
"Ibu.. Bagaimana kondisinya" Zevia duduk dan mendekat kepada Ny.Sarah sembari terus mengamati wajah tersebut meskipun tidak sering bertemu hanya beberapa kali namun Zevia mengingat bagaimana wajah cantik milik ny.Sarah yang khas.
"Baik.. Dokter sangat cantik mirip sama calon mantu saya" Ucap Ny. Sarah membalas pertanyaan dari Zevia.
Zevia terdiam apa maksud dari calon mantu apa mungkin, Zevia terdiam mencoba menetralkan suasana meskipun sudah 6 tahun berlalu tidak pernah berhubungan dengan Tanu namun tidak dipungkiri nama tersebut memiliki tempat tersendiri dihatinya.
"Ohh ya.. Wahh ternyata ibu sudah mau jadi ibu mertua yaa" Zevia tersenyum sembari mengusap lembut tangan ny.Sarah.
"Benar saya senang sekali.. Apakah dokter bisa membawa saya jalan-jalan" Mohon Ny.Sarah sembari menarik tangan Zevia.
"Tapi dok, masih ada 2 pasien lagi" Zevia mengangguk menatap Anita dan Anita mengerti maksud itu, Ia pergi sendiri untuk mengontrol keadaan pasien lainnya sedangkan Zevia ia mengikuti langkah kaki Ny. Sarah membawanya menuju sebuah taman didepan rumah sakit tersebut.
"Dokter apa dokter mau jadi menantu saya" Ucap ny.sarah menatap wajah Zevia saat keduanya sedang duduk dikursi taman.
"Bagaimana saya mau jadi mantu ibu kan anak ibu sudah punya calon istri" Jawab Zevia dengan suara lirih namun tetap mencoba tersenyum.
"Loh.. Siapa bilang anak saya punya calon istri dokter suka ngarang cerita" Jawabnya lagi membuat Zevia hanya bisa pasrah mengingat Ny.Sarah saat ini sedang menderita Demensia Alzheimer yang membuatnya sering lupa akan apa yang baru saja ia ucapkan, lakukan dan lihat.
"Ibu.. Tahu tidak saya sangat merindukan dia, 6 tahun ternyata saya membohongi diri saya sendiri, seandainya ibu bisa mengingat saya saya akan sangat senang" Ucap Zevia berbicara sendiri sebab ny.Sarah hanya diam sembari menatap sekeliling taman tidak merespon apa yang Zevia katakan.
*
"Lohh ibu saya kemana" Seorang laki-laki masuk kedalam ruang rawat menghampiri ranjang ny.Sarah.
"Bu.." Ia mencoba mencari sang ibu mengingat kondisi sang ibu yang tidak baik.
Berlari di koridor rumah sakit sembari memanggil sang ibu tidak sengaja ia bertabrakan dengan suster Anita yang baru saja selesai ngecek pasien di IGD.
"Aduhh.." Suster Anita terjatuh dengan barang-barang yang ia bawa berserakan dilantai.
"Maaf, maaf kan saya suster.." Lelaki tersebut membantu Anita membereskan alat-alat medis yang ia bawa.
"Tidak apa-apa pak.. Kalau boleh tahu ada apa yaa" Tanya suster Anita saat sudah beres dan berdiri dihadapan lelaki tersebut.
"Saya mencari ibu saya, tapi tidak ada dikamar rawat nya sus.. Saya takut ibu saya kenapa-kenapa lagi soalnya ia menderita pikun akut" Jawabnya dengan nafas yang memburu.
"Ohhh ibu yang ada diruangan Belvelion ya pak.." Jawab Anita.
"Suster tau.. Iya sus ny.Sarah apa suster melihat" Ia bertanya dengan memburu membuat Anita kesulitan menjawabnya.
"Tenang pak.. Tenang.. Ibu bapak tidak hilang, tadi ibu bapak membawa dokter yang merawatnya untuk jalan-jalan" Jawab Anita pelan.
"Jalan-jalan, Kalau boleh tahu kemana ya sus" Ucapnya lagi namun kini dengan nafas yang lebih teratur.
"Emmm, kurang tau pak tapi sepertinya mereka sedang ada di taman depan rumah sakit ini soalnya tadi ibu bapak membawa dokter ke arah sana" Jawan Anita sembari menunjukan arah taman di depan.
"Terima kasih suster" Jawabnya lalu pergi menuju taman depan RS tersebut dengan langkah sedikit berlari.
"Wahh.. Ganteng bangett mana wangi banget pula ๐" Ucap Suster Anita setelah lelaki itu pergi.
" Ibu.. Apa ibu benar-benar tidak mengingat saya" Ucap Zevia pelan sembari mengusap-usap lembut lengan Ny.Sarah.
"Saya ingat.. " Jawab Ny.Sarah tiba-tiba membuat Zevia terdiam dengan jantung berdebar kencang.
"Kamu kan Dokter Cantik yang mau jadi mantu saya" Ucapnya lagi membuat Zevia tersenyum kecil, namun ada rasa sakit dihatinya sebab ny.Sarah benar-benar tidak mengingatnya Zevia teringat bahwa Ny.Sarah pernah menyelamatkan nyawa dahulu saat ia di Kanada saat dalam masa sulitnya.
"Ibu apa boleh saya peluk" Zevia bertanya lagi dan ny.Sarah mengangguk setuju tanpa pikir panjang Zevia memeluknya erat.
"Ibu terima kasih dahulu ibu menyelamatkan saya dan mengobati saya saat saya terluka,, Saya sedih bertemu ibu tahu-tahu kondisi ibu sudah begini tidak mengingat siapa saya lagi.. Tapi saya berdoa semoga ibu lekas membaik" Bisik Zevia dengan terus memeluk ny.Sarah.
"Bu.. Ibu ngapain disini"
Seseorang yang datang membuat Zevia melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya cepat.
"Maaf pak membuat anda khawatir mencari i--ibu annd......a " Zevia terpaku beberapa detik saat bertemu tatap dengan lelaki tersebut tidak bisa berucap namun air matanya langsung mengalir tanpa diperintah saat menatap lelaki yang tidak lain tidak bukan adalah Tanu, orang yang baru saja ia ceritakan dengan bu Sarah.
"Ka--Kamu.. Ka-kamu emmm kamu" Tanu yang tidak kalah terkejutnya saat tahu bahwa dokter yang dikatakan oleh Anita tadi adalah Zevia, Tanu melihat name tag yang menempel di jas almamater kedokteran Zevia jelas-jelas tertulis nama Zevia Albert.
"Mari... Ki-kita masuk" Zevia berjalan mendahului Tanu namun Tanu dengan cepat meraih lengan Zevia sehingga menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Zevia.. Kamu Zevia" Tanu tidak percaya akan bertemu orang yang ia kenal namun kini telah berbanding terbalik dengan orang ia kenal dulu.
"Maaf Pak, saya harus kembali bertugas" Ucap Zevia mencoba menetralkan diri meskipun suaranya jelas-jelas terdengar samar dan bergetar.
"Bisa kita bicara" Tanu tetap tidak melepaskan genggamannya dari tangan Zevia.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan.. Jika tentang kondisi Ny.Sarah sebaiknya kita bicarakan didalam" Ucap Zevia tegas namun sopan dan dengan pelan ia melepaskan genggaman Tanu dari tangannya dan ia berjalan duluan diikuti Tanu dan Ny.Sarah juga.
Melihat wajah dan kondisi Zevia yang sekarang membuat Tanu sedikit lega ia yang selalu berpikir akankah Zevia mampu melewati masa-masa itu.
Tidak terasa kini mereka sudah sampai di ruang kerja Zevia dengan nuansa berwarna putih serta terpajang foto keluarga mereka ada Ayah, Ibu, Ben, Zevia dan Calta membuat suasana ruangan tersebut terasa hangat.
"Silahkan duduk.. Oke terkait kondisi Ny. Sarah dari hasil tes lab dan observasi saya untuk saat ini ibu Sarah boleh pulang namun 2 hari setelah ini Ibu sarah harus kembali kesini untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut sebab saya pribadi sebagai dokter ahli saraf belum benar-benar memeriksa kondisi ibu lebih jauh namun hari ini kami pihak rumah sakit memperbolehkan untuk pulang.. Nanti saya akan berikan resep obat untuk 2 hari ini sebelum kembali kesini lagi.. Apa ada pertanyaannya pak" Ucap Zevia dengan luwes menjelaskan kepada Tanu dengan tetap menjaga sifat profesional nya.
"Zevia" Jawab Tanu.
"Iiyaaa Pak" Zevia menjawab dengan nada sedikit tegas namun tetap mencoba sopan.
"Aku.. Aku senang bertemu kamu dengan kondisi seperti ini sekarang" Ucap Tanu dengan tetap fokus menatap wajah Zevia.
"Maaf pak, jika untuk pertanyaan diluar kondisi ibu Sarah saya tidak bisa menjawabnya karena disini tugas saya untuk mengawasi dan mengurus pasien, jika tidak ada lagi pertanyaan saya akan berikan resep segera.. Mohon tunggu ya Pak" Jawab Zevia, meskipun ia mencoba untuk menahan diri namun tidak bisa dipungkiri bahwa ia merasakan perasaan Marah, kecewa dan rindu menjadi satu kesatuan yang membuatnya tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Anita keruangan saya" Zevia menghubungi asistennya dan tidak perlu menunggu lama Anita sudah tiba diruangan Zevia.
"Anita tolong antarkan Ibu Sarah dan Tn.Tanu ini ke tempat penebusan resep obat yaa dan tolong pastikan kondisi ibu sarah benar-benar baik sebelum nanti ia pulang" Ucap Zevia kepada Anita.
"Baik Dokter.. Mari Pak" Ajak Anita.
"Silahkan Ikuti suster Anita ya Pak.." Ucap Zevia mempersilahkan Tanu keluar dari ruangannya.
Setelah Tanu keluar Zevia tertunduk lesu serta memijit jidatnya pening, kesal kenapa tadi air matanya keluar sendiri padahal ia sudah menahan diri dari awal terlebih saat melihat kondisi Tanu yang kini nampak lebih kurus.
Kehadiran Tanu membuat Zevia merasa benar-benar kesal kenapa ia harus datang kembali disaat ini sudah memulai hidup barunya dan sudah bertemu orang baru.
Ya Zevia sudah memiliki kekasih seorang Kapten Muda bernama Markus lelaki yang sudah bersamanya 1 tahun terakhir meskipun tidak ada cinta dihatinya untuk Markus namun Zevia menyayangi nya serta menghargai semua perjuangannya sebab markus bersikap sangat baik lagipula Markus sudah mengenal kedua orang tuanya begitu juga Zevia. Kini kehadiran Tanu kembali membuat hatinya menjadi sangat tidak tenang.
Saat sedang bimbang, galau dan kesal tiba-tiba telponnya berbunyi dan menampilkan nama MARKUS.
....
"Iya jadi.. Oke ku tunggu didepan"
Zevia segara siap-siap untuk pergi makan siang dengan Markus siapa tahu kondisi hatinya bisa membaik dengan bertemu lelaki yang sangat baik dan mencintainya itu.
"Dokter kemana" Anita yang baru selesai mengurus Ny.Sarah berpapasan dengan Zevia.
"Mau makan siang, kamu mau ikut" Ajak Zevia kepada Anita.
"Gak ah dok, nanti saya jadi obat nyamuk buat dokter dan kapten Markus" Jawab Anita dengan wajah sumringah menatap Zevia.
"Bilang aja kamu masih banyak kerjaan" Balas Zevia dengan senyum lebar dan diikuti tertawa renyah Anita.
"Yaa sudah saya pergi yaa.." Pamit Zevia
"Have fun ya dok" Lambai Anita diikuti balasan lambaian tangan Zevia juga.
Zevia menunggu di depan RS dan Tanu yang dari juga ingin kembali menemui Zevia tengah bersiap ingin menemuinya namun langkah kakinya terhenti saat sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti tepat di depan Zevia.
"Haii.." Zevia menghampiri lelaki yang baru saja turun dari mobil tersebut.
"Halo sayang" Lelaki tersebut membalas sapaan Zevia dan memeluk pinggang ramping serta mengecup keningnya.
"Udah lama nunggu" Ucap lelaki yang bernama Markus itu.
"Gak baru aja.. Yukk" Ajak Zevia dan disetujui Markus dengan sigap Markus membukakan pintu mobil untuk Zevia.
"Terima kasih" Balas Zevia lembut.
Tanu terpaku melihat begitu manis dan lembutnya sifat Zevia kepada lelaki itu meskipun tidak mendengar percakapan mereka namun dari gestur keduanya Tanu sepertinya tahu bahwa itu adalah orang spesialnya Zevia.
__ADS_1
"Shitt.. " Umpatnya kesal namun tidak ingin mati penasaran Tanu dengan nekat akhirnya mengikuti kemana perginya mobil Markus dan Zevia.
"Kenapa sayang" Markus memperhatikan wajah kusut Zevia ditambah ia lebih banyak diam dari biasanya.
"Gak papa kok, oiya gimana ada kemajuan kasus terbaru dari PT.Gembala" Zevia mencoba mencairkan suasana meskipun hatinya tidak bisa tenang.
"Sayang.. Kamu kenapa? Ada masalah" Markus mengerti pasti ada yang terjadi kepada kekasihnya itu tidak biasa Zevia menanyakan tentang pekerjaannya.
"Yaa udah kalau gak mau cerita gak masalah" Markus benar-benar memahami sifat Zevia dengan baik.
"Tanu" Tidak bisa menahan sendiri Zevia yang sudah menceritakan semua kisah hidupnya dan percintaan dengan Tanu kepada Markus merasa bahwa kekasihnya itu juga berhak tahu masalahnya.
"Tanu.. Kenapa dengan dia" Tanya Markus namun tetap fokus menyetir.
"Dia.. Dia ada dijakarta mas" Ucap Zevia jujur meskipun ia merasa iba kepada Markus sebab ia tahu Markus mengetahui bahwa sampai saat ini ia masih memikirkan Tanu.
"Oohh kenapa mesti bete sayang.. Harusnya kamu senang dong dia dijakarta jadi kamu bisa kembali dekat sama Dia" Balas Markus dengan tersenyum kecil sembari melirik Zevia.
"Mas apa-apaan sih.. Udah deh gak usah bahas hal begitu" Kesal Zevia.
"Oke sayang oke.."
Namun saat Markus melirik spion mobil ia mengamati bahwa ada mobil yang mengikuti mereka sedari tadi dengan cepat Markus mengambil jalan pintas dan melaju sedikit cepat Zevia menyadari ada hal yang tidak baik sebab tidak biasa Markus membawa mobil dengan kecepatan begini.
"Apa dia marah" Batin Zevia sembari melirik Markus yang kali ini benar-benar fokus menyetir.
"Mas ada apa" Zevia mencoba mencari tahu.
"Mas..." Ia menaikan oktaf suaranya sebab markus tidak merespon.
Akhirnya Zevia memilih dia tidak bersuara sedangkan markus masih mutar-mutar sampai akhirnya ia berhasil mencegat sebuah mobil yang dari tadi terus mengikutinya.
"Sayang kamu dimobil saja ya biar aku yang turun" Ucap Markus Zevia yang kini menyadari sebab markus membawa mobil ugal-ugalan mulai merasa tidak tenang saat markus menghampiri mobil di sampingnya.
Markus mengetuk jendela mobil tersebut dan tidak berapa lama jendela itu terbuka.
"Ada pa ya pak dari tadi saya perhatikan sepertinya anda mengikuti saya" Heran Markus.
"Maaf tapi saya orang baru jadi kurang tau jalanan di jakarta," Jawab lelaki yang tidak lain adalah Tanu.
Zevia yang sedari tadi memperhatikan mereka akhirnya tidak bisa menghentikan rasa penasarannya ia turun dari mobil dan menghampiri Markus.
"Jadi..." Markus semakin heran namun tiba-tiba Zevia menghampirinya dan mengetahui orang tersebut adalah Tanu.
"Mass kenapa " Zevia yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Markus dan meraih pundaknya mencari tahu masalah apa yang sedang terjadi.
"Gpp sayang.. Yuk lanjut aja" Balas Markus dengan senyum kecil menatap Zevia.
Zevia yang seolah-olah tidak mengenal Tanu pun pergi begitu saja.
"Jadi benar itu kekasihmu" Sarkas Tanu dengan suara pelan.
.
.
.
.
.
Allloiiii Next Episode yaa..
Wahh ada sitanu ternyata.. ๐
Gengs kalau untuk season 2 ini ceritanya lebih ke romansa yaa jadi akan banyak menampilkan cerita-cerita bucin gitu hehehe
..
__ADS_1
Makasihh sudah mampirr, jangan lupa like, share and votenya yaa ๐ค๐ฅฐ