
"Jadi.... ?"
Paman Black menggantungkan ucapannya dihadapan Zevia yang sedang tertunduk diam.
"Apa kamu setuju" Ucap paman Black dengan masih menatap gadis muda itu.
"Tapi kenapa harus begitu" Zevia akhirnya mendongak menatap pamannya itu.
Paman Balck menaikan sebelah alisnya dan menatap Zevia dengan curiga.
"Kenapa tidak, jangan katakan bahwa kamu mulai terpengaruh ucapan lelaki itu, Zevia langsung buru-buru menggeleng kan kepalanya dan kembali menatap pamannya itu dengan tatapan memohon.
1 jam yang lalu
"Jadi begitu ceritanya" Ucap Zevia dengan pelan ia memilih menceritakan semua kepada paman Black.
"Jadi... Selama ini ia mata-mata dari Sentoso" Ucap lelaki itu dengan penuh amarah.
"Bu..Bukan paman" balas Zevia
"Apa lagi Zevia, Ia anaknya Sentoso tentu dia adalah bagian musuh kita yang berhubungan dengan Sentoso harus kita musnahkan juga" paman Black mengambil pemantik dan menyulut putung rokoknya.
"Tapi Tanu tidak pernah ikut ambil andil dalam masalah itu paman" ucap Zevia kembali menyakinkan pamannya itu.
"Apapun alasannya kita harus memanfaatkan Tanu untuk membalas semua perbuatan Sentoso setelah berhasil membalaskan dendam mu kita akan membunuhnya juga sebab di dalam darahnya mengalir darah Sentoso" Ucap paman Black sembari mematikan putung rokoknya yang telah habis ia hisap.
Zevia sudah kembali kedalam kamarnya hatinya tiba-tiba terasa gelisah mengingat semua ucapan pamannya bagaimana ia bisa menyimpulkan bahwa Tanu adalah mata-mata Sentoso sedangkan kemarin ia melihat dengan jelas tatapan mata lelaki itu menunjukan begitu dalam kebenciannya terhadap Sentoso.
"Tidak.. Aku tidak boleh terpengaruh apa yang dikatakan paman itu semua benar... Ayo Zevia ingat Mommy ingat semua yang terjadi kepada Ayah dan jangan pernah melupakan semuanya" Ucap Zevia sembari mengacak-acak rambutnya prustasi.
"Katakan dimana anak itu" Bentak Sentoso kepada seorang wanita.
"Aku tidak tahu mas" Jawab wanita itu dengan lemas.
Zzzrrrtttt.... Kembali terdengar teriakan pilu kesakitan di bilik sebelah dan membuat Maya memejamkan matanya betapa tersiksanya wanita itu.
__ADS_1
"apa hubungannya dengan Sentoso sehingga lelaki biadab itu harus menyekap dan menyiksanya lalu siapa yang ia sebut anak itu" Batin Maya kini sedang berdebat.
Namun tiba-tiba satu kalimat yang berhasil membuat Maya tercengang, "Katakan Sarah Berza biadab kau katakan dimana Tanu"
"Sa-sarah apa dia.. " Maya kembali mengingat dimana ia pernah mendengar nama Sarah Berza namun ia kembali mengingat masa 23 Tahun silam dimana ia pernah mendengar berita bahwa Sentoso sudah menikah dengan seorang janda bernama Sarah Berza anak seorang saudagar kaya di kota Malang namun berita itu hanya seperti kabar burung dan kemudian tidak pernah terdengar lagi.
"Sayang..." Suara lembut Sentoso membuat Maya membuyarkan ingatannya.
"apa yang sedang kamu pikirkan sampai-sampai wajahmu begitu tegang"
Pantang bagi Maya untuk menjawab ucapan lelaki itu bahkan menatapnya saja ia tak sudi.
"Ayolah Maya sampai kapan kamu begini, Ayo dong move on kamu sudah tidak memiliki siapa-siapa didunia ini, Albert sudah meninggal kan mu terlebih dahulu kemudian Putri kecilmu Kayla juga pergi menyusul ayahnya sekarang yang kamu punya hanya aku sayang, Sentoso seorang"
Sentoso mendekati Maya dan mencoba menyentuh wanita itu.
"Sekali saja tangan kotor mu menyentuhku maka akan ku pastikan kamu tidak akan pernah melihatku didunia ini lagi" Balas Maya dengan tegas.
Sentoso memundurkan langkahnya dan menarik kembali tangannya yang mencoba menyentuh lengan Maya, lelaki itu hanya tersenyum manis berbanding terbalik dengan sifatnya terhadap Sarah.
"Baiklah.. Aku akan terus menunggu sayang" Ucapnya dengan lembut dan manis.
"Apa yang sudah terjadi.. Kenapa karena aku kamu melakukan semua dosa ini" Isak maya namun ia dengan cepat menghapus air matanya saat gadis muda masuk ke dalam ruangan nya membawa nampan berisi makanan dan obat-obatan"
"Nyonya mari dimakan sarapannya" Ucap gadis itu dengan lembut dan tersenyum menatap Maya.
"Si..Siapa kamu" Maya menatapnya dengan seksama, menyadari Maya merasa asing dengannya gadis muda itu kemudian memperkenalkan diri.
"Saya Dara nyonya, anaknya Mbok Em" Jawabnya pelan.
"hm."
Kemudian gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya membantu membersihkan Maya, ia hanya diam namun dengan telaten mengusap lengan dan kaki Maya dengan handuk basah.
"berapa usiamu" Maya mencoba memulai pembicaraan.
__ADS_1
"20 Tahun nyonya" Jawabnya pelan.
"kamu ternyata seumuran dengan Kayla"
Dara mendongak menatap Maya sepertinya ia tidak tahu siapa Kayla dan ia hanya bisa mengangguk setuju.
"Kayla anakku, mungkin jika ia ada disini ia akan seperti kamu cantik dan baik" Kini Maya mulai tersenyum menatap Dara, seketika Dara terkesima melihat senyuman Maya yang begitu manis sekali meskipun kini ia terlihat sangat kurus namun wajah cantiknya tetap tidak berubah Mata Bulat berbinar, Bulu mata yang lentik dan Hidung mancung idaman semua wanita.
"pantas saja tuan Sentoso menggilai wanita ini, ia sangat cantik" Kagum Dara berbicara sendiri.
"Kenapa..." Maya mencoba memperjelas ucapan dara yang tidak jelas ia dengar.
"Ahh, tidak nyonya bukan apa-apa"
Semenjak 16 terpisah dari putrinya Kalya yang kini mengganti nama menjadi Zevia membuat Maya selalu membayangkan betapa cantik dan manis putrinya itu 16 tahun bukan hal yang singkat ia khawatir bagaimana putrinya itu hidup dalam ketakutan apakah putrinya itu menjadi seperti apa ia berharap putri kecilnya itu menjadi seperti apa yang ia harapkan.
Di negara nan jauh disana ia juga merindukan sang Ibu, semenjak mengetahui kebenaran bahwa separuh jiwanya itu masih hidup membuat nya semakin bersemangat untuk menemuinya.
16 Tahun bukanlah hal yang mudah mengingat 16 tahun lalu juga ia datang ke negara ini dengan keadaan kacau hanya dengan membawa modal kenekatan mereka pergi beruntung saat itu ia memiliki paman Zoy yang sangat menyayanginya seperti layaknya anaknya sendiri kasih sayang yang ia berikan sama layaknya ia menyayangi Qleo putrinya yang juga adalah Calta mereka semua harus mengganti indentitas mereka bahkan Zevia juga harus memakai nama Zoy untuk nama belakangnya.
"Sudah siap"
Paman Black tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Zevia, lelaki paruh baya itu menghampiri Zevia yang terlihat termenung dengan menatap nanar seluruh isi kamarnya itu.
"Hm" Jawaban Zevia terdengar ragu.
"Sayang, jika kamu tidak siap sekarang kita akan menundanya beberapa tahun lagi" Yakin paman Black karena melihat mimik wajah Zevia tidak dapat ia teka.
"Bukan begitu paman, aku sangat excited untuk berangkat hanya saja sebelum pergi boleh kita ke makam ayah Zoy" Ucap Zevia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tentu saja, paman juga berencana ke sana" Setuju Paman Black.
Mereka pergi menuju makam di kota itu namun Calta terlihat sangat sedih, Zevia tahu begitu sulit adiknya itu menjalani kehidupan semenjak Zoy meninggal dunia dibalik semua keceriaan nya Zevia tahu Adiknya itu menyimpan sejuta luka yang tidak tahu entah kapan akan sembuh sama seperti luka hatinya juga.
"Wajahmu jelek jika kamu tidak tersenyum" Ucap Zevia menatap wajah Calta yang begitu murung.
__ADS_1
"Sudahlah kak jangan menghiburku, aku tahu kamu juga sedang sedih" Balas Calta kesal karena bisa-bisanya kakaknya itu membully nya dalam keadaan begini.
"Ah tidak aku justru senang karena kita akan bertemu ayah" Ucapnya dengan tenang kemudian ia meraih punggung Calta dan membawanya kedalam pelukannya kini tangis gadis itu pecah didalam pelukan sang kakak tangis yang begitu menyayat hati, Zevia mengusap air disudut matanya meskipun ia tidak pernah mengatakan ia menyayangi Calta namun semua tahu bahwa ia begitu menyayangi adiknya Calta meski dibalik sikap dinginnya Zevia memiliki hati yang begitu lembut terlebih kepada orang-orang yang ia sayangi.