
Duduk di atas kasur, menuliskan apa-apa saja yang terjadi hari itu. Maha mulai tertarik terhadap ras Demon, karena sebelum ia bertemu langsung dengan ras Demon itu, yang ia ketahui adalah bahwasanya ras Demon adalah ras paling kejam.
"Maha?!" Celetuk Kanna yang masih membelakangi Maha.
"Bukankah lebih baik kamu tidur dan istirahat? Kenapa masih terjaga?" Tanya Maha membalas Kanna.
"Apakah anak-anak berusia sepuluh tahun seperti kita bisa menguasai daratan ini, seperti yang dikatakan Karin?" Tanya Kanna.
"Kalau kamu bertanya, apakah seorang Maha yang masih berusia sepuluh tahun bisa menguasai daratan, maka jawabannya adalah mungkin. Karena aku akan mengusahakan hal itu." Jawab Maha mempermainkan Kanna, dan sambil terus menulis.
"Maka lakukanlah, Maha." Ucap Kanna, membuat Maha terhenti menulis dan menengok ke arah Kanna.
"Untuk apa? Hal itu hanya akan merepotkanku." Balas Maha.
"Aku tahu itu akan merepotkanmu. Tapi kau tahu? Aku mendengar tentang banyaknya kerajaan yang tertindas di daratan ini, aku tidak ingin ada yang tertindas lagi." Jelas Kanna.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak akan menuruti keinginanmu itu, itu adalah ego, Kanna. Menguasai daratan mudah bila dengan penaklukan, tentu tidak ada kedamaian saat penaklukan." Balas Maha.
Kanna lalu balik badan dan melihat ke arah Maha, yang membuat kaget Maha adalah Kanna yang terlihat meneteskan air mata. Karena sebelum-sebelumnya Maha tidak pernah melihat Kanna menangis.
"Aku hanya ingin kedamaian, Maha." Ucap Kanna, terlihat meneteskan air matanya dan senyum tipis.
Hati Maha sedikit tergerak untuk membantu keinginan Kanna itu. Namun, terpikir oleh Maha, kalau perdamaian bukanlah hal yang bisa diraih dalam waktu yang singkat.
"Kanna, aku tidak akan melakukan hal yang sia-sia. Aku tahu akan memakan waktu yang lama, tapi akan aku wujudkan keinginanmu itu." Ucap Maha pada Kanna yang masih menangis.
Maha tidak lagi berbicara, yang akhirnya membuat Kanna tertidur. Dan saat itulah, Maha mulai merenungkan ucapan Kanna, dan Maha bertanya-tanya terhadap dirinya sendiri, kenapa bisa tergerak untuk membantu Kanna.
Dari obrolannya dengan Kanna tersebut, membuat Maha mulai berpikir untuk skala panjang. Seperti apa saja yang akan terjadi kedepannya, Maha haruslah mengetahuinya, agar tidak salah dalam memgambil resiko, dan malah menyebabkan adanya hal yang tidak diinginkan seperti adanya korban.
Singkat cerita. Esok harinya, Maha masih tertidur dengan posisi masih duduk dan seperti sedang menulis di bukunya. Kanna yang sudah bangun pun memperhatikan Maha dari kasurnya.
__ADS_1
"Andai aku tidak memiliki rasa benci di dalam diriku terhadapmu, mungkin kau tak perlu kerepotan denganku." Ucap Kanna pelan, dan ditujukan pada Maha.
Setelah itu ada pelayan yang membawakan pelayanan makanan untuk para tamu. Kanna pun segera untuk memakannya.
"Setidaknya ajak aku untuk sarapan." Ucap Maha dengan tatapan kosongnya, yang membuat Kanna kaget.
"Aku memang merasa kerepotan terhadapmu dan aku benci perilakumu terhadapku, tapi sampai saat ini tidak pernah aku membenci orang." Ucap Maha, lalu mengambil sarapannya.
"Kau dengar semua yang kuucapkan?" Tanya Kanna dengan mulut yang di penuhi makanan.
"Ragaku yang istirahat, jiwaku terbangun setiap saat." Ucap Maha.
"Aku baru tahu, seorang putri cantik sepertimu bisa-bisanya makan dengan tidak anggun." Sambung Maha, dan menatap Kanna dengan sinis.
Kanna lalu menaruh sendok dan garpunya, dan meneguk segelas air putih.
__ADS_1
"Ajarkan padaku tentang keanggunan sebagai seorang putri, Maha." Ucap Kanna tiba-tiba.