MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Masuk Kota Demon


__ADS_3

Setelah beberapa hari perjalanan, benar saja rambut Maha dan Kanna mulai memutih, seperti yang Maha harapkan.


"Maha, aku sedikit penasaran. Apakah nantinya rambutku bisa hitam lagi?" Tanya Kanna pada Maha.


"Tentu saja, tapi untuk sekarang aku belum membuat obat pemulihnya, karena kekurangan bahan." Jawab Maha.


"Ngomong-ngomong, tinggal berapa hari perjalanan untuk kita menuju ujung daratan?" Sambung Maha bertanya pada Merlin.


"Entahlah Maha, sudah lama aku tidak melakukan perjalanan dengan jalan kaki." Jawab Merlin.


"Terus kalau tidak jalan kaki?"


"Biasanya naik kuda."


Maha pun menghela nafasnya, dan mengatakan pada Merlin, seharusnya kalau bisa naik kuda kenapa harus jalan kaki. Tapi Merlin membalas ucapan Maha, dengan menceritakan tentang kota para Demon yang ada di jalan utama.


"Kota para Demon? Bukankah itu bahaya?" Tanya Maha.


"Tidak. Mereka tidak memiliki pemimpin, dan saat para Demon tidak memiliki pemimpin mereka tidak akan mengganggu manusia. Dan juga kita datang dengan lisensi sebagai pedagang, yang jelas mereka juga akan mendapat keuntungan bila menerima para pedagang." Jelas Merlin.

__ADS_1


"Baiklah, sebelum kita nanti sampai di kota para Demon, aku ingin bertanya pada kalian. Apakah kita perlu untuk menyamarkan nama kita juga?" Tanya Merlin.


"Aku tidak perlu menyamarkan namaku." Jawab Maha.


"Aku juga tidak perlu Tuan Merlin. Tapi jangan panggil aku dengan sebutan Putri." Jawab Kanna.


"Baiklah, berarti cuma aku yang harus menyamarkan namaku. Panggil aku Alka." Ucap Merlin.


"Aku lumayan terkenal di kalangan para penyihir, dan aku yakin banyak penyihir yang saling menyebarkan informasi tentang penyihir lainnya." Sambung Maha.


Tiga hari setelah mereka merencanakan hal itu, mereka pun tiba di kota para Demon. Yang mereka hadapi saat pertama kali mau masuk ke kotamya adalah penjaga kotanya.


"Kalian manusia kan?" Tanya penjaga itu.


"Iya kami manusia, dan kami seorang pedagang yang akan menuju ke ujung barat daratan. Kami sengaja lewat sini untuk beristirahat sekaligus menawarkan beberapa barang kami." Jawab Maha.


"Akan aku cek barang-barang kalian." Ujar penjaga itu.


Maha, Kanna dan Merlin menunjukkan isi tas mereka, dan tentu saja tas mereka kosong. Tapi untungnya ada Merlin yang mampu menggunakan sihir dimensi, yang mana sihir itu bisa digunakan sebagai penyimpanan.

__ADS_1


"Barang kami ada di dalam sini." Ujar Merlin sambil menunjukkan portal sihirnya.


Demon penjaga itu seolah kaget dengan sihir Merlin, dan segera berhenti mengecek tas mereka. Sihir Merlin tidak dicek oleh Demon penjaga itu, entah karena dia percaya atau malah ketakutan dengan sihir Merlin.


"Maafkan aku. Kalian diperbolehkan masuk." Ucap Demon itu.


Saat pertama kali masuk ke kota para Demon itu, Kanna seakan ketakutan dan menarik lengan Maha dengan gemetar.


"Kenapa kamu?" Tanya Maha pada Kanna.


"Tidak. Cuma pengen pegang saja." Ucap Kanna.


Maha pun sadar kalau Kanna gemetar dan sepertinya sedikit takut dengan para Demon, Maha pun membiarkan Kanna untuk memegang lengannya.


"Alka. Sepertinya aku tahu yang membedakan manusia dengan Demon. Kebanyakan Demon di sini memiliki sebuah tato di mukanya, kupikir itu bisa jadi patokan sebagai pembeda." Ucap Maha pada Merlin.


"Ya. Dan mereka memiliki tanduk kecil di atas kepala mereka, semakin besar tanduk mereka, semakin besar daya sihir mereka." Balas Merlin.


Kanna semakin gemetar, karena para Demon mulai memperhatikan mereka. Dan tentu saja, Maha yang saat itu digenggam lengannya oleh Kanna, sadar kalu Kanna mulai ketakutan.

__ADS_1


"Alka, sebaiknya kita cari penginapan untuk beristirahat." Ucap Maha pada Merlin.


__ADS_2