
Jeevan kaget dengan tingkah Kanna. Jeevan pun menyusulnya dan melihat apa yang swbenarny terjadi. Yang Jeevan lihat adalah seorang Maha yang duduk di mejanya, dan di kelilingi geng. Yang mana dari postur tubuhnya, anggota geng itu berisi kakak kelas dari Maha dan Jeevan.
Tapi aneh, mengapa Kanna menyuruh mereka untuk berhenti. Lebih aneh lagi Maha, yang dikelilingi oleh anggota geng itu nampak santai-santai saja, dan seperti tidak meladeni geng itu.
Jeevan pun berjalan menuju Maha, dengan melihat Kanna yang membuatnya kebingungan itu.
Jeevan tanpa beban langsung berbicara pada Maha, tanpa memperdulikan geng itu, persis seperti yang Maha lakukan.
Di sini Maha dan Jeevan memiliki pemikiran yang sama, dan Jeevan yang sebelumnya telah menyadari kalau Maha memasang poker face, kini ia juga melakukannya saat berinteraksi pada Maha.
"Oi Maha."
"Ada perlu apa Je?" Maha menyadari kalau Jeevan sedang membantunya keluar dari situasi ini, menanggapi Jeevan dengan tenang juga.
"Kamu ada urusan dengan mereka?"
"Tidak juga." Ucap Maha, agar meminimalkan obrolan mereka berdua.
Lalu salah satu anggota geng itu menarik kerah jas Jeevan, dan melotot padanya.
"Anak menteri sepertimu tidak memiliki urusan dengan ini." Ucapnya pada Jeevan yang ditarik kerahnya.
__ADS_1
"Begitukah?" Jawab Jeevan dengan tenang, dan melepas kerahnya yang ditarik.
Setelah itu Jeevan pergi dari hadapan Maha, yang mana Maha paham kalau ini langkah Jeevan untuk mengetahui hal apakah yang akan terjadi selanjutnya.
Maha pun diseret oleh anggota geng itu ke luar dari kelas, menuju ke halaman belakang akademi.
Di sini para geng yang berniat memukuli Maha, merasa tidak akan ada yang bisa memberhentikan mereka untuk memukulinya, jangankan memberhentikan mereka, di sini mereka yakin kalau tidak ada yang akan melihatnya.
Di pikiran Maha saat itu adalah, membiarkan mereka memukulinya biar puas, toh Maha bisa mengandalkan Jeevan untuk menyembuhkannya.
Salah satu anggota geng itu akhirnya mulai mengepalkan tangannya, dan berniat memukul Maha. Dan tanpa Maha sadari, ada seseorang yang berlali padanya dan akhirnya orang itu terpukul oleh salah satu anggota itu, perempuan lagi yang dipukul.
"Oii~ Apakah kamu masih hidup?" Tanya Maha, sambil berkali-kali memencet pipinya.
Perempuan ini tak kunjung bangun, akhirnya yang dilakukan Maha lagi-lagi hanyalah bengong, bengong di samping orang pingsan.
Tak lama setelah itu, datang Merlin menuju ke arah Maha dan perempuan yang Maha tidak kenal ini.
"Wahai Maha, wahai anak dari Nathan, wahai pemilik kesetaraan." Ucap Merlin tiba-tiba sambil membentangkan kedua tangannya dan memejamkan mata, membuat Maha menunjukkan wajah jijiknya.
Tapi Maha kaget karena Merlin tahu nama Ayahnya.
__ADS_1
"Apakah Nathan menceritakan sesuatu tentangku?" Tanya Merlin pada Maha.
"Tidak wahai Merlin, ayah saya tidak memberitahukan apapun tentang anda." Jawab Maha.
Merlin pun berhenti dan seolah membaca suatu mantra sihir, kini ia menunjukkan wujud kakek tuanya dan memasang wajah datar.
"Aku adalah guru dari Nathan, dan aku lah yang menyuruh Nathan untuk menyekolahkanmu di sini." Mendengar ucapan Merlin ini, Maha merasa yakin pada Merlin, karena memang Nathan memaksa Maha untuk sekolah di akademi ini.
"Oh oke. Ngomong-ngomong, sadarkan perempuan ini, kasihan."
Merlin saat mendengar jawaban dari Maha, ia pun sadar kalau ini memang anaknya Nathan, yang mana sifat juteknya adalah sifat dari ibunya, yaitu Valencia.
Merlin pun memberi sihir healing pada perempuan itu, dan akhirnya perempuan itu bangun, dan Merlin menundukkan dirinya di hadapan perempuan itu.
Saat akhirnya perempuan itu terbangun, Maha yang bingung dengan hang dilakukan Merlin ia bertanya pada Merlin.
"Wahai Merlin, siapakah perempuan ini? Apakah seorang bangsawan?" Tanya Maha pada Merlin.
"Dia Putri Kanna, Putri bungsu dari kerajaan ini." Jawab Merlin.
"Oh... Namanya Kanna? Kamu perempuan yang merepotkan Kanna." Lalu setelah mengucapkan hal itu, Maha lalu pergi dari hadapan Merlin dan Kanna.
__ADS_1