MAFIA CANTIK

MAFIA CANTIK
NS.2/Cp.5


__ADS_3

"Sial.. Kenapa aku jadi begini"


Zevia menyadarkan tubuhnya di sofa ruang istirahat nya.


"Seharusnya aku tidak menemuimu" Ia tak kuasa menahan air matanya.


"Zevia tolong.. ini bukan diri kamu yang sebenarnya.. Zevia cinta hanya akan membuatmu sengsara.. sadar lah sadar."


"Tapi.. Aku mencintainya" Zevia dengan kesal mengacak-acak rambut pendeknya saat tengah menerawang masa lalu ponsel miliknya tiba-tiba berdering.


"Iya.."


"Baik saya akan kesana"


Tidak tahu menerima telpon dari siapa Zevia langsung bersiap-siap mengganti pakaiannya dengan celana jeans hitam, baju kaos hitam serta jaket kulit berwarna hitam dengan sepatu docmart nya ia melenggang keluar dari mobil mewah memasuki sebuah bangunan gedung tua yang nampak cukup terawat


"Bos" Sapa seorang lelaki dengan perawakan tubuh tinggi, kekar dengan brewok menghiasi wajahnya membuatnya terlihat sangat sangar.


"Mana dia"


"Mari" Ajak lelaki tersebut membawa Zevia memasuki sebuah ruangan didalam ruangan tersebut kira-kira ada 10'an orang dengan pakaian formal serba hitam.


Zevia melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya sembari terus mengamati seseorang yang sedang diikat dengan wajah babak belur.


"Bowo"


"Yaa Bos"


"Apa saja info yang kamu dapatkan" Zevia menarik kursi dan duduk menghadap lelaki tersebut dengan menyilangkan kaki dan tangan didepan dadanya.


"Vino, 23 Tahun Alamat Jalan kerinci jakarta pusat No.05 RT.12 RW.2 Mahasiswa semester 1 universitas Gunadarma lahir dari pasangan Ny.Mirna dan Tn.Dodo anak ke 5 dari 6 bersaudara, hidup merantau dijakarta baru 1 tahun jauh dari orang tua yang saat ini berada di jambi tempat asalnya.. Diamankan pukul 5 pagi tadi saat sedang siap-siap pergi menuju kampung halaman motif memata-matai rumah keluarga Albert masih belum diketahui.. Sekian Bos" Lelaki yang bernama Bowo tersebut menunduk enggan menatap wajah Zevia.


"Siapa yang dia" Zevia menatap tajam lelaki muda tersebut dengan senyum kecil di bibirnya namun senyum yang begitu mengerikan.


"Sepertinya kamu masih amatiran.. apa ini tugas pertamamu" Zevia menggerakkan tangannya meminta semua anak buah nya keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Kini tinggal mereka berdua sendiri didalam ruangan tersebut dengan pintu terkunci sesuai dengan perintahnya, Zevia melepaskan ikatan Vino dan melepaskan juga rantai kakinya Zevia kembali duduk di kursinya sembari mengamati Vino yang nampak kesakitan.


"Ck, mereka memang keterlaluan sih bersikap terlalu kasar dengan mu.. Apa tadi kamu bersikap tidak kooperatif sampai-sampai bibir dan hidung mu patah seperti itu"


"Hemm tapi jika tadi aku yang menangkap mu kita pasti akan bermain-main dahulu" Zevia tersenyum kembali sembari menatap remeh Vino


"Brengsek.." lelaki tersebut menyerang Zevia dengan tiba-tiba namun dengan sekali tendang saja Zevia berhasil membuat kaki kiri nya patah teriakan kesakitan Vino menggema diruangan itu.


"Syyuutttt hentikan teriakan mu atau mereka akan mendengarkannya" Zevia menghampiri Vino dan mengusap pipi lelaki muda tersebut.


"Bagaimana jika kita tidak bermain kasar.. Kau katakan saja siapa yang memberikan perintah kepadamu"


"Tidak akan cuihh" Dengan kasar ia menolak


"Hemmm apakah keluarga mu tahu jika kamu disini menjadi bayaran untuk memata-matai orang lain, bagaimana yaa jika aku...." Zevia menggantung ucapannya seolah-olah membuat Vino mengerti apa maksud dari ucapan nya itu


"Jangan.. Jangan apa-apa kan mereka" Vino yang tadinya bersikap arogan dan keras kepala saat mendengarkan sarkas Zevia ia langsung kicep.


"Aku.. Aku melakukan semuanya karena membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibuku tolong jangan sakiti mereka anda boleh membunuh saya tapi saya mohon jangan sakiti keluarga saya" Mohon Vino dengan air mata yang kini sudah berderai


"Vino..vino kamu benar-benar sangat polos ternyata kamu tahu didunia ini tidak ada yang bisa kamu dapatkan dengan mudah, membunuhmu adalah hal yang mudah aku tidak perlu mengotori tanganku jika sejak awal aku ingin membunuhmu aku hanya ingin tahu dia siapa" Zevia berjongkok dihadapan Vino sembari membantunya kembali duduk di kursinya


"Jangan.. jika aku mengatakan siapa yang memerintahkan ku maka keluargaku saat ini juga akan dibantai" Ucap Vino dengan suara bergetar.


"Baiklah sepertinya kamu tidak bisa diajak berkerja sama.. Bowo"


Bowo masuk kembali ke ruangan tersebut seorang diri menghadap Zevia.


"Amankan dia tapi jangan kau bunuh kita masih memerlukan info dari nya dan kirimkan juga beberapa orang ketempat ini awasi mereka jangan sampai kita kecolongan kembali jika terjadi apa-apa lagi dengan keluarga ku maka ku pastikan aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri" Zevia menepuk pundak kekar lelaki kepercayaannya selama 4 tahun terakhir ini.


"Baik bos" Bowo mengangguk mengerti baginya Zevia adalah seorang yang sangat berarti dalam hidupnya setelah semua kebaikan Zevia kepadanya, Bowo memilih membalas kebaikan wanita itu dengan memberikan semua hidupnya untuk mengabdi kepada keluarga Albert.


(Nanti kita jelaskan bagaimana awal zevia mengenal bowo).


Zevia keluar dari ruangan tersebut semua anak buah yang ada disitu menundukkan kepala saat Zevia melewati mereka namun langkah kaki Zevia terhenti saat melihat seorang yang tidak pernah ia lihat dan wajah asing baginya.

__ADS_1


"Siapa namamu" Zevia menghampiri lelaki belia tersebut.


"Aldo nama saya Aldo bos"


"Siapa yang membawanya kemari" Zevia menatap mengitari semua yang ada ditempat itu.


"Bang Bowo Bos" Seseorang dengan memberanikan diri menjawabnya


"Bowoooo.."


"Apa-apaan ini" Zevia menghampiri Bowo dan menatapnya tajam.


"Maaf bos tapi.." Zevia memberikan isyarat untuknya tidak mencela ucapannya.


"Berapa umurmu" Zevia kembali lagi menghampiri anak tersebut.


"15 tahun bos" Jawab Aldo dengan suara serak bergetar.


"Bowo apa telingamu dan otak mu sudah tidak bisa digunakan lagi.." Bentak Zevia membuat semua orang ditempat itu terdiam.


"Maafkan saya bos, saya menemukannya tergeletak dijalanan dengan kondisi yang tidak baik, ia sebatang kara anak yatim piatu tidak memiliki rumah keluarga jadi saya pikir saya membawanya pergi dan memberikannya tempat tinggal" Jelas Bowo dengan terus menunduk.


"Lalu diusianya seperti itu apakah pantas ia bekerja seperti ini berurusan dengan kekerasan, nyawanya bisa saja melayang keterlaluan kamu.."


"Bos tolong jangan usir saya.. saya siap bekerja apa saja asal jangan kembalikan saya ke jalanan" Aldo berlutut memohon di kaki Zevia, Bowo yang melihat hal tersebut langsung menghampiri Aldo dan membawanya berdiri sebab Bowo tahu Zevia paling tidak suka orang berlutut dihadapannya sekalipun itu musuhnya sebab misinya untuk membuat satu orang saja berlutut dihadapannya sudah selesai dan orang itu ialah Sentoso dan kini ia tidak ingin lagi membuat orang-orang berlutut dihadapannya untuk memohon.


"Bowo saya tidak mau tahu pokoknya jika saya kembali ketempat ini dan anak ini masih ada disini maka kamu yang akan menanggung semuanya" Zevia melenggang pergi meninggalkan tempat itu.


"Bang jangan kembalikan aku ke jalanan bang" Aldo kini mulai menitikkan air mata tidak sanggup jika mengingat penderitaan nya dijalanan ia selalu dipukul, disiksa, dijadikan budak jalanan semuanya pernah ia alami.


"Aldo cukup jangan menangis saya tidak suka melihat lelaki menangis kamu harus kuat menangis tidak akan memberikan mu hidup yang nyaman.. Siapa yang bilang kamu akan dikembalikan dijalanan" Bowo membawa Aldo pergi.


"Terus kita kemana bang" Khawatir nya.


"Kamu akan sekolah dan mendapatkan hidup layaknya anak-anak di usiamu saat ini" Jelas Bowo dengan sabar

__ADS_1


"Tapi.."


"Aldo cukup jangan banyak tanya.. Kami akan memberikan yang terbaik untukmu semua orang yang bekerja sama dengan Bos Zevia semua memiliki hidup yang sejahtera namun dengan catatan tidak ada penghianatan dan sandiwara jika sampai ketahuan melakukan 2 hal tersebut maka akan dipastikan hidupmu tidak akan tenang seumur hidupmu sampai-sampai kamu menginginkan kematian yang menghampirimu" Jelas Bowo panjang lebar kepada Aldo berharap anak tersebut bisa mengerti dengan baik.


__ADS_2