
"Apa hasil yang kamu harapkan dari pemikiranmu ini, Maha?" Tanya Raja pada Maha.
"Setidaknya kita bisa menolong mereka yang membutuhkan, dan itu juga berdampak pada kerajaan, tidak ada yang rugi secara data." Jawab Maha.
"Tapi kita tidak memiliki banyak penunjang, Raja." Ucap Menteri Keuangan.
"Tidak... Tidak harus dengan penunjangan ekonomi. Sekarang kita kumpulkan warga, dari sekian banyak warga pastilah ada yang memiliki persawahan, peternakan dan juga barang dagangan. Mereka yang tidak memiliki itu semua, maka berikan mereka kesempatan untuk membantu yang memiliki." Maha membalas ucapan Menteri Keuangan.
"Maksudmu mereka semua akan tidak dibayar? Bukankah itu hal yang kejam Maha?" Tanya Raja.
"Kalau itu memang hal yang kejam, tapi bukan itu yang kumaksud. Mereka akan membantu dengan jaminan tempat tinggal dan makan."
"Lalu dimana mereka tinggal dan mendapatkan makanan?" Tanya Menteri Keuangan.
"Kalau Raja mengizinkan, maka bangunkan sebuah mansion atau tempat tinggal sementara mereka. Kita tidak akan membodohi mereka, mereka akan jadi bermanfaat bagi kerajaan." Jawab Maha.
"Raja." Ucap Menteri Pembangunan, sambil mengangkat tangan.
__ADS_1
"Memiliki satu gudang besar yang tidak berfungsi, mungkin bisa kita rombak, lalu kita bangunkan beberapa kamar di dalamnya." Sambung Menteri Pembangunan.
"Raja. Divisi pertanian juga memiliki banyak lahan, dan setiap musimnya kita memang telat untuk menanam dan memanen, mungkin mereka bisa diberdayakan disana." Sambung Menteri Pertanian dan Peternakan.
"Bagus, semua sudah tersusun. Divisi perdagangan, aku minta kalian nantinya bisa mengajak mereka untuk bekerja sama. Kalian ajarkan cara berdagang dan ajak mereka untuk ikut kalian melakukan bisnis bilateral seperti biasanya." Sahut Raja, menjelaskan.
Maha pun menunjukkan senyum bengisnya, yang membuat para menteri merinding dengan senyumannya.
Di samping itu, Jeevan yang ditinggalkan oleh Maha di asrama, kini dia berkeliling kota mencari Maha. Karena saat Maha pergi ke kerajaan, dia lupa untuk memberitahu Jeevan, walaupun niat Maha memang baik, membiarkan Jeevan istirahat.
"Ini gedungnya, bos muda Maha." Ucap Menteri Pembangunan, menunjuk salah satu gedung di kota.
"Bos muda?" Tanya Maha keheranan.
"Haha.. Tidak terpikir olehku ide seperti yang kau pikirkan. Jujur saja aku takjub dan juga merinding melihat dirimu yang seperti itu." Ucap Menteri Pembangunan.
"Apa yang dipikirkan olehku, itu semua kulakukan agar aku berjaya mencapai tujuanku, aku hanya memanfaatkan mereka saja. Apa yang anda pikirkan ketika tiba-tiba memanggilku dengan sebutan bos muda?" Tanya Maha.
__ADS_1
"Tidak ada. Kupikir karena kau akan jadi pemimpin mereka yang tinggal disini makanya aku memanggilmu bos muda."
"Pemimpin? Maksudmu aku akan memimpin mereka? Semuanya?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak, sayangnya aku tidak mau. Akan kupilih salah satu dari mereka untuk memimpin. Apa yang anda harapkan dari anak kecil sepertiku?"
"Saat pertama melihatmu mungkin aku berpikiran kalau kau itu memang anak kecil biasa, namun dari cara berpikirmu, walaupun cuma sekali aku mendengarnya, aku yakin kalau Raja tidak salah untuk mempercayaimu."
"Ya, lakukan apa yang anda inginkan. Aku tidak akan menghalangi anda untuk berpikir. Tapi jangan pernah mengaitkan aku dengan kepemimpinan, aku tidak mau."
"Adakah alasan yang membuatmu tidak mau dianggap pemimpin?" Menteri Pembangunan lumayan tertarik dengan Maha.
"Tidak ada alasan yang pasti, namun kalau ditanya mengapa tidak mau memimpin, jawabanku adalah karena aku tidak mau direpotkan oleh orang lain kecuali aku merepotkan diriku sendiri."
Menteri Pembangunan pun mengerti, dan tidak lagi bertanya setelah mendengar jawaban Maha itu.
__ADS_1