MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Robert si Penanggung Jawab Kota


__ADS_3

"Dia hanya menggertakmu, Maha." Ucap Hain.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Tahan emosimu, dia hanya sedang membaca watakmu. Dia sepertinya adalah pengawas kota ini. Bersikaplah tenang." Jelas Hain.


Maha menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan emosinya.


"Aku memang orang asing, jadi jelaskan apa maksudmu?" Tanya Maha setelah agak tenang emosinya.


"Aku merasakan suasana hatinya, Maha. Dia ingin membuatmu terlihat marah padanya. Tunjukkan betapa liciknya dirimu, Maha. Manfaatkan situasi hatinya itu." Celetuk Hain.


"Baiklah-baiklah... Aku Maha, aku seorang pengelana, dan memang Ogre tadi adalah bawahanku, aku belum mendidiknya dengan benar, maafkan aku." Ucap Maha.


"Oh~ Besar hati juga ternyata kau, nak. Aku hanya mau mengetesmu, apakah kau orang baik atau orang jahat. Dari perkataanmu yang meminta maaf padaku, telah terbukti kalau kau orang baik." Jelas pria itu.


"Aku Robert. Seorang penanggung jawab di kota ini." Sambungnya.


"Panggil aku Maha. Pertama, aku akan jelaskan tentang bawahanku, dia adalah seorang Ogre yang sebelumnya tidak memiliki nama, aku menamainya dan dia menjadi bawahanku. Aku bukan seorang dengan kekuatan besar, jadi tidak mungkin bila bawahanku akan mengamuk di kota ini." Jelas Maha.


"Aku merasakan hawa Demon." Ucap Robert.


Maha lalu menunjuk ke arah Kanna. Saat Robert melihat ke arah Kanna, dia langsung memasang kuda-kuda dan memegang pedang yang ada di pinggangnya.


Kanna langsung bersembunyi di belakang Maha.


"Dia adalah saudariku, Kanna. Dia adalah murid dari seorang Demon, wajar bila kamu merasakan hawa Demon darinya." Jelas Maha.


Robert lalu berdiri tenang lagi, dan melepaskan tangannya dari gagang pedangnya.


"Hain. Bagaimana caraku untuk memanggil Richard ke sini?"


"Apa yang akan kau rencanakan, Maha?"


"Ada. Bagaimana?"


"Panggil saja namanya."

__ADS_1


"Richard, kemarilah." Ucap Maha.


Robert bingung dan melihat kesana-kemari, mencari keberadaan Richard yang dipanggil Maha.


Tak lama setelah itu, datanglah Richard dengan posisi tunduk di samping Maha.


"Minta maaflah pada penanggung jawab kota ini, atas keributan yang kamu ciptakan tadi." Suruh Maha pada Richard.


"Baik." Richard berdiri, dan berhadap-hadapan dengan Robert.


Robert mundur selangkah, mungkinkah dia menyadari kekuatan Richard, seorang Ogre yang statusnya maksimal.


"Tuan, aku meminta maaf atas keributan yang aku sebabkan." Ucap Richard pada Robert.


"Y-Ya... Aku tidak pernah melihat ras selain manusia yang memiliki status setinggi ini. Apakah kau telah hidup ribuan tahun?" Tanya Robert sedikit tegang.


"Tuan Robert, aku adalah seorang Ogre yang telah berevolusi, karena majikanku memberikan wewenang tersebut." Jawab Richard.


"Jadi perkenalkan lagi, anak kecil ini adalah majikanku. Aku berani memberikan nyawaku untuknya, karena dia telah memberikanku kehormatan dengan memberikanku sebuah nama." Sambung Richard.


"Tunggu-tunggu, aku tidak mengerti. Bagaimana seorang anak kecil yang tidak memiliki sihir bisa memberikan padamu nama dan membuatmu berevolusi, bukankah seharusnya saudarinya yang bisa melakukan hal itu?" Robert sepertinya kebingungan.


"Maha. Pemberian nama pada Richard adalah hal yang masih tidak banyak diketahui oleh orang. Jawab saja kalau kamu memberikannya pada Richard karena kau mempercayainya."


"Hal itu mudah kulakukan, karena aku mempercayainya." Jawab Maha.


"Tidak mungkin kan, orang biasa bisa melakukannya. Siapa kau nak? Darimana asalmu?" Tanya Robert.


"Aku berasal dari kerajaan yang subur dan jaya, di sana kedamaian terlihat di mana-mana. Aku seorang pengelana yang sedang menjalankan perintah dari Raja yang ada disana, dan aku melakukan perjalanan keberbagai tempat karena perintah guruku." Jelas Maha.


"Aku jujur saja tidak pernah melihat kerajaan yang penuh kedamaian, aku rasa yang kau katakan adalah omong kosong. Tapi, melihatmu bisa menjadi majikan dari seorang Ogre, dan memberikan padanya kekuatan maksimal, aku rasa kau adalah sebuah keajaiban." Ocehan Robert.


"Aku rasa kita tidak perlu basa-basi lagi, kalau tujuanmu sudah selesai, maka biarkan aku dan saudariku untuk berjalan, berkeliling di kotamu ini." Ucap Maha.


"Maha. Aku rasa kau sedang menginjak jebakan." Celetuk Hain tiba-tiba.


"Apa maksudmu nak? Apakah kau tidak senang, aku datang menemuimu?" Tanya Robert dengan nada kesal.

__ADS_1


Maha yang sebelumnya mendengar celetukan Hain, sepertinya celetukan tersebut hanyalah angin lalu untuk Maha.


"Ya, aku tidak senang, kamu telah membuang waktuku untuk berjalan-jalan." Jawab Maha, lagi-lagi tatapan bengisnya keluar.


Ini terjadi, karena Maha merasa sudah cukup menahan emosinya, yang dari tadi dia pendam.


Robert yang kesal segera mengeluarkan pedangnya. Seperti yang tertulis di status Maha, dia tidak memiliki kekuatan fisik, lalu bagaimana cara Maha untuk melawan Robert.


Richard berdiri, tapi dengan posisi tenang.


"Bukankah aneh bila seorang pengawas kota menyerang anak kecil?" Tanya Maha dengan senyuman mengejeknya.


"Kau bukan anak kecil. Anak kecil hanya tubuhmu, tidak dengan jiwamu." Robert mengacungkan pedang pada Maha.


"Richard, pergilah dari sini, aku saja cukup." Ucap Maha pada Richard.


Richard pun langsung pergi tanpa bertanya apapun pada Maha.


"Kau yakin mau melawanku nak? Bodoh juga kau." Ucap Robert yang terus ngoceh.


Maha menggaruk kepalanya, seolah menunjukkan kalau dia sedang merasa bosan, dan juga malas.


Maha sejauh ini masih kesal, walaupun pikirannya tetap tenang. Di sisi lain, Kanna sedang berusaha membaca situasi Maha. Mungkinkah Maha sedang memberikan waktu pada Kanna untuk membantunya dalam hal sesuatu.


Kanna tidak menyadari apapun, berarti yang dilakukan Maha adalah hal yang tidak direncanakan oleh Maha sejak awal.


"Kenapa kau diam saja nak?" Tanya Robert pada Maha.


"Lalu? Apakah aku harus melawanmu? Aku tidak memiliki kekuatan apapun lho. Percuma meladeniku, ujung-ujungnya ya aku yang kalah." Jawab Maha.


Kanna pun kaget, karena dia terlalu jauh, memikirkan rencana yang Maha buat, eh ternyata memang Maha tidak sedang menyiapkan apapun.


"Maha... Maha... Kalau memang sudah punya sifat licik dari lahir sepertinya akan terus licik. Tapi, aku rasa hal ini cukup bagus, melihat suasana hati Robert sedang kebingungan, dia sedang bimbang untuk menyerangmu. Aku rasa dia adalah tipe orang yang tidak akan menyerang, kecuali diserang terlebih dahulu oleh musuhnya." Ucap Hain.


"Aku berpikiran hal itu dari awal, Hain. Tapi, bisa saja pemikiranku itu salah, dan kalau pemikiranku salah, tamat sudah aku." Jawab Maha.


"Lihat, betapa lemahnya dirimu Maha, sebisa mungkin kau harus meminta pada Putri Kanna untuk membantumu dalam melatih fisikmu."

__ADS_1


"Tujuanku datang ke kota ini memang untuk hal itu, Hain. Akan aku pelajari semua dasar latihan yang Kanna ketahui, terlebih lagi kita saat ini punya Richard, yang aku yakin dia bisa membantu."


"Benar, baiklah ladeni dulu saja si Robert ini."


__ADS_2