MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Gua


__ADS_3

Maha hanya duduk dan terus mengganti kompres yang berada di dahi Kanna, dengan harapan deman Kanna cepat berlalu.


Namun, muncul sebuah masalah saat Maha sedang mengawasi Kanna. Sebuah badai tiba-tiba terjadi di luar gua, meski Maha dan Kanna berada di samping api unggun, tetap saja Maha merasa angin dingin badai menusuk ke dalam tubuhnya.


Maha pikir ini bukanlah hal yang bagus, terlebih lagi Kanna sedang mengalami demam, yang sewaktu-waktu bisa saja makin memburuk.


Maha melepas jubah yang ia kenakan, dan menyelimutkannya pada Kanna yang sedang tidur. Meski Maha merasa dingin, setidaknya dia menghilangkan salah satu beban pikirannya.


Tidak lama setelah Maha memberikan jubahnya pada Kanna, yang Maha dapatkan adalah nafas berat karena kedinginan. Seperti sesak nafas, tubuh Maha terjatuh menyamping di samping tubuh Kanna.


Malam itu sungguh malam yang berat untuk dilewati oleh seorang Maha. Sepanjang malam, yang ia rasakan hanyalah kedinginan, hingga waktu fajar tiba.


Badai telah berakhir, Kanna mulai membuka matanya, Kanna terbangun karena isi perutnya yang kosong. Hal pertama yang dilihat oleh Kanna adalah seorang Maha yang tersungkur sujud.


"Maha... Maha!!" Teriak Kanna sambil menggoyang-goyangkan tubuh dinginnya Maha.


Kanna lalu tersadar, kalau jubah Maha ia kenakan untuk selimut. Kanna mulai berpikir tidak tenang, karena tubuh Maha benar-benar dingin, dan saat Kanna mengecek detak nadi di tangan Maha, ia mendapati detak nadi yang lemah.


Kanna membalikkan tubuh Maha, dan menempelkan telinganya ke dada Maha, mengecek detak jantung. Dan benar saja, detak jatung itu sangat lemah.


Kanna lalu menggunakan Holy Healing nya berkali-kali pada Maha, namun tidak menghasilkan sesuatu yang baik.


'Baiklah, ketika seperti ini apa yang kira-kira Maha lakukan bila aku berada di posisinya?' Pikir Kanna.


Kanna mengambil jubahnya Maha dan menyelimutkannya pada Maha, harapannya agar tubuh Maha tidak kedinginan. Namun, belum lagi membuahkan hasil.


Di lain sisi, Maha yang nampak lemas dari luar, kini dia sedang bertemu dengan seseorang dalam pingsannya itu.


"Maha." Ucapnya.


"Bukankah kamu merasa kasihan kepada Putri Kanna yang berusaha membangunkanmu?"


"Ayolah nak, bangunlah."


"Bangun dan buatlah Kanna tidak lagi merasa khawatir."


Maha hanya terdiam dan tidak bisa membalas setiap perkataan orang itu, dalam sugesti di kepala Maha, yang ia lihat adalah Nathan, walaupun Maha masih ragu kalau itu benar-benar Nathan.


Tidak lama setelah itu, bangunlah Maha dari pingsannya secara tiba-tiba. Hal pertama yang dia lihat adalah Kanna, dengan telapak tangan yang terbakar oleh api. Dan raut wajah yang seolah menahan rasa sakit.

__ADS_1


Maha yang menyadari kalau Kanna sedang menggunakan sihir api terlalu lama, dia lalu memegang kedua telapak tangan Kanna.


Dan Kanna menghentikan sihir apinya, dan segera memrluk Maha yang baru terbangun dari pingsannya itu.


"Hiks... Hiks..."


"Siapa yang menyuruhmu untuk memaksakan diri Kanna?" Tanya Maha, pada Kanna yang menangis tersedu-sedu di pelukan Maha.


"Aku tidak ingin berkelana sendirian, Maha."


Maha mengelus pundak Kanna yang masih menangis dipeluknya, sambil terus mengingat, siapa yang tadi muncul dalam mimpinya saat pingsan. Dan mengapa dia tidak bisa menjawab setiap perkataan orang itu.


Setelah beberapa saat mereka berpelukan, Kanna akhirnya melepaskan pelukannya.


"Apakah kamu merasa pusing Kanna?"


"Tidak... Aku tidak merasakan pusing sama sekali, aku hasebelumnya hanya merasakan tubuhku tiba-tiba lemas. Aw..." Kanna kesakitan saat mencoba menggenggam tangannya sendiri.


"Biarkan aku yang mengobati." Ucap Maha. Lalu Kanna menunjukkan kedua tangannya pada Maha, Maha mengeluarkan beberapa alat medis dari tasnya.


"Lain kali, jangan memaksakan diri. Aku yakin kamu panik kan? Dan tidak berpikir tenang?" Tanya Maha, sambil mengoleskan sebuah salep.


"Aku akan marah padamu bila kamu tidak berpikir jernih lain kali, untuk sekarang aku akan berterimakasih padamu, Kanna." Sambung Maha, lalu menundukkan badan ke arah Kanna.


"Kalu begitu, aku juga berterimakasih. Kau merawatku tadi malam, dan sepertinya gara-gara kau berikan jubahmu padaku, makanya hal seperti tadi bisa terjadi. Aku meminta maaf." Kanna menundukkan badan.


Maha tidak menjawab ucapan Kanna, dan langsung berdiri, meregangkan badannya seolah baru bangun tidur.


"Bagaimana Kanna? Bukankah seru, berkelana dan mengandalkan satu sama lain?" Tanya Maha, tersenyum dan menatap ke luar gua.


Kanna hanya memperhatikannya dan tidak menjawabnya.


"Kita akan belajar banyak hal dari perjalanan kita Kanna, persis seperti yang kupikirkan sebelumnya." Ucap Maha nampak senang.


Kanna yang saat itu menyadari tentang ucapan Maha, dia pun merasa lega dan tenang. Dan bersumpah pada dirinya sendiri untuk terus percaya pada Maha.


Kanna yang masih terduduk di lantai gua, dia lalu mengatakan sesuatu pada Maha.


"Maha... Selamat ulang tahun." Ucap Kanna.

__ADS_1


Maha kaget, dan segera menoleh ke arah Kanna. Kanna mengatakan hal itu dengan senyum yang tulus.


"Kalau hari ini adalah ulang tahunku, berarti hari ini adalah ulang tahunmu juga, Kanna." Balas Maha, dengan senyuman riang di raut wajahnya.


Mereka pun berniat bermalam lagi di gua itu untuk semalam, dan berniat melanjutkan perjalanan mereka di esok hari.


Singkat cerita, hari menjelang sore, yang mereka lakukan hanya duduk di depan api unggun sepanjang hari.


"Bosan sekali." Celetuk Maha.


"Hmmm..." Balas Kanna yang seolah malas menjawab.


"Maha, apakah saat usia kita sudah melewati usia sepuluh tahun maka kita bukan lagi anak-anak?" Sambung Kanna membuka obrolan.


"Ho~ Tumben kamu bertanya hal itu?"


"Aku penasaran saja."


"Tidak penting hal itu, Kanna. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menyikapi setiap peristiwa yang kita lalui. Makanya berkelana inilah yang akan membangun diri kita yang sebenarnya, maka nikmatilah." Jelas Maha.


"Ngomong-ngomong tentang anak-anak. Aku suka kamu yang dulu masih memakai namamu saat memanggil dirimu." Sambung Maha.


"Yang seperti apa?"


"Seperti ini contohnya... Kanna kan haru makan, kalau Kanna tidak makan nanti Kanna sakit. Nah begitu." Jawab Maha sambil sedikit menahan tawa.


Kanna menutup mukanya dengan kedua tangannya, karena hal itu dianggapnya adalah masa lalu yang memalukan bagi Kanna.


"Setidaknya, aku berharap kamu mengembalikan sifat lucumu yang dulu, Kanna. Aku sangat menyukainya, meskipun akan merepotkanku." Ucap Maha.


Hari semakin malam, mereka pun berniat untuk segera tidur. Tapi, Maha menolak untuk tidur.


"Kenapa Maha?"


"Kamu saja yang tidur, aku akan berjaga."


"Yakin?"


"Tenang saja, aku telah menyiapkan sesuatu, bilamana nanti terjadi sesuatu yang berbahaya."

__ADS_1


Kanna yang sudah sangat percaya pada Maha pun segera tidur, dan beristirahat. Dan tidak lupa berdoa, untuk keselamatan dan kesehatan mereka.


__ADS_2