
"Kenapa aku berhak mendapat pujian darimu, Maha? Aku bahkan tidak melakukan hal yang luar biasa." Kanna heran.
Di sisi lain, Richard dan Reha mengawasi daerah sekitar mereka, karena ditakutkan assassin itu masih berada di sekitar mereka.
"Tidak perlu aku jelaskan padamu, Kanna." Jawab Maha pada Kanna.
"Richard, apakah assassin itu dari ras manusia, atau dari ras lain?" Sambung Maha bertanya pada Richard yang sedang waspada.
"Dari jenis sihirnya, kurasa bukan, Tuan Muda. Dan dari bentuk tubuhnya kurasa dia seorang wanita." Jawab Richard, lalu dipukul oleh Reha.
"Apa yang kau lakukan Reha?" Tanya Richard kaget.
"Pikiranmu pasti memikirkan hal yang aneh-aneh kan? Kau sedang menjawab pertanyaan anak-anak, jangan mengotori dia." Jawab Reha sambil menunjuk pada Maha.
"Aku hanya menjawab pertanyaan dari Tuan Muda. Apa yang salah dari hal itu?"
"Kau pasti melihat tubuh assassin itu dari aset yang ia miliki kan?"
Richard lalu melirik ke tubuh Reha.
"Ya setidaknya dia lebih baik darimu." Jawab Richard dengan senyum kecil mengejek Reha.
Reha yang nampak Marah, mengeluarkan sihir api dan siap dilemparkan ke Richard. Tapi tak lama setelah itu, mereka semua mendengar ada sesuatu yang bergerak di sekitar mereka. Mereka segera waspada saat itu.
"Kurasa kalian salah memilih tempat tujuan." Terdengar suara wanita, entah darimana asalnya.
"Kurasa ini suara dari assassin yang Richard dan Reha bicarakan, dan dari lembutnya suara, aku yakin dia dari kalangan Elf."
"Mengapa salah? Kami tetap akan pergi ke hutan para Elf, dan sepertinya kau salah satu dari mereka, akan aku terima dengan senang hati bila kau menunjukkan jalannya pada kami." Ucap Maha, setelah mendengar ucapan Hain.
"Kau... Kau darimana kau tau aku dari golongan Elf?"
"Sepertinya Elf itu panik, Maha."
"Tidak perlu panik begitu, aku tidak akan berbuat jahat pada bangsa Elf. Apa kau tidak bisa melihat? Aku hanya anak kecil." Jawab Maha.
Tidak lama setelah itu, Rey dan dua Dragon sebelumnya datang ke tempat itu juga.
__ADS_1
"Hah anak kecil? Lalu apa ini? Tiga orang Dragon? Kau pikir kau anak kecil?" Tanya Elf itu makin panik.
"Rey, kenapa kau datang kemari?" Tanya Maha, kesal pada Rey.
"Tunggu... Tunggu dulu, aku tidak berniat merusak suasana ini. Aku hanya datang karena kedua rekanku ini." Jawab Rey.
"Jadi ada apa?" Tanya Maha pada dua temannya Rey.
Mereka langsung sujud di hadapan Maha, dan memohon untuk dijadikan bawahan Maha.
"Apa ini? Serendah ini kah ras Dragon?" Tanya Maha pada Hain.
"Mereka Dragon muda, Maha. Kekuatan mereka tak lebih dari para penyihir legendaris."
"Lalu apa? Apa aku harus menerima mereka?"
"Kau pikirkan tentang apa yang akan terjadi kedepannya Maha, apa kau yakin akan mengasuh mereka?"
"Baiklah, akan aku terima. Tapi kalian memiliki syarat sebelum aku berikan nama untuk kalian." Ucap Maha.
"Bisa-bisanya kau Maha."
"Tangkap assassin yang dari tadi kalian dengar, setelah mendapatkannya, aku akan memberikan nama pada kalian." Jawab Maha.
Tanpa banyak tanya lagi, kedua Dragon itu langsung hilang seperti angin yang berhembus. Dan benar saja, tak lama setelah itu, mereka kembali dengan membawa seorang assassin.
"Lho? Cepat sekali. Oi Hain, ini gak salah kan?"
"Ha~aaah... Ini belum seberapa, setelah mereka mendapatkan nama darimu, mereka akan lebih cepat dari sekedar ini."
"Baiklah, aku akan bersikap tenang."
"Cepat juga kalian. Turunkan dia." Suruh Maha pada salah seorang Dragon yang menggendongnya.
Oiya di sini, dua Dragon ini adalah lelaki dan perempuan. Jadi yang menggendong assassin itu adalah si perempuannya.
"Jadi siapa kau?" Tanya Maha pada assassin itu.
__ADS_1
"Hah... Kau pikir aku akan menjawab dengan gratis. Aku seorang assassin, setiap gerakanku pasti memiliki nilai jual." Jawabnya.
"Di sini ada, makhluk terkuat dari ras Ogre, ada manusia half Demon, ada tiga Dragon, ada manusia dengan sihir tak terbatas dan aku, calon penguasa daratan ini. Sekarang pilihlah, siapa yang akan menghajarmu." Ucap Maha dengan sombongnya.
"Kurasa tidak perlu kau jelaskan, Elf ini sudah sadar akan kekuatan kalian masing-masing, ya walaupun dia tidak bisa melihatku, seperti yang dilihat oleh para Dragon itu."
"Setidaknya aku bisa mengintimidasinya, Hain. Terlebih lagi, jumlah kita di unggulkan."
"Benar juga, aku tidak merasakan adanya hawa keberadaan Elf lain di daerah sini. Tapi tetaplah waspada, mau bagaimana pun juga mereka adalah assassin, yang pasti berkemampuan khusus dalam menyembunyikan hawa keberadaan mereka."
"Aku akan memberikan nama pada dua Dragon ini sekarang juga, Hain. Bagaimana menurutmu?"
"Ya, silahkan. Itu akan sangat membantu peristiwa ini, terlebih lagi, kau akan dapat tunggangan untuk menuju hutan Elf."
"Baiklah. Kedua Dragon, seperti yang aku janjikan, akan aku berikan nama pada kalian, sebagai rasa percayaku pada kalian." Ucap Maha pada kedua Dragon itu.
Kedua Dragon itu, langsung tunduk di hadapan Maha, dan ya selagi menunggu Maha memberi nama pada para Dragon, assassin itu berusaha kabur. Tapi, dia lupa kalau di sekitarnya ada makhluk-makhluk luar biasa. Dan ya, aksi kaburnya gagal.
"Ya karena aku memberikan nama ini di saat yang bersamaan, maka aku akan memberikan nama yang lumayan mirip untuk kalian. Ryu dan Rya, itu nama kalian." Ucap Maha.
Lalu, sama seperti peristiwa pemberian nama pada Richard, tubuh Dragon itu mengeluarkan cahaya. Yang mana, hal itu membuat kaget assassin yang sedang ditahan itu.
Setelah ritual yang Maha lakukan selesai, assassin itu langsung bertanya lagi pada Maha.
"Siapa kau?!" Tanyanya, dengan nada membentak.
"Seperti yang kubilang sebelumnya, aku adalah calon penguasa daratan ini. Apakah masih kurang jelas?" Maha membalasnya dengan muka angkuhnya.
"Ryu dan Rya, tugas pertama kalian mungkin mudah, hanya menangkap assassin ini. Tapi, tugas kalian kedepannya akan lebih berat lagi. Karena aku punya rencana yang lumayan mendebarkan." Ucap Maha pada Ryu dan Rya.
"Baik, Tuan." Jawab kompak Ryu dan Rya.
"Rey, apakah kau mau ikut dengan kami? Kalau tidak, ya sudah, bukan masalah buatku." Tanya Maha pada Rey.
"Kalian akan benar-benar pergi ke hutan Elf?" Tanya balik Rey.
"Ya tentu saja. Dan tentunya, kami tidak dengan rencana buruk datang kesana." Jawab Maha.
__ADS_1
"Kalau begitu, karena Ryu dan Rya ikut denganmu, sepertinya aku tidak harus ikut. Lembah ini harus dijaga olehku sebagai tetua terakhir yang ada di sini." Jawaban Rey.
"Baiklah, Rey. Oh ya, dan tenang saja, kalau kau rindu pada Ryu dan Rya, akan kukirim langsung mereka ketempatmu." Ucap Maha.