, Anak buah Sentoso tidak melakukan persiapan dan tidak siap menghadapi serangan itu meskipun begitu tidak sedikit Anak buah Ben yang terluka namun anggota Sentoso tetap kalah jumlah oleh pasukan Ben yang begitu banyak.


"Apa-apaan ini" Sentoso menghubungi kepala keamanan namun tidak ada jawaban.


"Brengsek apa yang sedang terjadi" Bentaknya namun tidak ada satupun yang menjawabnya.


"Ajalmu sudah dekat"

__ADS_1


Terdengar suara perempuan yang menjawabnya.


"Heh siapa ini, brengsek kamu berikan kepada Seno" Bentak Sentoso dari dalam sana.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, dan ya aku hanya memiliki urusan dengan mu jadi temui aku" Balas suara tersebut.


"Ha..ha..ha kamu sepertinya tidak mengenal saya, saya jadi penasaran sebesar apa nyali mu" Suara sentoso menggema dari dalam walkie tersebut.


"Ck, kamu hanya berani membentaku dibalik pintu saja.. Temui aku di tempat kejadian 16 tahun lalu" Kemudian suara itu tidak terdengar lagi.


Sentoso langsung terdiam mendengar ucapan perempuan dibalik walkie tersebut ia teringat kejadian 16 tahun lalu.


"Albert" Kau kah dalang dibalik ini semua" Ucapnya meneliti.


"Tidak.. tidak mungkin ini pasti jebakan, tapi aku akan dianggap serigala tak bertaring jika tidak pergi" Ucap Sentoso tanpa pikir panjang ia meraih senjatanya (pistol) dan memasukan kedalam saku belakangnya.


"Tuan situasi diluar sangat berbahaya" Salah satu bodyguard nya menghentikan langkah Sentoso namun tidak membuatnya mengurungkan niatnya.


"Bawa Maya pergi bersama ku sekarang" Titahnya.


"Bagaimana dengan Nyonya Sarah dan Coel"


"Aku tidak butuh mereka, bunuh saja jika perlu" Ucapnya tak berbelas kasihan.


Melalui jalan setapak Sentoso pergi menyelinap namun tanpa ia sadari seseorang telah mengawasinya dan mengikuti langkahnya pelan.


Suasana semakin keos kondisi markas tersebut menjadi berantakan terdengar samar suara sirene polisi mulai mendekat, Ben mulai memberikan arahan untuk tidak menghalangi jalannya.


"Dimana Sentoso" Bentaknya kepada salah satu pria yang bertubuh bongsor dan seluruh tubuhnya dipenuhi tato.


"Jawab brengsek" Bentak Ben sebab lelaki itu hanya diam meskipun tubuhnya mulai dipenuhi oleh luka dan darah.


"Wow.... Luar biasa, aku bisa saja membunuhmu tapi sepertinya akan lebih asik jika membunuh istri dan anakmu dahulu" Ucap Ben memberikan sebuah ponsel kepada Lelaki tersebut.


"Jangan, ku mohon jangan sakiti mereka" Lelaki tersebut yang tadinya terlihat sangat keras kepala mulai menunjukan sisi kelemahannya.


"Katakan dimana Sentoso" Ben kembali menanyainya namun ia masih bungkam.


"Bunuh sekarang" Perintah Ben kepada seseorang yang ada didalam ponsel itu.


"Sentoso ada di Jurang Lembah kematian bersama nyonya Maya" Teriaknya histeris saat melihat istri dan anak bayinya mulai ditodong senjata.


"Ha...Haa...haa... Bodoh" Ucap Ben kasar menatap lelaki tersebut begitu histeris bahkan ia tidak segan untuk berteriak dan menangis memohon untuk melepaskan istri dan anaknya.


"Ayo pergi" Ajak Ben kepada semua anak buahnya.


"Tuan lepaskan saya,, biarkan saya pulang menemui anak dan istri saya" Ucapnya memohon namun Ben tidak menghiraukannya dan semua anggota kepolisian tiba ditempat dengan tepat waktu semua anggota TDR (The Diamond ROO) yang dipimpin oleh Sentoso semuanya ditangkap.


*


"Calta dengarkan aku,, jangan pernah keluar dari sini walaupun apa yang terjadi" Ucap Zevia kepada adiknya Calta.


"Apa maksudmu kak" Kesal Calta saat mendengar ucapan Zevia.


"Kamu harus tetap disini, biarkan aku sendiri yang mengurus Sentoso.. Aku tahu ia kemari pasti membawa Mama Maya.. jadi ku mohon kepadamu apapun yang terjadi kamu harus terlebih dahulu menyelematkan Mama Maya" Pesan Zevia begitu haru bahkan ia sampai meneteskan air mata membayangkan mungkin begini pesan sang Ayah yang dititipkan kepada Ayah Zoy dahulu.


"Kak, katamu kita berjuang bersama.. Aku akan ikut membantumu jika harus mati kita mati bersama " Tegas Calta.


"Jangan bodoh, semua ini kita rencanakan 16 tahun lamanya kamu ingat bagaimana mereka membunuh ayah Zoy bagaimana mereka membantai keluarga kita.. Ayolah Calta ini bukan saatnya kita berdebat.. Aku kakak mu kau harus mengikuti apa yang ku ucapkan"


Ucap Zevia penuh emosional ia memeluk Calta dan mencium kening gadis yang sudah bersamanya berpuluh tahun itu.

__ADS_1


"Baik kak" Ucap Calta diiringi isak nya pelan.


"Jangan Menangis, kakak harus bersiap sekarang" Ucap Zevia pelan meninggalkan Calta yang bersembunyi dibalik semak itu.


Tidak perlu menunggu lama mobil yang dikendarai Oleh sentoso dan didalamnya ada Ny.Maya yang diikat dan diborgol tangannya hanya bisa terdiam tanpa berucap dengan tatapan kosong.


"Kau Tahu disini adalah tempat ku membunuh suami mu Albert sungguh malang" Ucap Sentoso tanpa rasa bersalah.


Mata ny.Maya membulat sempurna mendengar ucapannya tersebut ny.Maya hanya bisa menangis dalam Diam karena mulutnya ditutupi lakban tangan nya diborgol dan kakinya diikat.


"Saksikan aku dari dalam wahai kekasihku sayang doakan aku selamat,, kali ini aku akan menuntaskan semuanya malam ini agar kita bisa bersama selamanya" Ucapnya lirih sembari membelai lembut wajah ny.Maya.


Sementara Zevia berdiri tepat didekat Jurang tersebut dengan posisi membelakangi kedatangan Sentoso.


"Waaahh ternyata hanya gadis kecil" Ucapnya Remeh saat melihat seorang gadis muda berdiri membelakanginya dengan busana serba hitam.


Zevia memutar badan menghadap sentoso sesaat ia terdiam saat melihat langsung siapa itu Sentoso selama 16 tahun lamanya ternyata lelaki itu tidak banyak berubah.


Lelaki yang dengan perawakan tubuh yang tinggi dan besar, wajahnya tegas namun untuk usia tersebut ia masih bisa disebut tampan.


"Jadi kamu yang meminta ku kemari" Ucapnya pelan sembari berjalan mendekati Zevia.


"Berhenti disitu" Zevia memberikan peringatan.


"Wah..wah suaramu sangat tegas... Hemm mirip Albert" Ucapnya menyelidik dengan memicingkan mata menatap Zevia.


"Apakah kau anak Albert yang hilang itu.. Atau anak Zoy yang malang"


"Hentikan omong kosong mu, Anda tidak perlu tahu siapa saya.. Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan orang yang anda sebut itu, tetapi anda memiliki satu kesalahan terbesar" Ucap Zevia mengejek.


"Cuihh,, bajingan.. Tidak punya sopan santun brengsek..." Sentoso mendekat kearah Zevia.


Namun dengan sigap Zevia memberikan pukulan telak dibagian dadanya membuatnya terhuyung kebelakang dan tersedak dan dadanya terasa sesak.


Lagi Zevia mengambil satu langkah dan memberikan sebuah pukulan di bagian perutnya memutar lengannya dan menjatuhkannya ditanah.


Sentoso tidak percaya dengan kekuatan gadis muda tersebut bahkan tidak ada apa-apa nya dibandingkan kekuatan Seno yang selalu ia banggakan.


"Begini saja aku heran bagaimana ia bisa mengalahkan ayah sedangkan ayah bukan orang sembarang" Batin Zevia saat melihat Sentoso sudah terkapar ditanah.


Saat hendak menghunuskan Katana nya didada Sentoso tiba-tiba sebuah suara tembakan berhasil membuat Zevia terhuyung kebelakang dan terjatuh.


Calta yang menyaksikan hal tersebut tidak bisa menahan diri lagi dengan penuh amarah dan rasa bersalah ia berlari menghampiri Zevia yang tergeletak ditanah.


"Kakkkk..." Calta menghambur kepada Zevia memeluk sang kakak erat.


"Kak jangan tinggalkan aku,, Ku mohon maafkan aku maafkan aku kak aku lalai menjaga mu" Calta histeris sembari terus memeluk Zevia.


"Calta apa yang kau lakukan" Ucap Zevia mendorong Calta menjauh darinya.


"Loh,, tadi.. tapi.. tadi bukannya" Calta kebingungan karena Zevia baik-baik saja tetapi suara tembakan tadi keduanya memutarkan badan ternyata tembakan tadi berhasil mengenai titik vital Sentoso dan membuatnya tidak berdaya.


"Tanu..." Ucap Calta saat melihat siapa yang berdiri di ujung sana sembari tangannya memegang pistol.


----------NEXT EPISODE________


Nyambung gaksih ๐Ÿ˜ญ


ya gimana dong sarannya ya guys ๐Ÿ˜Œ


Mimin suka kok mendengarkan saran untuk kebaikan cerita kita ini ๐Ÿฅฐ

__ADS_1


__ADS_2