
Maha pun masuk ke asrama dan mengecek Jeevan yang saat itu teriak-teriak. Setelah melihat Jeevan, ia langsung menepuk pundaknya dari belakang. Dan Jeevan nampak kaget saat di tepuk pundaknya.
"Ada apa?" Ucap Maha.
"Huu~ kukira kabur kamu."
"Lah? Besok sudah masuk akademi, lalu kira-kira apa yang akan membuatku kabur?"
"Ya kan bisa jadi."
Maha lalu memegang dahinya sendiri dan geleng-geleng kepala. Dan saat itu juga, Maha menyadari sesuatu. Dengan ekspresi kaget Maha, membuat Jeevan bertanya padanya.
"Apa? Kamu kenapa Maha?"
"Je, jangan bilang kamu ini tidak punya teman sama sekali ya?"
"Ha? Kok gitu?" Jeevan kaget, seakan mau membantah ucapan Maha.
"Mari kita bedah Je, saat pertama kita bertemu, tiba-tiba kamu berada di belakangku dengan suara agak tegang, saat aku suruh kamu menghindar dari hadapanku saat itu, kamu langsung minggir, dengan senyum seolah ketakutan. Kemarin, saat ke perpustakaan, aku melihat ada beberapa orang yang dari Gereja Suci sepertimu, tapi mereka seolah tidak mengenalmu. Dan sekarang, seolah kamu tidak ingin aku menghilang kan? Ada pembelaan darimu?" Jelas Maha.
__ADS_1
"Oh baiklah, Maha aku tidak pernah memiliki teman, aku hanya sekedar kenal dengan orang yang kutemui. Tapi, aku berusaha memiliki teman. Saat di Gereja Suci, identitasku terungkap, dan teman-teman menjauhiku karena mereka bilang kalau aku beda tingkat dengan mereka. Aku anak bangsawan, dan mereka rakyat biasa, dan itulah yang menjadi pembatas sosial kami."
"Oh baik aku mengerti." Jawab singkat Maha, lalu meninggalkan Jeevan, Ia pun kembali ke luar asrama untuk melanjutkan rutinitasnya.
Disini Jeevan merasa kalau Maha tidak membedakan status sosial yang mereka miliki saat ini, makanya Jeevan ingin terus berteman dengan Maha.
Jeevan menyusul Maha yang berada di luar asrama, saat Jeevan berdiri di belakang Maha, tiba-tiba Maha berucap seolah tahu kehadiran Jeevan dibelakangnya.
"Je, aku diberikan wejangan oleh ayahku untuk membenahi kerajaan ini nantinya. Meski aku tidak akan bisa menjadi pemimpin di kerajaan ini, setidaknya aku akan mewujudkan wejangan ayahku ini."
Jeevan yang mendengar itu, bertanya-tanya, apa yang sebenarnya mau diucapkan oleh Maha.
"Aku ingin mengubah pola pikir semua orang yang ada di kerajaan ini Je. Tapi aku tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk itu, aku akan sangat berterimakasih bila kamu mau membantuku." Sambung Maha.
"Tentu, aku akan membantumu, bila itu untuk kepentingan kerajaan."
Lalu Maha balik badan menghadap ke arah Jeevan, dengan tatapan Maha yang bengis, yang mana tatapan bengis ini yang akan menjadi inti cerita ini.
"Baiklah Je, waktunya menghancurkan dunia yang sudah tua ini."
__ADS_1
Jeevan pun, mengiyakan ucapan Maha, walaupun tatapan bengis Maha ini adalah kali pertama Ia melihatnya.
Setelah itu, seharian sebelum masuk pembelajaran akademi itu, mereka habiskan waktu di perpustakaan sama seperti hari sebelumnya.
Singkat cerita. Hari esok pun tiba, hari dimana Maha dan Jeevan masuk ke hari pertama pembelajaran di Akademi Kerajaan.
Jeevan yang sudah siap berangkat, kini sedang menunggu Maha yang sedang ganti pakaian, didepan kamar Maha Ia menunggu lama. Akhirnya Maha pun keluar dari kamarnya.
"Oi Maha! Jelaskan padaku, pakaian apa yang kamu pakai ini?" Tanya Jeevan yang saat itu kaget dengan pakaian Maha.
Maha memakai pakaian serba hitam dari topi jubah sampai celana dan sepatu, sedangkan Jeevan yang rapi memakai jas saat itu. Memang di Akademi Kerajaan pakaian itu bebas, dan tidak dibatasi oleh seragam.
"Memangnya kenapa?" Tanya Maha.
"Kesan pertama itu penting." Jawab Jeevan.
"Tidak, aku sekolah di akademi untuk membangun diriku sendiri, bukan membangun tanggapan orang lain. Aku akan memakai apapun yang membuatku nyaman."
Setelah Jeevan mendengar ungkapan Maha itu, akhirnya Ia mengalah dengan Maha dan mengajak Maha untuk segera berangkat.
__ADS_1
Singkat Cerita, kini mereka mulai memasuki area akademi, dan dari jalanan sudah terlihat para pelajar yang sedang latihan, mulai dari latihan memanah sampai latihan berpedang.
Banyak hal baru yang Maha lihat dan ini membuat Maha bersemangat.