
"Baa.. Maafkan aku"
Zevia akhirnya membuka suara ia duduk disamping pusara Zoy.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu seperti kamu menjagaku"
"Baa, sekarang siapa yang akan menjadi pelindungku, penghangat jiwa ku .. Kamu pergi dengan tiba-tiba..."
Zevia mengusap batu nisan nama zoy dengan lembut seolah ia sedang menyentuh wajah ayah angkatnya.
"Aku janji baa disini.. tempatku duduk aku akan menghabisi wolfin tanpa bersisa aku akan mengambil detak jantungnya seperti ia merenggut detak jantungmu"
Nada bicara zevia begitu marah bahkan sesekali ia menutup matanya untuk menetralkan amarahnya.
Zevia mengambil bunga tabur dan mulai memberikan salam penghormatan perpisahan terakhir untuk ayah angkatnya zoy namun kali ini zevia terlihat lebih tegar dan kuat yang ada dimatanya hanya amarah.
Dengan berat hati akhirnya ia pergi meninggalkan makan zoy namun sebelum pergi zevia pamit.
"Baa, berikan aku restu mu.. Aku pamit"
Ucapnya dan kemudian membalikkan badannya lalu mengambil langkah tegap berjalan dengan rasa sakit namun keadaan memaksa nya untuk tegar angin kencang berhembus meniup rambut panjang zevia yang ia cepol simple sehingga membuatnya terlihat menarik dipandang mata meskipun ekspresi wajahnya selalu datar.
Disana calta dan black serta tanu menunggu zevia terlihat dari jauh yang mereka tunggu akhirnya datang ekspresi wajah tanu terlihat lega karena akhirnya zevia kembali dengan baik-baik saja.
"Kenapa kamu senyum-senyum"
Bentak calta karena wajah tanu berseri saat melihat zevia.
"Eh, hee tidak mata ku kelilipan"
Kilahnya.
"Alah alasan, awas lo"
Calta mengajukan tinjunya dihadapan wajah tanu dan black yang melihat hal itu hanya tersenyum kecil.
Zevia akhirnya sampai juga di mobil kemudian mereka pergi bersama-sama untuk pulang namun diperjalanan tanu meminta untuk berhenti disimpang jalan masuk karena ia harus pulang kebetulan mobilnya masih ada disana.
"Lo yakin mo pulang"
Ejek Calta.
"Hemm" Jawab tanu singkat padat jelas.
Setelah berpamitan dengan zevia, calta dan black tanu akhirnya pulang dengan mobilnya dan rombongan zevia dan yang lainnya pergi juga namun saat mereka tiba pintu gerbang mansionnya anehnya pintu yang selalu tertutup rapat itu tiba-tiba tidak tertutup dan terlihat beberapa anak-anak TDR sedang bertarung dengan beberapa orang yang mereka tidak kenali.
__ADS_1
Zevia dan calta turun meskipun black melarang mereka namun kakak beradik itu tidak mendengarkannya mereka tetap turun.
Zevia berlari menerobos masuk kedalam mansionnya melewati beberapa orang yang sedang bertarung dengan gaya khasnya ia ikut ambil bagian dalam pertarungan sengit itu.
Calta tidak ingin ketinggalan melihat sang kakak sudah duluan masuk ia segera mengikat rambutnya dan meraih tongkat baseball yang selalu ia bawa kemanapun.
"Haaaa......"
Teriakan lantang calta membuat beberapa orang menoleh namun tak lama karena pukulan tongkat ajaibnya menghantam kepala dan wajah mereka.
"Brengsek lo semua.."
Plakkk,, baaggg,, biikkk bukkk..
Calta dengan membabi buta menghajar lawannya dengan berani tanpa gentar sedikitpun saat sedang bertarung tiba-tiba tanu berlari melewatinya dan mengambil posisi disamping zevia dan membantunya.
"Apa yang terjadi"
Tanu bertanya kepada zevia namun dengan tangan dan kaki masih bertarung.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan... Shit (Zevia hampir kena pukulan namun ditangkis oleh tangan kekar tanu) Jika tidak mampu maka pergi.."
Teriak zevia dengan keras namun tetap fokus pada pertarungannya.
"Ck.. Akan ku buktikan" Tantang tanu dan benar saja tanu yang bukan bagian dari keluarga Zevia ikut ambil andil dalam keadaan kacau itu yang tanu tahu adalah bagaimana caranya agar zevia aman.
"Plaakkk"
Zevia menampar pipi lelaki berbadan kekar itu dengan kuat.
"Ikat dia" Perintahnya.
"Baik ketua" Pengawal yang berdiri disamping zevia mengangguk dan memberi bow.
Calta berlari menghampiri zevia dan tanu ia tersenyum bangga kepada kakaknya dan memeluknya.
"Wow, keren" ucapnya dengan lantang.
Zevia hanya mengangguk dan mengusap kepala Calta lembut.
"Kamu gak apa-apa kan" ucapnya pelan dan dijawab anggukan Calta.
Tanu semakin terpesona dengan sifat zevia yang sangat menarik untuknya terlihat acuh namun begitu peduli saat ia sedang menatap zevia tiba-tiba zevia menoleh juga menatap Tanu alhasil keduanya beradu pandangan beberapa saat dan akhirnya tanu mengakhiri pandangannya karena merasa malu.
"Apa tujuan mu menyerang kediaman saya dan membahayakan nyawa semua yang ada disini"
__ADS_1
Zevia menghampiri lelaki yang sudah diikat kaki dan tangannya.
"..."
"Jawab.."
Calta membentak nya namun zevia mengangkat tangan menyuruh calta diam.
"Jika tidak mau menjawab, biarkan saja"
Ucap zevia dingin.
"Kakak apa-apa'an " Protes calta karena tidak setuju dengan zevia.
Namun saat calta sedang berceramah ria tiba lah salah satu pengawal zevia dengan membawa tang (untuk mencabut besi/paku) dan air cuka apel ditangannya ia memberikan kepada zevia.
Calta terdiam melihat apa yang dibawakan pengawal kakaknya itu ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menatap tanu ngeri.
"Kakak ku sepertinya sekarang akan berubah"
Ia berbisik kepada tanu yang sedang berdiri disampingnya dengan melipat tangan depan dada.
"Oh ya, memang siapa dia" Tanu dibuat penasaran dengan ucapan calta.
"Kau lihat saja nanti" Ucap mengangkat bahu acuh.
Zevia mengambil tang dan memangnya kuat ia meraih tangan lelaki yang terikat tadi dan menarik sudut bibirnya tersenyum sadis bukan senyum manis.
"Katakan, aku berikan 10 kali pertanyaan jika tidak menjawab maka.."
Zevia menggerakkan tang tersebut di jari-jari tangan lelaki itu.
"Hemm coba saja" Tantang lelaki itu dengan senyum liciknya seolah ia tidak gentar akan ancaman yang diberikan zevia.
"Katakan, siapa yang memerintah mu" Tanya zevia tenang.
"..."
"Baik, ku hitung sampai 3... 1....2...3"
"Awwwww.... aahhhkkkk sakit jangan aaaaa..."
Teriak lelaki itu dengan keras saat kuku tangannya dicabut paksa oleh zevia dan langsung dicelupkan kedalam cairan cuka apel bayangkan saja bagaimana rasa sedapnya.
"Tuh kan.."
__ADS_1
Calta menutup mata saat zevia melakukan tindakan kejamnya, tanu yang sudah terbiasa dengan hal-hal berhubungan dengan kekerasan dan psikopat itu terdiam melihat sosok zevia yang berubah drastis dari zevia yang dingin, zevia yang peduli dan perhatian menjadi zevia yang menjadi psikopat yang haus kekejian.
"Next Episode"