MAFIA CANTIK

MAFIA CANTIK
Cp.27


__ADS_3

"Kayla.."


Rintih maya sembari menatap kosong tembok berwarna putih itu dengan nanar, air matanya tak bisa ia bendung kala mengingat jasad kecil kayla tergeletak dilantai bersimbah darah tak bisa ia peluk dan cium.


Maya kembali terisak dan larut dalam kesedihan.


"Disini, dulu kamu disini nak" Maya menyentuh perut ratanya ia mengusap lembut mengingat masa-masa ia mengandung kayla, saat itu ia merasa benar-benar menjadi seorang wanita yang paling bahagia.


Memiliki suami tampan, mapan, baik dan begitu mencintainya meskipun 3 tahun awal menikah mereka belum dikaruniai seorang anak namun ketulusan cinta Albert begitu besar sehingga membuat maya tak ingin berhenti berjuang dan berusaha.


Sampai akhirnya semua usahanya membuahkan hasil ia hamil saat pernikahan mereka menginjak usia 4 tahun begitu indah masa itu senyum dan tawa keduanya menanti kelahiran sang bayi yang ditunggu-tunggu.


"Hiks..hiks, nak ibu merindukan mu.."


Maya menjatuhkan tubuhnya dikasur empuk itu dengan wajah yang begitu sedih, tatapan mata penuh kesakitan, luka hati yang tak bisa sembuh sebelum ia meninggal.


"Clek.."


Pintu kamar maya terbuka cepat-cepat ia menutup matanya seakan ia sedang tertidur sebab maya tahu lelaki itu adalah sentoso tidak ada orang lain yang bisa memasuki ruangan itu tanpa perintah lelaki biadab itu.


"Sayang.. kamu tidur" Ia duduk disamping maya dan mengusap rambut panjang maya.


Muak itu adalah kata yang bisa maya ucapkan dalam hatinya, ia muak dengan sikap psikopat lelaki itu seandainya saja jika tangan itu tak dirantai sudah pasti ia akan membunuh lelaki itu dengan tangannya sendiri.


"Air matamu kembali menetes ya"


Tangan kekarnya mengusap pipi maya yang basah dan menghapus air matanya, sentoso menarik panjang nafasnya dan menundukkan kepalanya.


"Haruskah aku akhir semua ini"


Ucapnya tetapi kini dengan suara yang lirih dan bergetar, maya semakin menahan diri agar tidak membuka matanya tetapi sungguh ia ingin tahu kenapa lelaki itu menangis.

__ADS_1


"Semua ini aku lakukan demi kamu maya.. Aku mencintaimu.." Suaranya semakin lirih dan berat seolah-olah ia benar-benar merasa sakit.


"Seandainya aku tidak melakukan ini, mungkin kau tidak akan membenciku dan bisa saja kita kembali seperti dahulu sangat dekat dan bahagia"


Ya benar maya dan albert memang tidak pernah membenci sentoso, mereka tidak tahu masalah masalalu bisa menjadi sebuah malapetaka bagi kehidupan mereka.


Semuanya baik-baik saja bila bertemu keluarga sentoso bersikap baik bahkan tidak terbesit sedikit pun pikiran dari maya dan albert bahwa sentoso bisa melakukan semua ini.


"Aku janji, jika aku menemukan kayla aku akan menyatukan kembali kalian berdua dan aku akan menyerah dengan semua ini, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku, maafkan aku yang sudah egois sayang.."


Detak jantung maya seolah berhenti sesaat menelaah apa yang baru saja sentoso ucapkan, menemukan kayla, menyatukan mereka bagaimana bisa apa maksudnya saat maya membuka mata dan ingin menanyakan maksud sentoso namun lelaki itu sudah tidak ada disana.


"Apa aku mimpi"


Maya mengusap mata nya tak percaya namun ia masih mencium aroma parfum khas lelaki itu dan itu artinya maya tidak bermimpi.


"Apa maksud mu... Jangan membuatku semakin gila.... Haaaakkkkkk" Teriak maya prustasi.


*


Malam pun tiba zevia bersiap-siap untuk menemui black ia memakai celana jeans hitam panjang dan baju kaos oversize hitam seperti biasa, rambut di kuncir kuda rapi, ia berdiri mematung di depan cermin besar.


"Hemm.. kelam sekali warnanya.. seperti hidupku" Ucapnya dengan nada kesal.


"Ma.. seandainya mama ada disini pasti baju ku tidak ada yang berwarna hitam" ucapnya dengan sedih saat ia mengingat bagaimana isi lemari ibunya yang semua berwarna bagaikan pelangi dan Maya ibunya sangat membenci warna hitam.


"Tapi.. itu andai... andai mereka tak melakukan itu" Ucapnya dengan mengepalkan tangannya kuat.


Tak ingin terlalu berlarut zevia segera keluar dari kamarnya ia berjalan santai ditemani suasana sepi karena memang kebanyakan pelayan berada di dapur dan mengerjakan tugas nya masing-masing.


Sesaat zevia teringat akan calta seharian ia tak melihat adiknya itu keluar kamar itu menandakan bahwa ia benar-benar marah ucap zevia pelan.

__ADS_1


Langkah kaki pelan namun pasti menelusuri lorong mansion nya dengan detak jantung berdebar kencang.


Antara siap dan tidak namun tekat zevia sudah bulat bahwa ia harus mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Aku janji akan menyelesaikan semua ini"


"Clekk.."


Zevia masuk keruangan kerja disana Black sudah menunggunya dengan wajah serius zevia mendekatinya dan duduk dihadapan nya dan memberi salam kepada pamannya itu.


"Bagaimana sudah siap" tanya Black.


Zevia menganggukkan kepalanya pasti.


Matanya terpejam sesaat setelah black memberikan dokumen tersebut dihadapannya, menarik nafas kasar apakah ia siap mengetahui semua itu.


"Zevia you oke" Black menghampirinya menepuk punggung gadis muda itu pelan karena zevia terlihat termenung dengan tatapan kosong.


"Hem.. Yes i'm good" Jawabnya pelan dan kemudian tangannya menyentuh pelan cover dokumen hitam itu dan mengusapnya perlahan sembari berharap semoga ini adalah titik terang yang bisa membawanya kr jalan untuk menyelesaikan semuanya.


"Saya tahu kamu lebih mampu dan dewasa dari yang saya pikirkan nak" Ucap black dengan senyum ramahnya zevia mendongak dan menarik nafas kasar lalu beranjak dari duduknya dan memeluk black.


"Thanks you soo for more.." Ucapnya dengan nada suara yang berat.


Black membalas pelukan zevia dan mengusap punggungnya di dalam hatinya black bisa merasakan bahwa sesungguhnya gadis muda ini begitu manis, lembut dan begitu periang namun bagaimana pun juga black tahu masa lalu nya lah yang membuatnya menjadi gadis sedingin es dan sekejam serigala.


Bersambung


Haiii maaf ya Up nya lama, sedih sebenarnya.. Author maunya up tiap hari cuma susah di waktunya :)


Terima kasih sudah mampir ๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2