MAFIA CANTIK

MAFIA CANTIK
Cp.25


__ADS_3

Hujan yang turun deras memang mampu membuatmu basah dan kedinginan dalam hitungan detik tapi jangan lupakan bahwa api amarah itu masih membara dihati mu dan jangan padamkan sebelum kau menemukan separuh jiwa mu ** Kayla Albert Swift**


*


Fajar pagi hari pun datang membawa kehangatan bagi siapa saja yang membutuhkannya zevia membuka mata perlahan meskipun semalaman suntuk ia tidak memejamkan mata itu walau sedetik tatapan mata kosong menatap tembok kamar yang dingin, tangan menopang pipi tirusnya menjadi pembatas bagi wajahnya dan lantai.


Jiwa dan pikiran melayang tak bisa bergandengan tangan dengan hati terluka dan jiwa terkoyak parah, namun ia tetap menguatkan tekad bahwa apa yang telah diambil harus dibayar dan siapa yang merenggut akan direnggut.


"Tok..tok..tok.."


Zevia menoleh menatap pintu kamar yang tinggi menjulang dengan ukiran indah menghiasi setiap sudutnya zevia kembali merebahkan kepalanya dan menatap jendela dengan tirai tersingkap.


"Tok..tok..tok"


Ketukan pintu kembali membuyarkan pikiran zevia namun ia tak ingin egois hanya karena masalahnya ia mengabaikan semua orang disisinya.


Zevia menarik nafas panjang dan beranjak bangun merapikan wajah dan rambut sesaat ia termenung melihat kondisi kamarnya yang begitu berantakan, buku-buku berhamburan, pakaian, seprei bantal dan semua yang ada disana berhamburan dilantai namun dengan santai ia mengabaikan semua itu zevia membuka pintu dengan perlahan dan melihat siapa yang datang.


"Selamat pagi Nona Zevia"


Saolin memberi bow dan salam dan ia menatap isi kamar zevia yang berantakan semua dan ia tersenyum sopan mengerti apa yang terjadi dengan Nona mudanya itu.


"Tuan Black sudah menunggu nona"


"15 menit saya kesana"


Balas zevia sopan dan saolin menawarkan diri untuk membereskan kamar zevia namun zevia mengatakan bahwa ia akan membereskannya sendiri.


Zevia memang memiliki sifat yang cenderung dewasa bahkan dewasa dari usianya ia tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah yang ia timbulkan karena bagi zevia apapun yang terjadi karena ulahnya maka yang bertanggung jawab adalah dirinya sendiri.


15 menit berlalu zevia menghampiri black yang sudah menunggunya sedari tadi ia berjalan pelan dan duduk dihadapan black.


"Maafkan saya, om jadi menunggu lama"

__ADS_1


Zevia mengubah nada bicaranya menjadi lebih sopan.


"Tidak masalah nak" Balas black dengan senyum diwajahnya.


Terlihat wajah black mulai serius ia mengambil berkas dokumen yang ia bawa dengan tatapan mata khawatir black menatap zevia yang kebetulan juga sedang memperhatikannya.


"Ada apa?" Zevia bertanya meneliti karena melihat ekspresi wajah paman nya yang tak biasa itu.


"Semua data yang kamu cari ada disini"


Black menunjukan amplop yang ia bawa itu wajah zevia semangat ia mengulurkan tangannya meminta amplop itu namun black mengatakan belum saat nya ia menerima amplop itu.


"Apa yang om maksud"


Zevia bertanya dengan nada sedikit menghardik namun black hanya tersenyum simpul dan mengatakan amplop itu akan ia serahkan sendiri ke tangan zevia saat zevia berusia 17 tahun.


"Why.. Aku bisa menangani apapun dengan usia ini apa kamu tidak mempercayaiku"


Black mendekat kearah zevia dengan pelan black duduk disampingnya dan menatap wajah gadis muda itu dengan penuh kasih sayang dan tersenyum.


"Aku sudah berjanji kepada Zoy bahwa aku akan menjaga mu.. setidaknya Izinkan aku menepati janjiku dan aku berjanji kepadamu diusia sweet seventen mu aku akan memberikan amplop itu dengan syarat diusia itu kamu harus mampu menguasai emosi mu dengan baik"


Zevia terdiam mendengar ucapan black dengan berat hati ia mengangguk menyetujui permintaan paman satu-satunya itu kemudian zevia pergi karena urusannya juga sudah selesai dengan black.


Ia berjalan di lorong mansionnya dengan langkah tegap mencari dimana keberadaan calta karena sedari tadi ia belum menemukan adiknya itu.


Namun mata zevia menangkap satu pemandangan yang tak bisa membuatnya melanjutkan langkah kakinya, calta adik manisnya itu sedang bersama seseorang lelaki gelak tawa Calta menggema di halaman luas itu.


Zevia tidak ingin merusak kebahagiaan adiknya itu namun ia penasaran siapa lelaki yang bisa membuat adiknya itu mengabaikannya begitu saja dan lelaki itu memutar badannya dan menghadap belakang diposisi dimana zevia sedang berdiri dan alhasil mata keduanya beradu pandang.


"Ta..." Jantung zevia berdegup kencang.


Namun zevia tak melanjutkan ucapannya ia mengatupkan kembali mulutnya dan berniat pergi sebelum calta menyadari keberadaanya namun tiba-tiba tanu berjalan begitu saja mengabaikan calta yang sedang berbincang dengannya.

__ADS_1


Calta menghentikan ucapannya dan memperhatikan kemana tanu pergi dan disana ia melihat punggung zevia sudah menjauh dengan tanu yang terus mengikutinya dan mencoba berbincang dengan zevia... Calta tersenyum kecut dan kembali duduk ditaman dengan perasaan yang ia sendiri tak bisa ia pahami.


"Ck, calta kau berbincang itu ini bagaikan burung beo yang bodoh mengharapkan pujian dari majikannya dan sedangkan ia hanya dengan melihat wajah kak zee mulutnya tak bisa berhenti berucap seolah ia menemukan dunianya" Ucap calta miris.


Tanu terus mengikuti langkah kaki zevia dan mencoba menjelaskan bahwa tujuannya kemari adalah bertemu dengan zevia dan meminta maaf atas kejadian kemarin ia merasa bersalah karena seolah terlalu ikut campur dalam masalah zevia tapi ia malah bertemu dengan Calta dan mengetahui bahwa zevia belum bangun maka untuk menunggu zevia bangun ia mengisi waktu dengan berbincang dengan calta.


Namun zevia seolah tak peduli dengan ucapan tanu dan terus mengabaikannya tapi lelaki muda itu tak kehabisan akal ia berjalan mendahului zevia dan menghalang jalannya sehingga langkah kaki zevia terhenti.


"Minggir" Ucap zevia acuh.


"Dengarkan dulu penjelasan ku aku bisa jelaskan" Tanu mencoba menyakinkan zevia.


"Minggir"


"Aku minta maaf, maafkan aku aku berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi" Tanu menangkupkan kedua telapak tangannya memohon namun zevia tetap zevia ia tidak pernah tertarik dengan semua yang tanu ucapkan.


"Pergi dari sini.." zevia melanjutkan langkahnya namun tanu kembali menghalangi jalannya dan ia menyentuh tangan zevia sehingga membuat zevia menjadi murka dengan satu hentakan zevia melepaskan genggaman tangannya dari tangan tanu.


"Jelaskan apa, aku tidak peduli dengan semua cerita mu, aku tidak peduli dengan semua kisah konyol mu pergi dan jangan pernah menganggu ku... Baik sampai kan terima kasih kepada ibumu karena telah merawatku saat itu tapi ketahuilah Tanu bahwa aku tidak pernah memiliki hutang apapun dengan mu dan sebaliknya kamu ... Pergi lah sebelum kesabaran ku habis dan kau akan tau siapa aku.."


Bentak zevia dengan keras sehingga membuat semuanya terdiam termasuk tanu.


"Berhenti mencari tahu tentang ku dan jangan pernah ikut campur dengan urusan ku aku muak dengan semua ini"


Kini zevia benar-benar tidak bisa bersabar lagi yang ada hanya luapan emosi dan tatapan matanya menggambarkan betapa ia begitu membara.


Tanu terdiam mendengar ucapan zevia namun ia dapat melihat sisi lain saat ini bukan amarah melainkan rasa sakit yang zevia luapkan sebagai amarahnya dan tanu semakin yakin dengan yang ia lihat bahwa ada suatu hal yang membuat zevia begini.


"Bersambung,, next episode"


Halooo Baru Up setelah semua yang terjadi Author dengan bangga mempersembahkan episode ini :) Yaa walaupun begitu lahh namun ini karya murni bukan jiplakan hihihi meskipun judulnya banyak sama tapi jalan ceritanya berbeza :)


Happy reading yaa MC Lover's salam sehat.. Terima kasih untuk like, dukungan ⭐5 nya dan ditunggu masukannya :)

__ADS_1


__ADS_2