
"Hal itu tidak perlu lagi, Maha. Ryu dan Rya telah menjadi bawahanmu, akan jadi hal rumit bila mereka memikirkan orang lain selain dirimu." Jawab Rey.
"Yakin?" Tanya Maha.
"Ya... Aku sebaiknya kembali, sebelum terjadi apa-apa." Ucap Rey, lalu kembali kewujud naga dan segera terbang menjauh.
"Jadi, kau tidak mau menunjukkan jati dirimu Elf?" Tanya Maha pada assassin itu.
Assassin itu diam, dan menatap penuh dendam pada Maha. Wajahnya memang tertutup, tapi setidaknya Maha masih bisa melihat sorot matanya.
"Baiklah kalau tidak mau menjawab. Ryu dan Rya, kalian sudah tahu tujuan kita kan? Bawalah kami terbang menuju tempat itu." Ucap Maha.
"Ryu dan Rya, dia adalah Tuan kita, tapi tidak perlu terlalu formal, karena dia sendiri tidak nyaman dengan diperlakukan layaknya pemimpin." Jelas Richard pada Ryu dan Rya.
"Benar juga. Yang dikatakan Richard benar juga, santai saja. Setidaknya aku punya rekan untuk melakukan perjalanan, dan itu sudah cukup bagiku." Sambung Maha.
"Baik." Jawab Ryu dan Rya.
Ryu dan Rya langsung kembali ke wujud naganya, Richard dan Reha naik Rya, dengan membawa assassin yang mereka tangkap. Maha dan Kanna naik Ryu, dengan semua barang bawaan tim Maha.
Menuju kemana mereka? Mereka menuju hutan para Elf. Ya, dengan membawa assassin itu mereka berharap bisa dibukakan jalan untuk masuk kedalam hutan tersebut.
__ADS_1
Ditengah perjalanan, semua nampak tenang dan damai. Banyak hal yang Maha obrolkan dengan Ryu. Dan alasan, mengapa Ryu langsung tunduk pada Maha, itu karena Ryu melihat sebuah timbangan pada diri Maha. Ya, seperti yang Hain bahas sebelumnya, Ryu dan Rya bisa melihat Hain dalam diri Maha.
"Dan juga, ajaran dari nenek moyang kami adalah harus menghormati pada sesuatu yang lebih dari ras kami. Dan sejauh ini belum kami menemukan hal itu, makanya beberapa dekade terakhir, ras kami adalah ras dengan status normal tertinggi. Saat Rey menghilang dari tempat istirahat kami, kami sadar dengan hilangnya Rey, karena kami merasakan guncangan hawa yang kuat. Dan itu, hawa Nona Kanna, saat kami mendekati kalian, aku langsung sadar kalau aku menemukan hal lain selain hawa Nona Kanna, dan aku pun segera menceritakannya pada Rya. Dan ya singkatnya begitulah, Tuan Maha." Jelas Ryu.
"Aku berniat menguasai daratan ini, dan meniminalisir pertikaian, dan berniat menyebarkan kedamaian. Apakah kalian akan tetap bersama kami?" Tanya Maha.
"Tentu, dengan kehormatan sebagai Ryu, aku akan terus mendukungmu. Namun, sangat disayangkan, aku tahu batasan manusia yang memiliki usia yang lebih singkat daripada kami para Dragon. Dan itu bisa membuatku bimbang nantinya." Jawab Ryu.
"Kau pikir aku akan mati semudah itu, Ryu?" Tanya Maha lagi.
"Bukan, bukan berarti aku meragukan Tuan, tapi kita harus lihat dari sisi kenyataan." Jawab Ryu.
"Tenang saja, Ryu. Aku memiliki suatu rahasia, yang bahkan membuatku bisa saja menjadi manusia yang abadi." Ucap Maha.
"Bukankah sudah kubilang itu rahasia? Kau tenang saja, usia ku masih sebelas tahunan. Eh dua belas tahun ini, dan ya waktu bertemu kita masihlah panjang Ryu. Dan kalaupun aku matu duluan, kalian masih punya tanggung jawab lainnya." Jawab Maha.
"Apa itu, Tuan?"
"Menjaga orang yang paling aku sayangi, Kanna."
"Baik, Tuan. Amanat darimu akan terus kami jaga. Ngomong-ngomong, kenapa Richard dan Reha tidak bisa akur?" Sambung Ryu bertanya.
__ADS_1
"Mereka berdebat karena mereka akur, Ryu. Tidak perlu ambil pusing." Jelas Maha.
Tidak seperti yang direncanakan sebelumnya, perjalanan menuju hutan Elf ini tidak sampai memakan waktu satu bulan. Mereka hanya menghabiskan waktu sekitar seminggu, karena naik Ryu dan Rya.
Singkat cerita, saat mereka sampai di hutan yang Reha asumsikan sebagai hutan Elf, mereka hanya melihat beberapa daun pohon yang berguguran. Dan juga, melihat beberapa satwa yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Apa benar ini hutan Elf?" Tanya Richard pada assassin yang dari seminggu yang lalu belum pernah ia lepaskan sama sekali.
"Aku tidak tahu." Jawabnya.
"Luar biasa, Maha. Sebagai assassin, dia adalah yang terhebat. Kurasa dia sedang menyembunyikan kenyataan, walaupun tidak ada tanda-tanda kebohongan darinya."
"Apa kau merasakan hawa Elf dari hutan itu, Hain?"
"Tidak, aku tidak merasakan adanya ras Elf. Tapi aku merasakan hawa kehadiran yang sebelumnya pernah kita rasakan."
"Apa?"
"Aku tidak tahu pasti."
Maha mendekati hutan itu, berniat untuk memasuki hutan tersebut. Namun, tiba-tiba ranting pohon menutupi jalan Maha.
__ADS_1
Singkat cerita mereka bermalam di depan hutan itu selama semingguan.