MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Ketakutan pada Demon


__ADS_3

Saat Maha dan Kanna keluar dari ruangan Karin, Maha sempat terpikirkan sesuatu tentang ucapan Karin.


Apa yang Karin maksud dengan kelahiran yang sama pada Maha dan Kanna. Lalu Maha baru tersadar akan sesuatu, yaitu, mengapa Raja dari Rayya, Ayahnya Kanna, memperlakukan Maha dengan sanjungan dan kehormatan padanya.


Dan Maha pun segera menemui Merlin untuk menanyakan tentang hal tersebut.


Sejauh ini Maha memang belum tahu, akan adanya rahasia di waktu kelahirannya, bahkan belum tahu kalau di dirinya terdapat sebuah tanggung jawab besar. Dan juga sejauh ini, Maha bertindak untuk membantu kerajaan adalah karena idealis yang dibangun oleh Nathan padanya.


Tak lama, akhirnya Maha dan Kanna bertemu dengan Merlin, yang sedang menunggu mereka di depan kamar penginapan.


"Kamu baik-baik saja Maha?" Tanya Merlin.


"Aku baik, Alka. Ada beberapa hal dari manager penginapan ini yang membuatku penasaran, dan aku ingin menanyakannya padamu." Ucap Maha pada Merlin.

__ADS_1


"Lebih baik kita bicara di dalam." Sambung Maha.


Mereka pun masuk ke salah satu kamar yang telah mereka pesan. Di kamar itu Maha bertanya pada Merlin maksud dari Karin yang mengatakan tentang kelahiran yang sama antara Maha dan Kanna, Merlin pun menjelaskan dengan detail, tidak lupa dengan ramalan Raja juga.


"Baiklah aku paham. Tapi aku baru tahu kalau aku lahir di hari dan dalam insiden yang sama dengan Kanna." Ujar Maha.


"Maka dari itu, sembunyikan hal ini dari siapapun, aku takut kalau ramalan Raja tersebar, dan kamu malah yang diincar, Maha." Jelas Merlin.


"Baiklah kita istirahat dulu, karena Kanna perempuan, kamu istirahat di kamar satunya, biar aku fan Maha yang istirahat di kamar ini." Ucap Merlin pada Kanna.


"Kalau begitu aku akan istirahat di kamar yang satunya lagi, Maha kamu jaga Kanna." Ucap Merlin lalu meninggalkan mereka.


Maha menghela nafas, lalu mencoba mengobrol dengan Kanna, yang sepertinya masih kondisi tegang.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Bukankah aneh, perempuan yang selalu membuliku, sekarang ketakutan dan menempel padaku?" Tanya Maha membuka obrolan.


"A-Aku... Aku tidak takut. Aku hanya..." Jawaban Kanna terhenti.


"Kenapa? Aku rasa di Kitab Sucimu itu tidak ada yang menyuruh untuk takut kepada para Demon." Ucap Maha sok tahu, walaupun memang tidak ada di Kitab Suci.


"Saat pemilik penginapan ini berkata kalau kita memiliki kesamaan saat lahir, itu membuatku semakin takut. Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang mampu membaca masa lalu dan daya sihir." Jelas Kanna.


"Mari kita menganggap Karin adalah seorang pembaca, dia mampu menafsirkan masa lalu seseorang, tapi dia tidak bisa melihat orang lain di sekitar orang yang dibacanya. Aku yakin, masih ada orang yang lebih menakutkan dari Karin." Ucap Maha lalu menatap ke arah Kanna.


"Tidakkah seharusnya kamu lepas genggamanmu ini?" Sambung Maha bertanya pada Kanna.


Kanna pun melepaskan genggamannya dan pergi ke kasur yang berbeda, di satu kamar ada dua kasur, dan sebelumnya mereka mengobrol di satu kasur yang sama.

__ADS_1


Kanna segera merebahkan badan di atas kasur, membelakangi Maha dan lalu menyelimuti dirinya dengan selimut yang telah tersedia.


Karena Maha sudah terlepas dari Kanna, Maha pun berniat menulis apa yang ia alami pada hari itu.


__ADS_2