MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Sobekan Kedua


__ADS_3

"Haa~ahhh... Tertusuk lagi? Apakah kau tidak merasakan sakit Maha setelah ditusuk dua kali?"


"Apa maksudmu, Hain? Ya sudah pasti aku merasakan sakit, lalu apa? Apa aku harus teriak-teriak? Bagaimana caraku teriak, sedangkan tubuhku telah mati?"


"Oh benar juga, sangat masuk akal."


"Jadi? Apakah cara kembali masih sama seperti sebelumnya?"


"Yaa..."


Taa yang merasa telah membunuh Maha ia berniat untuk meminta pada para pengawalnya untuk menyingkirkan jasad Maha, dan juga berniat memberitahukan pada tim Maha, bahwa Maha tidak bisa diganggu nantinya.


Ya itu cuma niat Taa, Maha yang hidupnya abadi tidak akan mati semudah itu. Taa yang akan beranjak pergi kaget, karena Maha terbangun meski kondisi dadanya berlubang sama seperti sebelumnya.


"Aku bilang padamu, Taa. Aku tidak akan mati semudah dan semuda ini." Ucap Maha yang membuat Taa kaget.


"Kau... Bagaimana kau bisa bertahan hidup setelah menerima tusukanku?" Tanya Taa tegang.


"Keadilan tidak akan mati Taa, aku benar-benar akan menguasai daratan ini dengan kedamaian. Aku tidak akan mengancam apapun pada siapapun. Perlu diingat bahwa aku tidak asal bicara, apa yang aku ucapkan akan aku pertanggungjawabkan." Jawab Maha.


Taa kembali duduk di hadapan Maha. Kali ini dengan wajah seriusnya.


"Apakah aku telah meremehkanmu?" Tanya Taa.


"Tidak. Kau tidak meremehkanku, kau tidak percaya padaku. Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar lagi padamu. Hanya perlu kau ingat, bahwa aku adalah manusia yang abadi hingga tiba batas waktunya." Jawab Maha.


Taa yang merasa bersalah, karena telah meremehkan Maha ia meminta maaf pada Maha, apalagi Taa sampai menusuk Maha.


Setelah meminta maaf pada Maha, akhirnya Taa mulai memberikan pengetahuannya pada Maha.


Seharian Maha berada di kediaman Taa, saat malam Maha disuruh kembali ke rumah yang dipinjamkan Harley. Dan segeralah pulang Maha.


Di sepanjang perjalanannya menuju rumah, Maha melihat kanan-kiri, rumah para Elf yang sudah tidak ada lampu menyala, Maha rasa karena memang sudah terlalu larut.


Sesampainya di rumah pinjaman itu, Maha melihat Kanna di depan pintu rumah tersebut, dan sepertinya sedang menunggu Maha.


"Kenapa kau di luar, Kanna?"


"Menunggumu."


"Seharusnya kau tunggu aku di dalam, di luar dingin."


Maha dan Kanna pun masuk kerumah, dan langsung Kanna menghidangkan makanan untuk Maha.


"Makanan ini, Zia yang membuatnya. Dia bilang ini adalah makanan khas dari ras Elf, dan menurutku ini cocok untukmu, Maha."


"Cocok untukku?"

__ADS_1


"Iya. Kupikir karena ini cocok untukku, berarti ini juga akan cocok untukmu."


"Emmm begitu?" Maha lalu menepuk kepala Kanna, layaknya seekor kucing.


Kanna senang dengan perlakuan Maha itu. Tapi...


"Maha?"


"Ya?" Sahut Maha dengan keadaan masih tersenyum dan tangan masih di atas kepala Kanna.


"Dadamu berlubang? Lagi?"


Maha mendengar pertanyaan Kanna itu langsung menutupi lukanya dengan jubahnya.


"Eh?"


"Biar aku sembuhkan."


"Ini tidak apa-apa, Kanna."


"Bisa infeksi lho Maha. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"


Lalu selagi Kanna menyembuhkannya, Maha menceritakan apa yang terjadi di hari itu, yang ia lalui saat meninta pengetahuan pada Taa.


"Menyusahkan sekali. Kupikir tidak bisa mati adalah hal yang bagus untukku, karena tidak merasakan mati dan rasa sakit. Ternyata sama saja, aku tetap merasakan sakit."


"Iya, Kanna. Aku minta maaf, aku akan usakan ini kematianku yang terakhir."


Setelah itu, Maha menyelesaikan makannya, dan mereka pun segera tidur karena malam makin larut.


Di kamar mereka ada dua kasur, dan Maha benar-benar yakin kalau sebelumnya Kanna berada di kasur yang berbeda dengan Maha, tapi saat Maha terbangun pada dini hari, Kanna telah berada di pelukannya.


"Kanna?"


"Emm?" Kanna merespon, meski matanya masih tertutup.


"Kenapa kau pindah ke kasurku?"


"Aku takut kau pergi."


"Kanna." Panggil Maha sekali lagi, kali ini dengan menggerakkan badan Kanna. Yang membuat Kanna terbangun, dan kaget karena dia berada di hadapan Maha.


"Maha. Aku tidak tahu kalau kau diam-diam berbuat begitu padaku." Ucap Kanna, menjauhkan diri dari Maha.


Maha dengan muka datarnya menunjuk ke kasur yang seharusnya Kanna tempati. Kanna pun menoleh ke yang ditunjuk Maha, lalu menyeringai.


"Kamu kenapa, Kanna? Apakah hanya sehari jauh dariku membuatmu..." Belum selesai ngomong, mulut Maha lalu ditutup oleh Kanna.

__ADS_1


"Aku malu mengakuinya, Maha." Ucap Kanna lalu menutupi mukanya dengan kedua tangannya.


"Apakah kau mau dipeluk?" Tanya Maha berniat bercanda, tapi Kanna malah mengangguk.


"Eh? Aku cuma bercanda lho." Ucap Maha yang membuat Kanna cemberut.


Akhirnya, dengan penuh keterpaksaan, keterpaksaan, Maha memeluk Kanna.


Singkat cerita esok paginya, tim Maha berkumpul, dan sedikit berdiskusi dengan Maha. Maha ingin agar semua tidak khawatir dengan Maha yang di hari sebelumnya tiba-tiba menghilang.


"Jadi semuanya, aku minta maaf karena kemarin aku tiba-tiba pergi dan menyerahkan semuanya pada Kanna. Aku ingin pertemuan kita setiap seminggu sekali seperti ini, agar selalu terjalin komunikasi saja diantara kita." Ucap Maha.


"Ya, Tuan Muda. Kanna memberitahukan hal yang sama, dan aku rasa itu ide yang bagus. Dan juga Kanna memberitahukan sedikit identitas kalian, dan berjanji akan memberitahu segala rahasia identitas kalian, setelah kita berada di kerajaan asli kalian, yaitu Rayya." Ucap Richard.


"Baguslah, selagi aku tidak berada di sekitar kalian, aku pasrahkan segalanya pada Kanna. Dan aku meminta tolong pada kalian untuk menjaga Kanna."


"Tuan Maha, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan hari ini juga." Ucap Ryu.


"Apa itu Ryu?"


"Siapa sebenarnya roh yang ada di dalam dirimu?"


"Roh? Tentu, roh ku. Apa maksudmu."


"Kau semakin bertambah usia, apakah kemampuan tangkap otakmu mulai turun, Maha?"


"Apa maksudmu, Hain?"


"Ryu menanyakan tentangku, bukan roh muasalmu."


"Oh iya kah?"


"Oh maaf Ryu, maksudmu roh yang bersemayam dalam jiwaku?"


"Iya Tuan."


Maha menunjukkan sobekan pada bagian dada jubahnya, yang sebelumnya beberapa kali ditusuk.


"Lihat sobekan ini, Ryu? Aku dua kali mati sebelumnya." Ucap Maha.


"Dua kali? Bukannya sekali, Tuan Muda?" Kaget Richard, karena dia hanya tahu Maha mati hanya sekali.


"Tunggu-tunggu, apa... Apa yang kalian bicarakan?" Ryu bingung.


"Aku sudah dua kali mati, Ryu. Dan anggap saja roh yang bersemayam di jiwaku ini yang menyelamatkanku dari kematian." Ucap Maha.


Ryu, Rya, Reha dan Zia kaget dengan pernyataan Maha itu, sedangkan Richard bingung kapan Maha mati untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Baiklah, karena sudah semakin siang, aku akan kembali belajar pada Taa. Sekali lagi, ikuti omongan Kanna, karena bisa jadi aku memberikan pesan pada kalian." Ucap Maha lalu pergi dari rumah itu menuju Taa.


__ADS_2