MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Teman Satu Asrama


__ADS_3

Selesai memakan roti yang diberikan oleh petugas dapur, Maha mengucapkan terimakasih dan berniat ingin membayarnya karena merasa tidak enak membangunkannya di tengah malam.


Petugas itu tidak mau di bayar oleh Maha, karena dia berkata kalau bayarannya sudah ada perbulan, dan dia di amanahkan untuk tidak meminta uang tips dari penduduk asrama sepeserpun.


"Jadi Nak Jeevan, apakah kalian sudah berteman lama?" Tanya orang itu.


"Sebelum aku jawab biar kuperkenal kan dulu paman. Maha paman petugas dapur ini namanya Paman Samuel, panggil saja Paman Sam." Ujar Jeevan ke Maha.


Maha hanya mengangguk saja.


"Aku dan Maha baru bertemu tadi siang paman."


"Bukankah dia seumuranmu? Kalau dia seumuran denganmu, bisa saja kalian dari Gereja Suci kan? Atau dia orang luar kerajaan?"


"Tidak, tunggu. Bukankah lebih baik paman langsung bertanya pada orangnya langsung?"


"Oh ya... Jadi, Nak Maha?" Tanya Samuel pada Maha.


"Aku tidak dibimbing di Gereja Suci dan aku bukan dari luar kerajaan. Aku dari daerah pinggiran kerajaan, aku rakyat kerajaan ini." Jawab Maha.


"Aku tidak akan tanya hal ini padamu Je, aku akan tanya kepada Paman Sam tentang apa yang kali ini ada dipikiranku." Ujar Maha pada Jeevan, Jeevan pun keheranan.

__ADS_1


"Paman, siapakah Je? Apakah dia seorang bangsawan?" Tanya Maha pada Samuel.


"Bukankah yang bisa jawab itu harusnya Jeevan?"


"Dia tidak akan menjawab hal ini."


"Ceritakan apa yang kamu tahu paman, kurasa Maha tidak akan berbicara pada siapapun." Sahut Jeevan.


"Jadi singkatnya, Jeevan ini anak dari salah satu menteri kerajaan. Yang mana saat ia di Gereja Suci sampai akhir akademinya nanti, harus merahasiakan identitasnya."


"Tidak ada yang spesial darimu kan Je? Mengapa harus dirahasiakan?" Maha langsung lempar pertanyaan pada Jeevan.


Seketika, Maha tertunduk dan merenung, berpikir 'Apakah ada yang telah aku lewatkan? Oh benar juga, Ayah tidak mengajariku politik kerajaan ini, mungkin itu yang kulewatkan.'


Lalu Maha menyuruh Jeevan menjelaskan.


Dari penjelasan Jeevan, intinya sih dia bilang kalau kerajaan ini di ambang kritis karena menjadi korban perang, karena memang kerajaan ini berada di jalur antara dua kerajaan yang berseteru. Dan karena Kerajaan Rayya tidak sekuat dua kerajaan itu, Kerajaan Rayya selalu ditindas oleh keduanya.


Dan penjelasan kenapa identitas Jeevan dan bangsawan lainnya di rahasiakan, agar karena para penjarah tidak membodohkan generasi penerus.


Di sini Maha sedikit berpikir, mungkin hal yang wajib dan yang paling pertama dibangun di kerajaan ini haruslah sistem pendidikan. Ada akademi ini, tapi hanya bisa dimasuki oleh mereka yang dianggap berjasa oleh negara atau mereka yang punya uang. Jadi setidaknya Maha ingin memiliki sistem pendidikan yang mana semua rakyat bisa merasakannya.

__ADS_1


Setelah sedikit banyak berbincang dengan Samuel, Maha dan Jeevan kembali ke kamarnya masing-masing, dan melanjutkan tidur mereka.


Tetapi Maha tidak bisa tidur, jadi dia menulis paragraf pertama di bukunya, tentang politik yang diberitahu oleh Jeevan tadi.


Pagi harinya saat Maha tertidur di atas meja, yang sebelumnya ia gunakan untuk menulis, ia pun terbangun karena mendengarkan suara gemuruh di luar. Dia pikir ada perang, jadi ia segera memakai sepasang zirah yang ia dapatkan setelah mendaftar di akademi. Tak lama setelah itu ada yang mengetuk pintu kamarnya, itu adalah Jeevan yang datang dengan keadaan tenang.


"Kamu mau ngapain Maha?" Tanya Jeevan setelah melihat Maha yang memakai zirah.


"Lah itu suara gemuruh bukannya ada pertempuran?"


"Bukan-bukan, itu suara penyambutan para pelajar akademi. Penyambutan ini untuk menyambut mereka yang dari Gereja Suci."


"Oh... Lalu kenapa kamu disini? Bukannya kamu dari Gereja Suci juga?"


"Eee... Kalau aku tinggal, nanti kamu bingung lagi. Ini lewat jam sarapan juga kamu baru bangun, makanya aku kemari."


"Harusnya ikut penyambutan aja, kan aku udah kenal Paman Sam juga."


"Oh ya benar juga, tapi ya sudahlah..."


Akhirnya mereka berdua segera menuju ke dapur untuk sarapan.

__ADS_1


__ADS_2