MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Ternyata Zia


__ADS_3

"Hebat sekali assassin ini, tidak mau membuka mulutnya. Padahal sudah seminggu di sekap oleh kalian, dan tidak pernah makan dan minum."


"Aku juga heran, Hain. Tenaganya juga masih terjaga, aku tidak bisa memikirkan bagaimana caranya bisa bertahan. Tapi... Tunggu, kalau manusia bisa bertahan sampai delapan hari tanpa minum, apakah Elf juga sama?"


"Kurasa sama Maha, paksa saja dia minum."


"Kalau disamakan seperti manusia, berarti batas tanpa minumnya adalah delapan hari, dan batas tanpa makan antara seminggu atau dua minggu."


"Paksa dia minum."


"Richard, apakah kita masih punya air?" Tanya Maha pada Richard.


"Masih, Tuan Muda. Mau dipakai untuk apa?"


"Sesuatu. Ryu, Rya, pegang assassin ini biar tidak berontak. Dan Reha, karena assassin ini perempuan, aku minta tolong padamu buka maskernya. Aku akan memberikan minum padanya." Ucap Maha.


Semua sudah siap di posisi yang Maha perintahkan, Maha pun bisa melihat wajah asli Elf ini, segera Maha menyuruh Kanna untuk meminumkan air itu pada Elf itu.


"Lihat Maha, Elf ini sudah lemas. Kurasa keputusanmu memberikan minum padanya memang tepat."


Tak lama setelah itu, tiba-tiba burung mulai berterbangan menjauh dari tempat mereka berkemah itu. Kalau burung yang pergi cuma sedikit mungkin bisa dianggap ada kawanan lain yang mengganggu mereka, tapi kali ini berbagai kawanan burung yang pergi.


Mereka semua langsung siaga. Namun, tak lama setelah itu muncullah tumbuhan rambat yang membentuk tubuh manusia.


"Hai, Maha." Sapanya, ternyata itu adalah seorang Dryad, Tyra. Maha sempat kaget beberapa saat.


"Tyra?" Tanya Maha keheranan.


"Ya."


"Kenapa kau sampai disini?"


Tyra sesikit heran, dengan logat Maha yang sedikit berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu, tapi Tyra tidak terlalu memikirkan hal itu.


"Seorang Dryad adalah pelindung para Elf, dan pohon-pohon besar adalah tempat kami bersemayam. Dan aku sampai di sini karena aku merasakan sihir dari Kanna." Jelas Tyra.


"Kenapa kau menahan Zia?" Sambung Tyra bertanya, dan melirik ke arah Elf yang mereka tahan.


"Zia? Oh... Jadi namanya Zia? Dia menyerang Richard dan Reha dengan segel, dan ya kami memaksanya membawa kami masuk ke hutan Elf." Jawab Maha.


"Kau tidak bisa membawanya ke desa Elf, Maha. Dia adalah orang yang diabaikan di desanya."


"Diabaikan? Kenapa?"


"Elf adalah ras yang tidak pernah membunuh ras lain, dan Zia adalah pemburu bayaran. Makanya dia dibuang dan diabaikan, makanya kau tidak bisa masuk kalau membawanya." Jelas Tyra.

__ADS_1


Maha yang mendengar hal itu, dia tidak langsung meninggalkan Zia. Malahan bertanya pada Zia tentang keseriusannya.


"Zia... Apa kau terima dibuang oleh sekutumu sendiri?" Tanya Maha pada Zia.


"Aku telah berbuat dosa, dan aku harus menerimanya." Jawab Zia.


"Apa kau terima dibuang?" Tanya Maha lagi.


"Aku..." Dan ya, seperti biasa. Maha suka berbuat licik pada orang lain, kini Zia langsung menangis.


"Aku membunuh ras lain karena aku membalaskan dendam keluargaku... Di desa tidak ada yang peduli denganku saat aku menjelaskan, aku hanya bisa menerimanya." Sambung Zia dengan meneteskan air matanya.


"Oi... Zia... Lalu darimana kau dapat kehebatan seorang assassin?" Sahut Richard bertanya.


"Itu wajar, Richard. Dia telah lama dibuang dan diasingkan, kurasa dia mempelajarinya sendiri." Jawab Tyra.


"Jangan bilang kau akan mengajak Zia masuk ke dalam timmu, Maha."


"Tepat, itu yang sedang kupikirkan. Aku bisa mendapatkan keuntungan, dengan adanya Zia."


"Oh, apa itu?"


"Terlepas bisa masuk kedalam hutan atau desa Elf itu, setidaknya aku bisa melindungi Zia ini sebagai Elf yang tersingkirkan, dan saat derajatnya mulai naik, aku bisa menggunakannya untuk mempererat kerjasama dengan ras Elf."


"Baiklah-baiklah."


"Apa?" Tanya Zia.


"Gabunglah bersama kami untuk melakukan perjalanan. Aku akan menjamin keselamatan dan kesehatanmu." Jawab Maha.


"Maha, ras manusia berambut putih adalah ribal abadi dari ras Elf bangsawan." Sahut Tyra.


"Oh rambut? Tenang saja, ini adalah rambut hasil percobaanku, rambut alamiku tidaklah berwarna putih. Bagaimana Zia?" Tanya Maha meyakinkan lagi Zia.


"Apa tujuanmu melakukan perjalanan, Maha?" Tanya Zia memastikan tujuan Maha.


"Tujuanku simpel saja. Aku hanya akan menyebarkan kedamaian di daratan ini, makanya aku bilang akan menguasai daratan ini." Jawab Maha.


"Apakah aku..." Zia belum selesai ngomong langsung dipotong oleh Maha, karena Maha tahu apa yang akan dikatakan oleh Zia.


"Tidak, kau tidak akan diperbolehkan untuk melakukan balas dendam. Hal itu adalah hal paling keji, kedamaian tidak harus dengan perbuatan yang buruk, tidak harus dengan peperangan. Kedamaian tidak hanya untuk catatan diatas kertas." Jelas Maha.


"Aku mungkin akan menerimanya, tapi tidak seorang pun di antara kalian yang aku kenal."


"Terus? Setengah tahun lebih yang lalu, aku masih berdua dengan Kanna. Dan lambat laun, ya seperti yang kau lihat, tim kami terus bertambah."

__ADS_1


"Setiap orang di tim ini pasti memiliki potensi, lalu potensi apa yang kau lihat dariku?" Tanya Zia.


"Tidak perlu dipikirkan, Zia." Jawab Kanna.


"Maha selalu memiliki pemikiran yang berbeda dari kami, setidaknya semua pemikiran dan rencananya pasti akan berjalan mulus." Sambung Kanna menjelaskan.


"Seperti yang kau dengar." Ucap Maha.


"Apa aku harus bersumpah setia padamu, Maha?"


"Tidak juga, tapi kau tau kan resikonya kalau kau mengkhianati rekanmu." Ucap Maha, dengan dibarengi tatapan intimidasi darinya dan Richard.


"Baiklah-baiklah. Aku akan mengikuti kalian, tapi kalian tidak akan bisa masuk ke desa Elf kalau ada aku."


"Kurasa masih bisa, Maha. Hanya saja caranya agak sulit, karena kalian harus melawan penjaga di hutan ini."


"Tyra?"


"Kurasa bukan. Karena Tyra bukan dari hutan ini, melainkan dari hutan yang sebelumnya kalian bertemu."


"Kalau begitu, aku tidak akan segan untuk melawan penjaganya asal bukan Tyra."


"Ya, tapi jangan membunuhnya, agar kau tidak dicap sebagai penjajah oleh ras Elf."


"Baiklah, Hain."


"Tyra... Bukankah di hutan ini ada penjaganya? Biarkan kami melawannya biar bisa masuk ke desa Elf." Tanya Maha pada Tyra.


"Kalian yakin mau melawan penjaganya? Penjaganya adalah sebuah golem batu raksasa. Tidak pernah ada seorang pun yang bisa melawannya." Jawab Tyra.


Reha lalu merangkul bahu Kanna.


"Kanna, bilang pada kekasihmu ini. Terkena api saja sudah pingsan apalagi melawan gundukan batu, bisa jadi apa dia nanti." Ucap Reha.


"Benar juga. Tapi tidak apa-apa, aku percaya pada Maha." Balas Kanna.


"Tch..." Reha agak kecewa pada jawaban Kanna.


"Hahaha... Kau takut dengan golem, penyihir kecil?" Tanya Richard pada Reha dengan tawanya yang mengejek.


Di sisi lain.


"Kurasa aku dan Rya bisa melawan golem yang dimaksud Dryad ini." Ucap Ryu pada Maha.


Ya walau bagaimanapun juga, Ryu dan Rya adalah ras Dragon yang telah berevolusi setelah mendapatkan nama dari Maha. Hitung-hitung mengetes kekuatan mereka.

__ADS_1


"Ya tentu saja, tapi jangan sampi membuat golem itu mati." Jawab Maha.


__ADS_2