MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Rayya dan Cayna


__ADS_3

Maha mengangguk.


"Lalu apa kabar Nathan, sudah lama aku tak berjumpa dengannya."


"Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan ayahku, terakhir bertemu kondisinya sehat."


Sedikit banyak Maha dan Dwarf itu berbincang, akhirnya kacamata buatan Maha telah selesai dibuat. Segera Maha memberikannya pada Cayna yang menantinya.


Tentu Maha tidak sembarangan membuatkan kacamata untuk Cayna, sebelum proses pembuatan kacamata, Maha menguji jarak pandang Cayna untuk memastikan berapa tingkat keburamannya, atau bisa dibilang memastikan berapa minus dari mata Cayna.


Setelah memakai kacamata dari Maha, Cayna berkata kalau penglihatannya agak terbantu dan sedikit lebih baik dari sebelumnya.


"Boleh juga kau." Ucap Dwarf yang sedari tadi mengawasi Maha.


"Seharusnya bisa lebih baik lagi, tapi sangat disayangkan, karena aku kurang dalam segi pengalaman." Jawab Maha.


"Akan lebih baik kalau kalian menetap beberapa hari di sini, anggap saja sebagai imbalan telah menolong beberapa orang yang masih bisa bertahan. Bagaimana?" Tanya Dwarf itu.


"Boleh saja, tapi kami tidak bisa menetap lama di sini, mungkin hanya sehari atau dua hari." Jawab Kanna.


Maha hanya mengangguk saja.


"Kami akan mengadakan acara pemakaman besok, kalian ikutlah, sebagai pengetahuan tambahan kalian tentang ras kami." Dwarf itu meninggalkan rumah yang mereka buat untuk diskusi tadi.


Akhirnya Maha, Kanna dan Cayna menetap di rumah tersebut, karena kebetulan rumah itu memang sudah kosong, dan diperuntukkan untuk tamu desa.


Karena hari belum malam, akhirnya mereka sedikit berbincang di ruang utama rumah itu.


"Jadi Cayna, kemana tujuanmu selanjutnya?" Tanya Maha pada Cayna.


"Saya akan berjalan kemanapun, karena saya selalu mengikuti kata hati saya." Jawab Cayna.


"Baiklah, setidaknya sekarang kamu sudah bisa melihat sepenuhnya yang ada di sekitarmu. Sebelumnya, berapa lama penglihatanmu mengalami gangguan?"

__ADS_1


"Sudah lama, tapi meskipun begitu, dengan kekuatan Tuhan saya masih bisa merasakan apa saja yang berada di sekitar saya."


"Wahai Rahib, karena aku tidak bisa lagi untuk menjadi seorang Rahib sepertimu, maka aku akan menanyakan sesuatu padamu." Ucap Kanna pada Cayna.


"Mengapa tidak bisa, Nona?"


"Aku adalah murid seorang Demon, yang memiliki sihir kegelapan. Aku memiliki enam elemen dalam aliran sihirku, ya itu lengkap. Maka dari itu aku tidak bisa menjadi sepertimu."


"Baiklah. Lalu apakah anda masih percaya dengan Tuhan?"


"Tentu saja, dia adalah seorang yang religius di Rayya." Sahut Maha.


Cayna pun hanya tersenyum dan mengangguk.


"Silahkan bertanya Nona."


"Rahib Cayna, setiap hamba Tuhan pasti memiliki cara untuk meyakini tentang Tuhan itu sendiri, lalu apa keyakinan yang membuatmu sangat mencintai Tuhan?"


"Dulu saya adalah seorang gadis muda dari sebuah desa di pelosok daratan, desa itu tidak berada di bawah kerajaan apapun. Singkat cerita, saya tidak memiliki seorang teman pun disana, karena dijauhi karena kebiasaan saya yang hanya berada di rumah. Saya berada di rumah karena merawat ibu saya karena beliau sedang sakit, sampai pada akhirnya ibu saya meninggal dunia. Saya bingung, dan waktu itu saya belum mempercayai konsep ketuhanan. Namun, setelah beberapa hari kematian ibu saya, saya tidak sengaja naik ke kereta seorang pelancong yang sedang datang ke desa saya. Dibawalah saya ke sebuah kerajaan, yaitu Rayya. Setelah menetap disana, saya selalu tidur di teras-teras warga, dan sering di usir. Tapi ada seseorang yang membuat saya tertarik ikut ke Gereja Suci, namanya Ayyra. Singkat cerita, setelah saya sedikit beranjak dewasa, Rayya diserang oleh kerajaan lain, karena perang tersebut yang digunakan sebagai senjata adalah metal dan sihir, alhasil saya terkena radiasi sihir, yang membuat penglihatan saya kacau, dan akhirnya tidak beroperasi. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi dari Rayya, karena takut tidak berguna disana. Saat keluar dari Rayya, saat saya selalu menempuh perjalanan mengikuti kata hati saya, saya selalu selamat. Dan karena itulah saya merasa Tuhan selalu berkomunikasi dengan hambanya lewat hati." Jelas Cayna.


"Wah selanjutnya mungkin saya akan mampir ke Rayya untuk menemuinya."


"Ya, dan akan kami titip salam untuk Raja di Rayya. Berikanlah berita bahwa, aku dan Kanna baik-baik saja." Pinta Maha pada Cayna.


"Bukankah bertemu dengan Raja akan sangat sulit?"


"Tidak-tidak. Ceritakan tentang kamu yang bertemu dengan kami pada Kak Ayyra, pasti Raja akan mendengarkannya dari Kak Ayyra nantinya." Jelas Maha.


Setelah panjang lebar mereka berbincang, malam pun tiba. Maha dan Kanna seperti biasa, berada di satu kamar yang sama, meski sempat dilarang oleh Cayna, karena pemahaman Cayna adalah, laki-laki dan perempuan tidak boleh satu kamar meski saudara, tapi Maha menjelaskan kalau Kanna tidak terbiasa tidur tanpa dirinya, dan itu memang benar. Kanna akan merasa tidak aman bila tidak bersama Maha, itu semua karena kebiasaan di perjalananya selama ini.


Akhirnya Cayna pun mengalah.


Saat di kamar, seperti biasa, Maha sibuk menulis. Dan Kanna masih terus membaca dan mempelajari lembaran Karin.

__ADS_1


"Kanna, masih bangun?"


"Aku masih kepikiran sesuatu, Maha."


"Apakah Rahib Cayna melihat sesuatu memakai perasaannya saja sebelumnya? Kira-kira menurutmu bagaimana?" Sambung Kanna bertanya pada Maha.


"Harusnya aku yang bertanya hal itu padamu, apakah di kepercayaanmu, ada ajaran untuk mnegikuti kata hati? Atau bahkan mengkhayal untuk merasakan perasaan itu?"


"Aku juga tidak tahu Maha. Kurasa, level kepercayaan Rahib Cayna jauh lebih besar dibandingkan dengan level kepercayaanku."


"Hei Kanna, apakah kamu pernah diajarkan untuk selalu mengambil langkah sesuai dengan kata hati?"


"Tidak, aku hanya diajarkan bagaimana cara untuk mempercayai adanya ketuhanan."


"Maka baguslah. Kurasa anak-anak seusia kita memang harus pelan-pelan dalam pengajaran."


Kanna lalu membelakangi Maha, dan menyenderkan badannya pada punggung Maha.


"Kenapa lagi kamu?" Tanya Maha, yang tidak tahu apa-apa.


"Pengen aja. Kita lumayan lama tidak menetap di suatu desa seperti ini, terakhir ya di desa para machos."


"Iya, tapi aku tidak menanyakan hal itu, aku menanyakan alasan sebenarnya mengapa kamu menyenderkan badan padaku?"


"Tidak boleh?"


"Ya, terserah deh."


"Hehe... Aku merasa tenang saat berada di sampingmu, Maha."


"Aku juga merasa tenang kalau kamu di sampingku. Karena, kalau kamu jauh dariku, pasti akan menimbulkan masalah pada orang lain." Jawab Maha.


"Hmmm..." Nada Kanna sedikit kesal.

__ADS_1


"Yasudah, aku mau tidur dulu." Ucap Kanna.


__ADS_2