
Setelah berkeliling, Maha dibawa Harley menuju ke kediaman Harley. Yang mana kediamannya Harley lumayan mewah bila dibandingkan rumah-rumah Elf lainnya.
"Tuan Harley, apakah ini adil?" Tanya Maha pada Harley perihal rumahnya.
"Terkesan memang tidak adil, sebagai pemimpin aku terlalu banyak merasakan kemewahan dibandingkan wargaku. Tapi perlu diingat, aku sama sekali tidak andil dalam pembuatan rumah ini. Semua yang ada di sini adalah pemberian dari warga yang ada di sini." Jawab Harley.
"Dia tidak berbohong, Maha. Terlebih lagi, alasannya sangat masuk akal. Ini sama seperti perlakuan warga terhadap rajanya seperti pada ras manusia."
Setelah beberapa perbincangan mereka obrolkan, Maha menjelaskan lagi tentang kehadirannya dan tujuannya datang ke desa Elf. Yaitu mendapatkan ilmu-ilmu baru tentang daratan ini.
"Memang usia kami bisa menyamai usia panjang ras Demon, tapi kami tidak begitu banyak mengerti tentang sihir." Ucap Harley pada Maha.
"Oh tidak-tidak, aku tidak bisa menggunakan sihir, makanya aku hanya ingin belajar pengetahuan umum dari kalian para Elf."
"Oh baiklah. Tapi kau tidak akan menguasainya dalam waktu singkat, setidaknya butuh beberapa tahun untuk menguasainya."
"Kanna?" Maha memastikan Kanna tidak keberatan.
"Tuan Harley, apakah aku bisa mempelajari sihir di sini?" Tanya Kanna pada Harley.
"Tentu, meski tidak akan banyak yang kau pelajari, setidaknya aku bisa menjamin kau bisa mempelajari beberapa sihir dari ras kami." Jawab Harley.
Setelah itu, Maha langsung diantarkan oleh Harley ke sebuah rumah yang dipinjamkan pada Maha dan timnya. Karena timnya ada banyak orang, makanya Harley memberikan rumah yang sedikit luas pada Maha. Dan karena hanya ada tiga kamar, jadi pembagian diserahkan pada Maha. Karena Maha terbiasa sekamar dengan Kanna, dia akan sekamar dengan Kanna, Ryu dengan Richard, dan Reha dengan Rya. Zia? Meskipun dia telah lama pergi dari desa Elf, setidaknya saat kembali rumahnya masih ada, akhirnya dia tinggal di sana.
Malamnya Maha dan Kanna berbincang, seperti yang dulu sering mereka lakukan. Karena akhir-akhir ini mereka jarang mengobrol, mereka pun mengobrol sampai pagi hari.
"Kanna?" Panggil Maha pada Kanna yang audah berselimut, sambil Maha menulis di bukunya.
"Iya?"
"Kita sudah sejauh ini. Kira-kira menurutmu setelah mendapatkan pengetahuan dari sini, kemana kita akan pergi?"
"Sebenarnya, Maha... Aku ingin kembali ke Rayya, walau bagaimanapun Rayya pasti akan segera membutuhkan bantuanmu."
"Benar juga. Dan, aku yakin Je pasti sedang berjuang mempertahankan Rayya. Apakah menurutmu Je makin berkembang saat kita meninggalkan Rayya?"
"Aku rasa kalau kamu sangat percaya padanya, dia tidak akan mengecewakan kepercayaanmu itu."
"Kau tau Kanna, disaat seperti ini.... Aku merindukan masa-masa di akademi dulu."
"Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Tidak ada alasan khusus... Aku dulu mungkin memang tidak begitu akrab dengan banyak orang di akademi, entah mengapa aku tetap rindu akan suasananya."
"Ngomong-ngomong tentang akademi, bukankah kau harus berterimakasih padaku, Maha?"
"Minta maaf karena apa?"
"Aku dulu pernah melindungimu dari pukulan senior di akademi kan?"
"Benar juga, tapi bukankah itu sudah lama sekali, Kanna?"
"Kau meragukan daya ingatku, Maha? Aku tidak akan lupa awal pertemuan kita. Terlebih lagi, kau tiba-tiba datang entah darimana bersama Jeevan."
"Ya begitulah, aku dulu bisa bertemu dan berteman dengan Je, karena aku merasa kalau dia tidak memiliki teman."
"Iya, aku hanya beberapa kali sih berbicara dengannya saat masih di Gereja Suci."
"Nah ngomongin Gereja Suci, apakah kepercayaanmu itu tersebar di daratan ini, Kanna?"
"Aku rasa hanya orang-orang Rayya, atau orang yang pernah tinggal di Rayya, seperti Rahib Cayna saja yang tahu."
"Aneh sekali."
"Kau yang aneh Maha, semua orang di Rayya memiliki kepercayaan, dan kau tidak memilikinya. Padahal kepercayaan di Rayya cuma satu."
"Ya, terlebih lagi, kepercayaan di Rayya melarang untuk membandingkan kepercayaan lain dengan kepercayaan di Rayya. Daripada menjadi sebuah perdebatan lebih baik dipelajari sendiri."
"Baiklah... Apakah kau tidak mengantuk, Kanna?"
"Hmm... Sepertinya tidak, kita sudah lama tidak ngobrol berdua begini."
"Kita akan banyak mengobrol kalau kau tidak terbawa suasana seperti sebelumnya."
"Kalau itu, aku minta maaf, Maha. Aku benar-benar kehilangan kendali atas diriku sendiri."
"Kau juga mengerti sifatku kan, Kanna? Selain rencanaku yang selalu berhasil, aku juga memiliki ego yang tinggi. Aku sebenarnya merasa kalau kau bisa mengerti aku dalam hal itu, tapi sepertinya sifat kita memang tidak sama. Aku dengan egoku yang tinggi, dan Kanna, kau memiliki sifat belas kasih. Dan hal itu yang membuatku senang berada di sampingmu, aku berharap hal itu tetap ada pada dirimu."
"Apakah artinya kau menyukaiku, Maha?"
"Dengan sifatmu yang seperti itu, siapa yang akan membencimu?"
"Bukan itu maksudku."
__ADS_1
"Kanna, kita masih bocah yang umur dua belas tahun. Tidak perlu memikirkan sesuatu yang serius, yang bisa kau percayakan padaku adalah kedamaian yang kau harapkan dahulu."
"Baiklah, Maha. Setidaknya, aku akan terus mendampingimu apapun situasinya nanti."
"Benarkah?"
"Ya tentu saja, aku akan usahakan untuk berada di pihakmu."
"Baiklah."
Lalu mereka ngobrol basa-basi sampai pagi. Dan ya, begadang.
Esok harinya, tim Maha berkumpul di rumah itu, termasuk Zia. Dan oh ya, Maha tidak ikut kumpul, karena sudah pergi duluan ke tempat tetua Elf.
"Zia, kau tidak apa-apa?" Tanya Kanna pada Zia.
"Iya, Kanna. Kurasa aku semakin membaik, setelah pulang ke desa."
"Baguslah, dan karena kita akan tinggal di sini sementara untuk Maha menyelesaikan tujuannya, dan maka dari itu, aku memiliki beberapa pekerjaan yang akan kalian lakukan selama ada di sini." Ucap Kanna.
"Tunggu, Kanna... Dimana Tuan Muda?" Tanya Richard.
"Maha, sudah memulai tugasnya." Jawab Kanna.
"Apakah dia tidak akan kembali ke sini nantinya?"
"Hmmm... Kurasa dia akan berangkat pagi, dan pulang malam-malam. Untuk itu dia percayakan kalian padaku."
"Oh baiklah, jadi apa yang bisa kami lakukan?"
"Tidak ada." Jawab singkat Kanna.
"Loh?" Richard kaget.
Reha menendang kaki Richard.
"Kau mau apa Richard? Kita harus bersyukur tidak harus melakukan apapun." Ucap Reha.
"Reha, aku bisa bertanya? Kenapa kau akhir-akhir ini sering menjahiliku?" Tanya Richard pada Reha.
"Richard, bukankah sudah jelas? Reha menyukaimu." Celetuk Ryu sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Rya bisa kau pegang Ryu? Akan kutendang juga dia." Ucap Reha pada Rya, lalu Rya dan Zia langsung memegang kedua tangan Ryu.
Reha lalu melangsungkan tendangannya ke arah perut Ryu.