MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Calon Penduduk Baru Rayya


__ADS_3

Keesokan harinya, para Dwarf mengadakan acara pemakaman. Meskipun, para Dwarf lain yang telah gugur di desa itu di makamkan di hari sebelumnya. Dan alasan mengapa acara pemakaman ditunda di hari selanjutnya, karena acara pemakaman sendiri butuh persiapan. Dikarenakan para Dwarf kehilangan banyak warga, maka makin lama lagi persiapan yang harus mereka persiapkan.


Acara pun berlangsung, di desa para Dwarf biasanya mereka mengundang seorang yang paling tua atau yang paling dihormati di antara mereka, untuk mengisi acara tersebut dengan doa-doa dari kepercayaan para Dwarf itu. Yang mana kepercayaan mereka, bukan lagi menyembah Tuhan, melainkan mendewakan arwah leluhur mereka.


Ikutlah Maha, Kanna dan Cayna dalam acara tersebut. Acara tersebut mungkin saja bisa mengundang rasa ketersinggungan pada Kanna dan Cayna sebagai penyembah Tuhan, namun ternyata tidak, mereka menghargai hal tersebut, sebagaimana mereka diajarkan untuk saling menghormati.


Singkat cerita, setelah acara pemakaman itu selesai, mereka saling bertukar pendapat tentang masa depan desa mereka, yang saat itu bisa dikatakan cukup berantakan.


Salah seorang Dwarf menceritakan pada Maha, Kanna dan Cayna, bahwa desa mereka telah diserang oleh puluhan Orc yang lepas kendali, pada malam sebelum Maha, Kanna, dan Cayna datang ke desa ini.


"Anak ini adalah Maha, anak dari teman kita yang bernama Nathan. Dari yang kulihat, anak ini cukup telaten dalam kerajinan." Ucap Dwarf yang kemarin mengawasi Maha membuat kacamata.


Warga yang berkumpul tidaklah banyak, karena populasi mereka telah berkurang banyak di hari sebelumnya.


"Aku dan Maha akan menawarkan sebuah pemikiran bagus untuk masa yang akan datang dari desa ini, bagaimana?" Tanya Kanna secara tiba-tiba pada para Dwarf.


Biasanya Maha yang suka nyeletuk, sekarang Kanna juga ikut-ikutan kebiasaan Maha. Tentu, membuat Maha kaget dong.


"Ide seperti apa itu, nak?"


"Kami akan berdiskusi sebentar." Jawab Kanna.


Kanna menarik tangan Maha dan sedikit menjauh dari tempat mereka saat bersama para Dwarf.


"Jadi? Apa yang kamu pikirkan, Kanna?"


"Aku memiliki sebuah usulan Maha, aku akan minta padamu untuk memikirkan hal ini."


"Apa itu?"


"Bagaimana kalau para Dwarf ini dibawa ke Rayya? Mumpung Rayya juga butuh pasokan ekonomi kan? Terlebih lagi, Rayya nantinya akan memiliki sumber tenaga yang cukup. Bisa saja nanti para Dwarf juga bisa berbagi ilmu pada warga Rayya. Dan seorang Dwarf tadi bilang kalau Ayahmu adalah teman mereka, itu akan sangat membantu penarikan mereka. Lalu, kebetulan juga untuk memandu jalan, ada Rahib Cayna yang bilang berniat untuk mampir ke Rayya." Jelas Kanna.


"Bisa saja. Aku akan mengumumkan usulanmu ini pada mereka, kalau mereka tidak mau mengikuti usulanmu ini, maka kita akan memakluminya, karena bisa saja mereka memiliki rasa cinta mereka pada desa ini." Balas Maha.

__ADS_1


Setelah sedikit berdiskusi, Maha pun menjelaskan rencana yang Kanna usulkan tadi pada para Dwarf. Para Dwarf sedikit kebingungan akan hal itu, namun di tambah penjelasan tentang Rayya oleh Cayna, akhirnya mereka mengerti.


"Baiklah, sepertinya dari kami semua akan menyetujui hal itu. Tapi bagaimana cara kami masuk ke Kerajaan Rayya?"


"Tenang saja, nanti akan aku siapkan surat untuk izin memasuki Kerajaan Rayya." Jawab Kanna.


Perlu di ketahui, para Dwarf masih belum ada yang tahu kalau Kanna adalah seorang putri di Kerajaan Rayya.


"Dan juga, jangan lupa mampir ke rumah Ayahku. Ayahku juga pasti akan senang bisa bertemu dengan kalian lagi." Ucap Maha menyambung ucapan Kanna.


"Tidak apa-apa kan, Cayna? Mungkin perjalanannya akan memakan banyak waktu, tapi aku akan berjanji untuk membalasnya suatu hari." Sambung Maha pada Cayna.


"Tidak perlu, Tuan Maha dan Nona Kanna sudah cukup membantu saya, kurasa ini adalah kesempatan saya untuk berterimakasih." Jawab Cayna.


"Maka, terimakasih Cayna." Balas Maha.


Lalu mereka semua mengobrol, dan para Dwarf menceritakan, terakhir kali mereka lihat para Orc yang menyerang mereka, para Orc itu menuju barat. Ya, tujuan Maha dan Kanna adalah barat.


Singkat ceritaa, setelah seharian berbincang, makan-makan dan berberes untuk persiapan keberangkatan para Dwarf ke Rayya di keesokan harinya. Malam pun tiba, yang mana Maha dan Kanna masih berada di desa itu, dan berencana pergi bersamaan dengan keberangkatan para Dwarf di keesokan harinya.


"Kanna?" Tanya Maha pada Kanna yang tidur miring membelakanginya, dan Maha sedang berbaring menatap langit-langit kamar.


"Masih bangun?" Sambungnya.


"Hmmm?" Respon Kanna.


"Kita sudah terbiasa untuk bermalam bersama. Apakah masih ada keraguan padamu, untuk melanjutkan perjalanan?"


"Setelah aku bertemu dengan beberapa orang dan berbagai ras, kurasa perjalanan ini sangat asyik."


"Mmm... Kalau begitu aku berharap, nantinya kita akan lebih akrab, agar kita bisa merasakan serunya perjalanan kita."


Kanna lalu berbalik ke arah Maha sambil tersenyum lebar seolah mengejek.

__ADS_1


"Areee... Jangan-jangan kau takut kehilangan aku ya, Maha?"


"Bukan itu yang aku takutkan, yang kutakutkan adalah hukuman dari Raja bila anaknya hilang."


"Tidak-tidak. Aku bercanda, aku mengatakan itu agar kamu tidak bosan saja dengan perjalanan kita, karena saat pertama kali kita melakukan perjalanan, kamu bilang masih ada kebencian dalam hatimu padaku." Sambung Maha menjelaskan.


Untuk informasi, kasur di kamar itu ada dua dan ya mereka tidak tidur di satu kasur yang sama.


Kanna beranjak dari kasurnya dan pindah ke kasur Maha. Maha membalikkan badannya untuk membelakangi Kanna, Kanna mendekatkan diri ke punggung Maha.


"Kurasa, seiring berjalannya waktu rasa benciku akan terus memudar, Maha." Ucap Kanna.


"Begitu? Lalu, kenapa kamu pindah ke kasurku?"


"Dingin."


"Terserahlah." Balas Maha.


Akhirnya mereka tertidur sampai pagi dengan posisi yang sama.


Besok paginya, mereka telah bersiap untuk pergi, begitu juga dengan para Dwarf.


"Anak muda, semoga perjalananmu menyenangkan." Ucap perpisahan seorang Dwarf mewakili Dwarf lainnya.


"Begitu juga kalian. Kalian jagalah Cayna, dia membawa pesan untuk Raja." Jawab Maha.


"Siap."


"Tuan Maha dan Nona Kanna, terimakasih atas bantuannya, saya akan sampaikan pesan kalian pada Raja." Ucap Cayna.


"Rahib Cayna, terimakasih yang sedikit banyak bercerita tentang dirimu. Sampai berjumpa di lain kesempatan lagi, aku yakin Tuhan akan mempertemukan kita kembali." Ucap Kanna.


Mereka pun berpisah, saat pagi itu juga. Rombongan Dwarf menuju timur, menyusuri jalan yang Maha dan Kanna lalui sebelumnya. Sedangkan Maha dan Kanna pergi ke arah barat untuk melanjutkan perjalanannya mencari para penyihir.

__ADS_1


Maha memberikan saran pada mereka untuk singgah di beberapa tempat, di mana Maha dan Kanna beristirahat sebelumnya. Padang rumput yang luas, gua yang saat itu ada seorang Ogre yang sedang berpatroli, desa para Machos, dan kota Demon. Dan juga, Maha menyuruh agar memberitahukan pada penjaga di setiap tempat itu, kalau mereka adalah rekan Maha.


__ADS_2