MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Garaga


__ADS_3

"Kalung apa ini?" Sambung Reha bertanya pada Maha.


"Seorang Demon, memberikannya padaku."


"Ini adalah aksesoris dengan daya sihir tinggi. Mungkin kalau dipakai oleh Demon aksesoris ini biasa saja, namun kalau dipakai manusia beda lagi."


"Dia berkata padaku kalau ini bisa meminimalisir daya sihir yang mengancamku."


"Tidak Maha. Kalung ini lebih dahsyat dari sekedar itu bila dikenakan manusia. Kalung ini bisa memberikan serangan balik pada siapapun yang berniat jahat padamu." Jelas Reha.


"Aku tidak tahu kalau sekuat itu." Jawab Maha.


"Maha, bukankah sebelumnya kamu bilang alat ini memberikan efek kejut pada Demon yang pernah kita hadapi sebelumnya." Sahut Kanna.


"Benar juga, kurasa yang dikatakan Reha benar adanya." Jawab Maha.


"Ngomong-ngomong, apakah Garaga bisa dikalahkan?" Sambung Maha bertanya pada Reha.


"Bisa, tapi memerlukan daya sihir yang besar untuk melawannya. Terlebih lagi, Garaga tidak bisa diam. Mungkin kalau kau memperkecil ruang geraknya, akan memudahkanmu untuk melawannya." Jelas Reha.


"Apakah kamu bisa melakukan itu?"


"Memperkecil ruang geraknya? Aku bisa, tapi aku tidak bisa mengeksekusinya." Jawab Reha.


"Kanna mungkin bisa melakukan eksekusi padanya. Beberapa hari belakangan, Kanna tidak memakai sihirnya, jadi kurasa sihirnya masih lumayan banyak untuk mengeksekusinya." Jelas Maha.


"Ular biasa mungkin akan takut pada bau-bau yang menyengat, tapi apakah Garaga juga begitu?" Sambung Maha bertanya.


"Bau menyengat?" Tanya Reha.


"Ya, ular memiliki indra penciuman yang bagus. Dia memiliki organ vomeronasal di atas lidahnya yag berfungsi untuk menganalisa aroma yang berada disekitarnya. Dan juga, ular memiliki penglihatan yang kurang. Aku penasaran apakah Garaga juga seperti ular pada umumnya." Jelas Maha.


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Intinya, ular memiliki penglihatan yang kurang, jadi dia lebih menggunakan indera penciumannya."


"Aku tidak pernah tahu tentang fakta itu. Tapi, daripada kita kenapa-kenapa lebih baik kita jalankan rencana pertama tadi." Ucap Reha.


"Kanna?"


"Iya Maha. Aku sudah menyiapkan sihir yang memungkinkan untuk mengalahkannya." Jawab Kanna, yang terlihat memikirkan sesuatu.


"Oiya, dan jangan segan-segan untuk membunuhnya. Tidak ada bagian khusus yang bisa diambil dari Garaga ini, kecuali batu jiwa yang ada di dalam dirinya." Jelas Reha.


"Batu jiwa?" Tanya Maha, heran.


"Ya, kalau kita bisa menghancurkan batu itu, maka Garaga akan tewas seketika."


"Di bagian mana letak batu itu?"

__ADS_1


"Yang kutahu, batu itu berada di bagian kepalanya."


"Luar atau dalam?"


"Sepertinya di dalam."


"Kanna, berarti tugasmu mudah. Nanti kalau Reha berhasil melakukan penguncian, kamu tinggal lontarkan batu dengan sihir bumi, pada kepala Garaga." Ucap Maha pada Kanna.


"Batu?" Kanna bertanya.


"Ya, aku yakin batu jiwa yang dimaksud Reha adalah otak dari Garaga ini."


"Baiklah, Maha. Aku mengerti." Ucap Kanna.


Mereka pun bersiap menghadapi Garaga. Yang mana, pada itu Garaga sedang mencari mereka di hutan itu.


Tak lama, akhirnya mereka menemukan posisi Garaga, namun sangat disayangkan nasib yang tidak mengenakkan terjadi, mereka salah mengambil posisi, yang menyebabkan mereka tidak bisa bergerak kemana-mana.


Maha, Kanna dan Reha berada di belakang Garaga, yang mana bila mereka bergerak maka ketahuanlah mereka.


"Immobilize." Sihir Reha yang mengurung Garaga.


"Kanna?" Ucap Maha, yang membuat dirinya sendiri kaget.


Kanna tidak lagi bersama mereka, kesana-kemari mata Maha mencari posisi Kanna. Ternyata, Kanna berada di depan ular Garaga, sedang berusaha mengeluarkan sihir buminya.


Singkatnya, Garaga itu telah berhasil dikalahkan, meski Maha berujung pingsan.


Di dalam pingsannya, lagi-lagi Maha bertemu dengan seseorang yang pernah muncul di mimpi sebelumnya.


"Perlindungan yang bagus, nak."


"Tenang saja, Kanna baik-baik saja."


"Kalian telah mengalahkan seekor Garaga yang memiliki serangan api, api ini bukanlah sihir jadi tidak bisa kau tahan dengan perlindungan yang kau punya."


Jelas orang itu, yang membuat Maha semakin ingin untuk bertanya padanya, tentang siapa sebenarnya dirinya.


"Tenanglah nak. Anggap saja, aku adalah dirimu. Aku akan sering datang kalau kau dan Kanna dalam keadaan genting." Sambungnya.


Setelah itu, singkat cerita bangunlah Maha dari pingsannya.


Pertama kali membuka matanya, yang Maha lihat adalah seorang Kanna yang sedang menangis. Dan, ya langit-langit rumah Reha.


Kanna saat menyadari Maha yang terbangun, dia langsung memeluk Maha.


"Hiks... Hiks... Maha... Maafkan aku." Ucapnya.


"Aku juga tidak mengidentifikasi Garaga dengan benar, jadi ini salahku juga." Jawab Maha.

__ADS_1


"Maha, sepertinya kau sangat mencintai saudarimu." Celetuk Reha.


"Aku hanya melindunginya. Dan ya, kukira api dari Garaga adalah sihir, ternyata bukan."


"Bukan sihir?"


"Iya itu api alami milik Garaga." Jelas Maha.


Kanna masih menangis di pelukan Maha, Kanna terus-terusan menangis, belum bisa tenang. Reha yng duduk di samping mereka pun pergi untuk melihat jasad Garaga, siapa tahu ada yang bisa di ambil darinya.


"Sudah, ya?" Ucap Maha berusaha menenangkan Kanna.


Namun, Kanna tak kunjung tenang. Mungkin saja dia syok, Maha tahu Kanna yang syok akan susah untuk ditenangkan, makanya dia tetap membiarkannya untuk menangis dipeluknya.


"Maha, sudah banyak kau mengalami penderitaan gara-gara aku, hanya dalam perjalanan ini."


"Itu pilihanku sendiri, Kanna. Tidak perlu untuk merasa bersalah. Oiya aku punya kabar baik untukmu."


"Apa?"


"Aku berjanji padamu untuk menghilangkan sifat kejamku. Aku janji."


"Tapi aku suka sifat kejammu."


"Kenapa kamu menyukai sifat burukku?"


"Ya sudah, berjanjilah. Dan aku akan menuruti permintaanmu sebelumnya, Maha."


"Yang mana?"


"Maha pernah bilang pada Kanna untuk menggunakan aksen saat Kanna masih kecil." Ucap Kanna, tanpa menjelaskan apa permintaan Maha, Maha pun mengerti maksud Kanna setelah mendengar ucapannya.


"Terimakasih Kanna. Tapi, bisakah kamu lepas pelukanmu? Sembuhkan aku dengan Holy Healing-mu." Ucap Maha.


Kanna pun melepaskan pelukannya dan memberikan sihir pada Maha.


Tak lama setelah itu, Reha datang dengan beberapa barang bawaan.


"Aku mendapatkan beberapa barang dari Garaga, jual taring Garaga ini pada guild yang kalian temui di kota selanjutnya." Ucap Reha.


"Apakah ini akan terjual mahal?"


"Setidaknya, ini bisa untuk kalian membeli makanan untuk beberapa hari atau minggu kedepannya. Aku sarankan, kalian mencari uang dulu di kota selanjutnya." Jelas Reha.


"Aku akan berada di tempat Marry Trembles dalam tiga bulan, aku akan menunggu kalian di sana, jadi jangan dahului aku." Sambung Reha.


Maha dan Kanna pun mengerti yang diucapkan Reha.


Beberapa saat kemudian, Maha dan Kanna segera melanjutkan perjalanan mereka.

__ADS_1


__ADS_2