
Halo... Terima kasih masih setia membaca novel antah berantah ini.. Author sangat menghargai setiap like dan komentar serta kehadiran anda dalam membaca novel ini.. 🥰
Happy Reading's
***
"Dokter baik-baik saja" Marchel menghampiri zevia yang sedang bersiap-siap merapikan diri setelah selesai beristirahat sehabis mendonorkan darahnya
"Hemm" Balas zevia sembari tersenyum kepada lelaki muda tersebut
"Dokter saya banyak mengucapkan terima kasih atas bantuannya" Ucap marchel sembari memberikan bow kepada zevia
"Chel itu sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk saling menolong.. saya hanya mengikuti kata hati saja" Balas zevia sembari melipat lengan kemeja oversize nya, marchel tersenyum sembari menatap wajah zevia, zevia melirik dan marchel menjadi salah tingkah
"Kenapa kamu senyum-senyum" Tegas zevia membuat marchel kicep senyum nya pudar
"Tidak apa-apa.. Dokter zevia bukan hanya cantik wajah tapi juga hatinya.." Balasnya membuat zevia melotot tak percaya akan apa yang diucapkan lelaki muda itu namun ia mengacuhkannya dan pergi
"Dokter tunggu" Lagi-lagi marchel menghentikannya
"Apa lagi chel" Balas zevia kesal sembari memasang senyum paksanya
"apa dokter zevia tidak ingin menemui pasien tersebut atau keluarganya" Ucap marchel pelan
"Tidak perlu jika ada yang bertanya tentang pendonornya katakan saja namaku.. aku tidak perlu menemuinya atau keluarganya karena mereka tidak berhutang apa-apa kepada ku.. Aku mendonorkan darah karena memang keinginanku... oke bye" Balas zevia ia kemudian pergi meninggalkan marchel yang terdiam setelah mendengar sarkas dari zevia ia tersenyum mengusap dadanya.., Wah tuhan kenapa tidak kau pertemukan aku dari dulu dengannya" Ucapnya sembari tersenyum girang
"Kamu naksir dokter zevia" Ucap seorang perawat perempuan, marchel terperanjat kaget sembari mengusap wajahnya kasar
"Dokter zevia sudah menikah jadi kamu bukan apa-apa baginya" Ucap perawat itu lagi memasang wajah meremehkan marchel
__ADS_1
"Suami dokter zevia tidak ada apa-apa dibandingkan aku.. Siapa yang bisa menolak ku wajah tampanku ini sangat mempesona" Balas marchel tengil membuat perawat muda itu kesal
"Kamu hanya remahan gula dimata pak tanu" ucapnya kesal dan pergi namun sebelum pergi ia menginjak kesal kaki marchel, Itu jawaban dari dokter zevia untukmu.. aku mewakilinya" Ucapnya lagi membuat marchel kesal dengan sifat wanita muda itu
"Syukur kamu cantik kalau tidak... Ihhhh" Marchel mengacak-acak rambutnya kasar.
Tanu dan calta menunggu kepulangan zevia sembari berbincang-bincang riang, calta tersenyum menatap tanu yang sedang duduk dihadapannya, wajah tanu sangat tampan dan mirip coel rahang tegas, tinggi semampai dengan tubuh yang kekar berisi sangat proporsional untuk gambaran lelaki tampan dan sempurna terlebih ia selalu memiliki wangi parfum yang khas dan unik
"Kak tahu tidak dulu aku sangat..."
"Sayang sudah pulang" Tanu mengabaikan ucapan calta karena zevia tiba-tiba masuk, calta buru-buru mengusap wajahnya kasar
"Kak kenapa wajahmu pucat" Calta menghampiri zevia
"Tidak apa-apa.. Aku tadi habis donor darah soalnya ada pasien dengan keadaan kristis" Balas zevia pelan
"Sudah kak.. Aku akan membuatkan minuman coklat hangat untukmu kak" Ucap calta
"Jangan.. jangan repotkan dirimu" Balas zevia khawatir
"Kak.. pliss" Calta menatap zevia memohon
"Oke.. Buatkan juga aku roti panggang" Ucap zevia sembari tersenyum jahil menatap calta
"Siap bos" Balas calta dengan senyum lebar dibibirnya, zevia dipapah tanu menuju kamar mereka.. Calta pergi ke dapur ia duduk menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir
"aku tidak seharusnya ingin mengatakan itu kepada kak Tanu, kak zevia sangat menyayangiku dan mencintai kak tanu juga.. Bodoh.. Bodoh.. bodoh.. apa yang kamu pikirkan calta, apa isi otakmu.. kepergian coel tampaknya bukan hanya membuat hatiku cacat tapi juga otakku" Ucapnya sedih sembari menoyor kepalanya sendiri
"Calta ada apa" Tanu tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya, calta sungguh terkejut dibuatnya
__ADS_1
"kak sejak kapan kamu ada disitu" Ucap calta ketakutan
"Sejak tadi.. aku mendengar semuanya calta, tolong jangan anggap kebaikan ku kepadamu berlebihan,, kamu adikku aku menyayangimu layaknya aku menyayangi coel juga" Ucap tanu membuat calta benar-benar syok ternyata tanu mengetahui semuanya
"Kak aku sungguh minta maaf kak.. aku tidak bermaksud seperti itu, tadi aku hanya ingin bercerita masa lalu.. Maafkan aku kak tolong jangan beritahu kak zevia soal ini" Ucap calta dengan suara bergetar
"Tak apa.. sudah jangan menangis minuman nya sudah" Tanya tanu mengalihkan pembicaraan mereka
"Ini kak" Calta memberikan nampan kepada tanu setelah tanu pergi ia duduk lemas di kursi makan dadanya berdegup kencang rasanya membuat sesak, ia kemudian naik ke kamarnya mengurung diri disana merasa bersalah dengan zevia dan tanu.
Tanu masuk membawa nampan berisi minuman coklat dan roti, zevia tersenyum kecil dan bertanya akan keberadaan calta, tanu menggaruk batang hidungnya ia tidak bisa menyembunyikan ini dari zevia jadi ia menceritakan semuanya.
Zevia tersenyum lucu sembari menatap tanu, tanu heran bukannya marah atau kesal zevia justru tersenyum lebar.
"Itu hal biasa sayang, tidak masalah terima kasih sudah jujur" ucap zevia, tanu kicep mendengar ucapan zevia apalagi saat zevia memanggilnya sayang
"Sa-sayang.. Kamu memanggilku sayang" Ucap tanu dengan suara bergetar
"Kenapa.. Kamu suamiku tidak ada yang salah aku memanggilmu sayang" Jawab zevia dengan wajah merona
"Terima kasih" Ucap tanu ia memeluk zevia dan mengecup keningnya manja
"Maafkan aku jika selama ini aku terlalu mengeraskan hatiku.. Maaf aku selama ini belum menjadi istri yang baik untukmu.. Mulai malam ini aku akan menjadi istri yang baik untukmu dan calon anak-anak kita nanti" Ucap zevia berbisik dengan wajah yang sangat merona, tanu tersenyum bahagia ia dengan spontan mengecup bib!r zevia dengan lembut tidak ada respon penolakan dari yang empunya bibir merasa ada kesempatan Tanu mulai memainkan permainan dan peran sebagai suami sepenuhnya sehingga terjadilah malam pertama mereka sebagai suami istri sewajarnya zevia memejamkan mata dan meringis kesakitan saat benda asing tersebut merasukinya darah segar mengalir dari sana menandakan bahwa ia bukanlah lagi seorang istri perawan
"Maafkan aku.." Bisik tanu sembari memeluk tubuh mungil dan polos zevia
"Tidak apa-apa, aku yang seharusnya minta maaf karena telah lama menunda kewajibanku.." Balas zevia dengan suara serak ia melirik sprei putih di ranjang mereka bercak noda merah darah menyadarkannya kini ia sepenuhnya milik suaminya, tanu memeluk zevia dengan erat dan mengecup kening, pipi, hidung, mata dan dagu zevia dengan lembut sehingga membuatnya kembali terbuai dengan kecantikan wajah zevia yang seperti lukisan nan sempurna sehingga terulang lah kembali permainan mereka namun kini sudah tidak ada lagi rasa canggung antara keduanya.
"Bersambung"
__ADS_1