MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Si Dragon Rey


__ADS_3

Kanna yang mendengar ucapan Maha lalu jatuh lemas di hadapan Maha. Seolah kehilangan daya untuk berdiri, Kanna jatuh dengan lutut sebagai tumpuannya.


"Kau kenapa Maha?"


"Entahlah, Hain. Aku rasa aku tidak mmgenal sifat Kanna yang seperti ini. Aku cukup toleran sebelumnya tapi semakin aku mendengar ucapan Kanna, aku rasa aku tidak nyaman dengan ucapannya."


"Kalau itu alasanmu, aku tidak bisa melarangnya. Kurasa hal itu memang harus dipertanyakan pada Kanna. Tapi ingat, kau masih punya kewajiban untuk menjaganya."


"Ya, kurasa aku akan menjaganya lebih ketat lagi. Mulai dari sini, aku tidak akan selembut yang dulu, Hain. Bimbinglah aku."


"Ya~"


"Tuan Muda?" Richard keheranan.


"Diam Richard." Jawab Maha pada Richard, dengan membentaknya, Richard langsung tunduk di hadapan Maha.


Reha hanya menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya tersebut. Kanna yang terduduk ditanah, dan Richard yang tunduk di hadapan Maha.


"Kanna, aku tidak akan bersikap lembut lagi padamu. Dengarkan aku, kalau kau membuatku marah sekali lagi, aku tidak akan segan-segan untuk meninggalkanmu." Ucap Maha, saat itu juga Kanna mulai meneteskan air matanya.


"Ta.. Tapi, Maha... Aku hanya ingin agar aku berguna untukmu." Ucap Kanna di tengah tangisnya.


"Berguna? Aku tidak memerlukan hal itu padamu Kanna, aku hanya butuh kau mendampingiku. Aku bisa mengandalkan diriku sendiri." Ucap Maha.


"Dan apa? Kau tidak terima saat Richard bilang aku akan menghambat perjalanan? Kenapa kau jadi tidak terima akan hal itu, aku menerima yang dikatakan oleh Richard, terlebih lagi aku butuh perkembangan. Kalau orang hanya bisa memujiku, kapan aku bisa berkembang." Sambung Maha.


"Hei anak kecil, seharusnya kalian sudah pergi dari sini, kenapa malah ribut di desaku?" Marry tiba-tiba keluar dari gubuknya.


"Oh apa ini? Perselisihan kekasih kah?" Sambungnya bertanya pada Maha. Reha pun menjelaskan kronologinya pada Marry.


"Apapun itu, tidak ada yang salah. Maha, apa kau sadar apa yang kau lakukan?" Tanya Marry setelah mendapatkan penjelasan dari Reha.


"Aku sadar hal itu. Tapi sayang sekali, aku tidak sedang dikuasai oleh apapun. Seperti halnya sifat bawaan dari lahir, aku sedang kembali ke diriku yang sebenarnya." Jawab Maha.


"Aku Maha. Aku akan menguasai daratan ini, untuk keinginanku sendiri tentunya. Marry?" Sambung Maha.


"Ada apa Maha?"


"Apa kau bisa menggunakan sihir teleportasi?"


"Ya, tapi hanya untuk satu orang."


"Apa kau pernah ke Rayya?"


"Ya, terakhir kali aku bertemu Merlin di sana."

__ADS_1


"Kirim Kanna ke Rayya." Ucap Maha, membuat Kanna berdiri, dan menarik jubah Maha.


"Maha, apa yang kau pikirkan?" Tanya Kanna cemas.


"Aku hanya memikirkan keselamatanmu." Jawab singkat Maha.


"Aku tidak bisa langsung menerima permintaanmu, Maha. Pertama, siapa kau berani menyuruhku. Kedua, aku tidak bisa memaksakan kehendak orang lain." Ucap Marry.


"Oh begitu? Baiklah. Aku akan pergi. Ayo Richard." Ucap Maha.


"Kenapa jadi kau yang marah pada Kanna?"


"Tidak, aku rasa sesekali aku harus tegas pada Kanna. Sleama setengah tahun ini, aku telah banyak memanjakannya, aku hanya kembali pada diriku yang dulu, Hain. Tenang saja."


"Aku tidak akan melarang apapun keputusan yang kau ambil, kecuali sangat beresiko. Sekarang waktunya ku berangkat, Maha. Ikuti jalan di depanmu ini, dan jalan terus ke selatan, di sana kau bisa bertemu dengan hutan Elf."


"Baiklah."


Mereka pun berangkat berempat, karena sekarang ikut dalam tim perjalanan Maha. Dalam perjalanan kali ini suasana agak canggung, Richard yang sebelumnya melihat Tuan Mudanya selalu menggandeng Kanna, kini yang ia lihat adalah kekosongan di antara mereka. Maha di paling depan, sedangkan Kanna berada di belakang bersama Reha. Tidak ada obrolan sama sekali.


Maha tiba-tiba berhenti.


"Ada apa Tuan Muda?" Tanya Richard.


"Itu suara kepakan sayap naga, kurasa naga itu bukan dari ras pemikir seperti ras Dragon." Jawab Reha.


"Apa yang berbeda dari naga dan Dragon?" Tanya Maha.


"Naga belum tentu dari Dragon, karena mereka dianggap sebagai entitas yang tidak pernah berpikir, sedangkan Dragon selain bisa berpikir, Dragon bisa berwujud seperti manusia." Jelas Hain.


"Ya intinya, kalau Dragon bisa berubah wujud seperti manusia." Jawab Reha.


Tak lama setelah perbincangan itu, benar saja ada seekor naga terbang di atas mereka, tapi naga itu tampak sedang mengelilingi mereka.


Naga itu tiba-tiba turun ke tempat mereka, dan menyapa.


"Dugaan kalian salah sepertinya. Karena dia seorang Dragon."


"Kenapa kalian berada di sini?" Tanya naga itu.


"Apakah kau seorang Dragon? Perkenalkan dirimu terlebih dahulu, lalu aku akan menjawab pertanyaanmu itu." Jawab Maha.


Naga itu berubah menjadi sosok lelaki, berjubah putih. Dan mendekati Maha.


"Aku seorang Dragon, namaku Rey. Siapa kalian?"

__ADS_1


"Aku Maha. Aku hanya akan melewati daerah ini, aku tidak akan mengganggumu."


"Kemana kalian akan pergi?"


"Aku sedang menuju hutan Elf."


"Hutan Elf? Itu hanya ada di ilusi. Jangan mengada-ada."


"Tidak akan aku percayai, sebelum aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku."


"Haha... Kalaupun ada, kalian tidak akan bisa memasuki hutan itu, sekalinya kalian masuk, kalian tidak akan bisa keluar kembali."


"Oh benarkah?"


"Maha, kurasa orang ini tidak bisa melihat kekuatan dari tim mu ini, dia tidak bisa membaca daya sihir. Dan sepertinya, dia tidak tahu kalau Richard dari ras Ogre."


"Apakah semua Dragon selemah dirimu?" Tanya Maha membuat Rey kaget.


"Apa maksudmu?" Balas Rey.


"Kau bahkan tidak tahu kalau di orang sampingku ini adalah Ogre. Kau juga tidak bisa membaca daya sihirkan? Kalau kau bisa membacanya, kau akan takut pada Kanna." Jawab Maha, dengan nada sombongnya.


"Ha?! Mana ada Ogre di sini." Ucap Rey melirik kearah Reha.


Reha pun langsung menunjuk ke arah Richard. Dan Rey sekilas setelah melihat Richard dia sedikit kaget.


"Perlu kau ketahui, Maha. Meski dia nampak linglung, dia tetap saja seorang Dragon, yang mana kekuatan normalnya melebihi kekuatan manusia."


"Baiklah, aku paham Hain. Apakah dia tidak membahayakan?"


"Untuk saat ini, keadaan dan suasana hatinya sedang tenang. Apakah kau akan mencoba memprovokasinya?"


"Ide yang bagus, Hain."


"Lihat, betapa lemahnya dirimu. Tidak mungkin seorang Dragon selemah dirimu." Ucap Maha.


"Jadi kau menantangku, anak kecil?" Rey langsung mengulurkan tangannya dan sepertinya mengeluarkan sihir api di tangannya.


Tak berpikir lama, Rey pun segera menembakkannya pada Maha, tentu dengan segala yang Maha kenakan, sihir itu tidak berefek apapun padanya.


"Cuma segini?"


"Kau, siapa kau sebenarnya?!" Rey mulai panik.


Tak lama setelah itu, diatas mereka ada dua naga lagi yang sedang terbang memutari mereka, sepertinya dua naga itu berniat untuk turun.

__ADS_1


__ADS_2