
Halo... Terima kasih masih setia membaca novel antah berantah ini.. Author sangat menghargai setiap like dan komentar serta kehadiran anda dalam membaca novel ini.. ๐ฅฐ
Happy Reading's
***
Setelah semua urusan selesai dan kondisi calta mulai stabil mereka pun pulang dari klinik suasana didalam mobil benar-benar hening dan tidak nyaman calta duduk dibelakang ia hanya menundukkan kepalanya sembari memainkan kukunya sedangkan zevia ia memijit keningnya pelan dan tanu meskipun pikirannya kacau ia harus tetap fokus menyetir
"Kak antarkan aku kerumah saja" Cicit calta tapi zevia dan tanu tidak merespon keduanya diam membuat calta merasa sedih ia menghapus air matanya pelan sembari terus memainkan jarinya
"Vie.. Zevia"
"Hem" Balas zevia pelan tanpa menoleh menatap tanu
"Kita kemana" Tanya tanu pelan, zevia akhirnya menoleh menatap tanu dengan pandangan kesal
"Kerumah lah, mau kemana ke rumah ayah dan ibu lalu mengatakan kepada mereka kalau calta hamil.. Tidak semudah itu tanu kondisi sedang tidak baik, ibu sarah masih terpukul dengan kepergian coel.. Ayah dan mommy juga tidak akan bisa berpikir jernih dalam kondisi ini" Balas zevia dengan menaikan intonasi suaranya sehingga terdengar seperti sedang membentak
"Aku hanya bertanya sayang" Bisik tanu pelan
"Sorry aku tidak bermaksud membentak mu kepalaku sedang pening" Jawab zevia pelan sedangkan calta ia semakin takut mendengar ucapan zevia yang dikatakan zevia benar ia tidak bisa pulang ke rumah kini ia benar-benar hanya bisa mengharapkan zevia dan tanu saja.l
Setibanya dirumah zevia, calta dan tanu duduk berhadapan diruang keluarga zevia berseloroh di sofa menyandarkan tubuhnya, tanu duduk didekat kaki zevia dan calta ia duduk sendiri sembari terus tertunduk diam
"Kak bagaimana ini" ucap calta setelah sekian lama mereka saling bungkam sembari melirik kearah zevia, zevia menoleh mendengar calta bersuara ia bangkit dari rebahnya dan duduk kini ia dan calta diposisi berhadapan zevia menarik nafasnya panjang, aku tidak bisa terus menyalahkan dan menyudutkan calta begini" Monolog batin zevia
"Apa ku gugurkan saja" Ucap calta telak membuat tanu dan zevia tersentak kaget
"GILA KAU" Bentak tanu dan zevia bersamaan dengan mata melotot dan marah menatap calta, calta semakin takut ia duduk dan bersimpuh di kaki zevia dan mulai menangis
"Aku tidak tahu harus apa kak, aku takut jika ayah dan mommy tahu aku tidak tahu bagaimana mereka akan menanggapi ku aku sungguh takut kak..." Isak calta
__ADS_1
"Gila memang kamu bukan'- bukan hanya kamu tapi kami juga akan ikut gila jika kamu mengugurkan janin itu ia tidak bersalah calta, sejak awal seharusnya kamu dan coel berpikir panjang sebelum melakukan itu jangan hanya memikirkan perasaan cinta saja.. Logika harus berjalan juga cinta, cinta cinta persetan dengan semua cinta itu logika mu menjadi buntu karena cinta mu itu" Bentak zevia marah
"Sayang jangan membentaknya terus, ini bukan hanya kesalahannya" Bisik tanu tak tega melihat calta seperti itu
"Aku pusing, apa yang bisa kulakukan dia saja saat ini tidak memiliki pekerjaan, kuliahnya saja belum tamat bagaimana dia bisa mencari pekerjaan.. ia bahkan belum bisa menafkahi dirinya sendiri sekarang ia harus menafkahi anaknya juga" Kesal zevia
"Ma'afkan aku kak.. aku minta maaf" Calta terus bersimpuh dikaki zevia sembari menangis sesenggukan
"Bangunlah calta jangan seperti ini.." Tanu membawa calta bangun dan duduk ia merasa iba dengan calta dengan kondisi seperti itu tapi semua yang zevia katakan itu benar adanya
"Oke.. Oke begini saja kamu akan tinggal bersama ku, semua biaya kuliah dan kehamilanmu aku yang akan mengurusnya.. Kamu tetap lah lanjutkan kuliah mu gapai lah semua cita-cita mu itu tapi sedapat mungkin kamu harus menyembunyikan kehamilanmu dari siapapun.." Ucap zevia setelah sekian lama ia berpikir keras
"Dari orang tua kita juga" Tanya tanu sembari menatap zevia heran mendengar keputusannya
"Iya.." Balas zevia singkat
"Lalu bagaimana kalau anak itu lahir, apakah tidak akan menjadi pertanyaan datang dari mana anak itu" Tanya tanu lagi, zevia menatap wajah suaminya betul juga yang dikatakan tanu bagaimana jika anak itu lahir apa yang harus kami lakukan" Ucap batin zevia ia tidak berpikir sejauh itu
"Kak.." Calta menatap zevia
"Jika kakak mau anak ini boleh menjadi anak kakak.. Aku akan merelakannya memanggilmu dan kak tanu ayah dan ibu tidak mengapa kak asalkan aku masih bisa melihatnya aku ikhlas.. Betul kak aku dan coel memang salah tapi dia (Calta mengusap perut ratanya) dia tidak tahu akan kesalahan ini dia hadir karena cinta dan perbuatan kami.. Kalian benar aku tidak bisa membesarkan anak ini sendiri tapi aku juga tidak bisa memberikannya kepada orang lain, dia adalah satu-satunya kenangan nyata yang coel tinggalkan untukku aku akan menjaganya kak" Ucap calta panjang lebar dengan sesenggukan sembari menatap zevia
Zevia memalingkan wajahnya dari tatapan calta yang memilukan dengan pelan ia menghapus air matanya tanu mengusap punggung zevia menenangkan, setelah berpikir keras zevia kembali menatap calta dan calta juga masih menatapnya dengan matanya yang sembab dan basah
"Baiklah.. Aku dan tanu akan merawat anak itu dan dia juga akan tetap memanggilmu ibu tapi.." Zevia menatap calta sedih
"Tapi apa kak.." Ucap calta serius
"Tidak.. Tidak jadi" Zevia mengurungkan niatnya setelah berpikir panjang anak itu adalah milik calta ia tidak bisa mengambil hak itu dari adiknya bagaimanapun kelak anak itu akan tahu jika calta adalah ibunya jadi.. zevia memutuskan ia dan tanu akan merawat anak itu tetapi calta tetap menjadi ibunya kandungnya sampai kapanpun dan calta berhak mengambil anak itu kapan saja ia mau urusan beribu pertanyaan dan cemoohan yang akan datang itu urusan belakangan toh waktu akan terus berjalan mereka juga akan terus melanjutkan hidup, begitu juga dengan calta
Zevia mendekat kearah calta semarah apapun ia kepada sang adik, zevia tidak bisa menyembunyikan rasa pilu hatinya dengan nasib calta yang menjadi seperti ini, zevia mengalahkan egonya ia mendekat dan memeluknya dengan erat... Calta pilu mendapat pelukan dari zevia ia merasa hatinya menjadi lega setidaknya masih ada zevia yang akan selalu mendukungnya meskipun ia tahu kesalahannya sangatlah fatal.
__ADS_1
"Terima kasih kak" Isak calta
"Maafkan aku.. Aku terlalu emosi, aku tidak bisa berpikir jernih,, maafkan aku" Ucap zevia sembari terisak juga ia masih memeluk calta dengan erat
"Kak apa yang kamu katakan semuanya benar.. Aku beruntung memilikimu kak" Jawab calta dengan suara sesenggukan... Tanu tersenyum lega setidaknya hubungan kakak beradik itu bisa kembali membaik meskipun kondisi yang tidak baik
Tanu tersenyum puas dengan semua sifat dewasa zevia, ia merasa beruntung memiliki wanita itu menjadi istrinya.. Meskipun zevia tidak bersifat lemah lembut seperti calta tapi zevia bersikap sangat dewasa itulah perbedaan keduanya.
"Maafkan aku tadi aku membentak mu" Zevia menghampiri tanu dan memeluknya pelan
"Tidak apa aku mengerti apa yang sedang kalian rasakan.. tapi syukurlah sekarang kita menemukan jalan keluarnya" Ucap Tanu sembari mengusap kepala zevia didalam pelukannya
"Ehem.. maaf kak aku masih disini" Bisik calta membuat keduanya menjadi salah tingkah
"Aku bercanda kak kalian lanjutkan lah.. aku akan ke kamar" Ucap calta dengan senyum kecil diwajahnya
"Calta.." Zevia menatap calta memohon mewanti-wanti kalau adiknya itu bersikap nekat lagi
"Tidak kak, sekarang aku akan menjaga diri dengan baik" Ucapnya pelan meyakinkan zevia
"Hem.. Baiklah aku percaya" balas zevia pelan, calta tersenyum kecil dan melangkah naik dengan pelan sekali sembari memperhatikan setiap langkah kakinya dan memegang pelan perut ratanya seakan-akan tidak ingin janinnya tersakiti lagi.
Tanu dan Zevia menatap calta nanar sejujurnya keduanya sangat iba dengannya tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mendukung setiap langkah calta dan tidak membiarkan merasa sendiri
"Your best my wife" Bisik tanu membuat zevia tersipu malu
"Really" Balas zevia pelan
"Hem.. I love you" Bisik tanu di telinganya
"I love you tu" Balas zevia cepat membuat tanu terdiam melotot tak percaya akan apa yang ia dengarkan tadi
__ADS_1
"apa.." Tanu menatap zevia memastikan lagi
"I love u" Bisik zevia sembari menatap mata tanu tajam membuat keduanya sama-sama tersipu malu, zevia melepaskan pelukannya dan berjalan sedikit berlari menuju kamar mereka tanu tersenyum lebar saat zevia pergi, ia dengan cepat mengikuti langkah Zevia dengan senyum penuh arti diwajahnya ๐