
Jeevan yang menunggu Maha selesai membaca buku, akhirnya mulai membaca buku juga. Namun, berbeda dari Maha yang membaca buku pengetahuan, buku yang Jeevan baca adalah buku dongeng.
Yang mana dongeng itu bisa membuat Jeevan merasa sangat takjub, sampai-sampai membuat Jeevan mengeluarkan suara untuk mengekspresikan perasaannya saat membaca dongeng itu.
Dan hal itu cukup mengganggu Maha, dan Maha mengucapkan satu kata yang ada di bukunya dengan sedikit keras.
"Mati." Ucap Maha, agar Jeevan tenang.
Jeevan pun kaget, dan terdiam setelah mendengar ucapan Maha. Dan tertunduklah Jeevan, lalu Ia melanjutkan membaca dongeng itu dengan suara sangat pelan.
Sekian lama Jeevan menunggu Maha, akhirnya Maha selesai membaca sepuluh tumpuk buku, persis seperti yang ia tuliskan di kertas itu.
"Akhhh..." Erangan Maha, seolah puas membaca.
"Sudah?" Tanya Jeevan.
__ADS_1
"Ya..."
Mereka pun bersiap pulang ke asrama, karena tak terasa ternyata hari sudah menunjukkan waktu petang.
Di tengah perjalanan mereka, Jeevan bertanya pada Maha, mengenai buku apa saja yang telah Ia baca.
"Buku tentang Alkimia, aku merasa ilmu-ilmu ini cocok untukku." Ucap Maha membalas pertanyaan Jeevan.
"Di saat yang lain sibuk belajar sihir, dan kamu malah belajar dasar ilmu sihir?"
"Susah memang menebak sifatmu Maha." Ucap Jeevan yang bingung mau menjawab apa.
Sesampainya di asrama, mereka pun bersiap makan. Sekali lagi Jeevan bilang pada Maha kalau hari telah menunjukkan waktu malam, itulah jam terakhir makan di asrama. Jeevan memberitahu lagi agar tidak terjadi hal-hal seperti sebelumnya.
Singkat cerita, setelah makan malam, Maha berniat menuliskan semua hal yang tadi Ia baca waktu perpustakaan, Ia menulisnya di buku pemberian ayahnya.
__ADS_1
Ia menuliskan segala yang Ia ingat. Lalu Ia berpikir, kalau Ia menuliskan segala hal tentang buku yang tadi Ia baca, buku pemberian ayahnya akan segera habis.
Akhirnya Ia hanya menuliskan poin-poin penting di buku itu, dan Ia berniat untuk selalu membaca buku setiap pulang dari akademi nantinya.
Maha melanjutkan menulis dibukunya, Ia sempat terhenti karena berpikiran sesuatu. 'Kalau aku bersekolah di akademi, nantinya akankah banyak hal baru seperti ini? Wah menarik sekali. Aku berharap bisa menemukan ilmu seperti ini lainnya.'
Maha yang menuliskan banyak poin di bukunya sampai lupa dengan waktu, kini waktu telah larut malam. Ia pun berniat tidur, agar besok bisa kembali ke perpustakaan lagi, untuk membaca buku.
Maha adalah tipe orang yang bersemangat bila Ia menemukan hal-hal baru, seperti ilmu Alkimia ini, yang sebelumnya Ia tidak pernah diajari oleh Nathan.
Pagi tadi ada acara penyambutan pelajar baru, lalu kapankah pembelajaran dimulai? Sebenarnya pembelajaran itu di mulai dua hari setelah Maha pindah ke asrama, yang berarti esok lusa adalah hari pertama Maha di Akademi Kerajaan.
Esok paginya, Maha terbangun di saat sang fajar belum muncul. Ia pun segera mencuci muka, dan keluar ke halaman asrama, berniat untuk menghirup udara pagi yang sejuk. Sama seperti sebelum Ia pindah ke asrama, yang mana hal ini adalah rutinitasnya.
Lalu Maha terkejut karena tiba-tiba Ia mendengar teriakan seseorang dari dalam asrama, "Maha...!! Maha...!!"
__ADS_1
Maha pun segera sadar suara siapa yang sedang teriak di dalam asrama. Siapa lagi kalau bukan Jeevan pikirnya.