MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Liontin atau Kalung


__ADS_3

"Yang aku baca dari beberapa buku, seorang putri yang baik tidak seharusnya suka menjahili rakyatnya." Ucap Maha.


"Aku tidak pernah menjahili siapapun. Kau selalu baik pada orang di sekitarku." Balas Kanna.


"Apakah menjahiliku tidak termasuk dalam kata jahil di pemikiranmu?" Tanya Maha sebagai korban kejahilan Kanna.


Tidak ada angin, tidak ada badai, perilaku Kanna seolah berbalik seratus delapn puluh derajat dari perilakunya sebelum-sebelumnya saat itu juga. Kanna yang mendengar pertanyaan Maha tadi, lalu membuatnya menundukkan badan di hadapan Maha.


"Maka, aku akan meminta maaf akan hal itu Maha. Aku akan berjanji tidak akan menjahilimu lagi." Ucap Kanna.


Tentu, hal ini membuat Maha bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Kanna. Maha merasa Kanna ini bukanlah Kanna yang ia kenal, walaupun Maha bisa mengucapkan hal itu secara langsung pada Kanna.


"Apa yang salah denganmu Kanna?" Tanya Maha.


"Tidak ada. Aku tidak memiliki alasan tertentu, kupikir karena kau semalam berkata mau mewujudkan keinginanku, tidak ada salahnya kalau aku bisa selalu ikut bersamamu, kemanapun itu, untuk menemanimu. Dan aku rasa akan lebih merepotkan bila aku terus menjahilimu." Jelas Kanna.


Cukup masuk akal, bila ada orang yang selalu bersama namun yang dirasakan hanyalah kepahitan, lebih baik tidak ada kepahitan lagi yang dirasa.


Maha menerima alasan itu dari Kanna. Tidak lama setelah itu, ada yang mengetuk kamar mereka. Dan saat Maha buka pintu itu, ternyata Merlin.

__ADS_1


"Apakah istirahat kalian sudah cukup?" Tanya Merlin.


"Aku sendiri sudah cukup." Jawab Kanna.


"Tidak, sekarang aku tidak punya waktu untuk beristirahat lagi. Kurasa kita harus segera menemukan semua tujuan kita." Ucap Maha dengan muka serius.


Setelah Maha menjawab seperti itu, Merlin pun merasa ada sesuatu yang direncanakan lagi oleh Maha. Dan Merlin rasa, rencananya kali ini sudah matang.


"Kita akan berdiskusi di sini, Maha." Ucap Merlin.


"Oke. Kita lanjut perjalanan hari ini juga." Balas Maha.


"Aku merasa, kalau kita sedang diawasi di sini." Balas Maha, sambil menoleh ke kanan dan kiri.


"Tidak ada tanda-tanda sihir di sini, Maha." Ucap Merlin, dan bersikap siaga.


"Aku juga merasakan hal yang sama." Celetuk Kanna menyetujui ucapan Maha.


Tidak lama setelah itu datanglah Karin ke kamar itu. Karin datang sendirian, dan tentu saja menembus pintu, karena sebelumnya pintu itu telah ditutup oleh Merlin.

__ADS_1


"Ternyata ada yang memiliki daya sihir lebih besar dari Kanna di sini." Ucap Karin yang membuat Merlin, Kanna dan Maha.


"Apa keperluanmu datang kemari?" Tanya Maha pada Karin.


"Aku hanya akan memberikanmu sebuah kalung, kalung ini adalah barang yang turun temurun dari keluargaku." Ucap Karin dengan menunjukkan sebuah kalung.


"Pasti ada efek negatif di dalamnya Maha, itu yang kutahu tentang Demon." Ucap Merlin pada Maha.


"Tidak Alka, kurasa itu bukan sesuatu yang buruk." Balas Maha.


Maha pun menerima kalung itu, dan lalu Maha memakainya, dan seketika, muncullah tanduk diatas kepala Maha.


"Setidaknya gunakan efek kalung ini saat ada bahaya yang mengancam, itu akan membantumu." Jelas Karin.


"Bukankah ini peninggalan dari leluhurmu?" Tanya Maha pada Karin.


"Aku sudah tidak bersama keluarga pemilik kalung itu, dan sekarang aku juga jarang memakai kalung itu." Jawab Karin.


"Terlebih lagi, ada kemungkinan suatu hari kamu akan jadi penguasa daratan, jadi aku tidak akan merasa rugi saat memberikan ini padamu." Ucap Karin laku menundukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2