
Robert memasukkan pedangnya lagi.
"Apa mau mu nak?" Tanya Robert.
"Seperti yang kubilang sebelumnya. Aku hanya ingin berjalan-jalan dengan saudariku, Kanna. Daripada membuang-buang waktu, lebih baik tinggalkan kami. Kami tidak akan berbuat onar di kota ini, kalau perlu pantau saja kami." Jawab Maha.
"Akan kupantau kau dalam seminggu, kalau tidak berbuat onar, maka aku akan percaya padamu. Kalau sampai berbuat onar, pengadilan akan terbuka untukmu." Jelas Robert lalu naik ke kereta kudanya, dan meninggalkan Maha dan Kanna.
"Kanna, kenapa diam saja?"
"Kanna tidak tahu harus berbuat apa, dari tadi Kanna mencoba untuk membaca suasana yang ada, dan berusaha menebak apa yang sedang Maha rencana, yang kemungkinan Maha lakukan. Ternyata, tetap tidak bisa." Jelas Kanna.
"Hee~ Kurasa tidak perlu sejauh itu. Tapi bagus Kanna, pilihanmu diam yang diam saja adalah hal yang bagus. Untuk itu akan aku beri hadiah padamu."
"Hadiah apa, Maha?"
Karena hari sudah mulai sore, Maha pun mengajak Kanna untuk membeli makanan, tak lupa mengajak Richard juga.
Mereka pergi ke satu tempat makan yang ada di kota itu, dan segera memesan makanan. Selagi menunggu makanan yang mereka pesan datang, mereka sempat sedikit mengobrol.
"Richard."
"Iya tuan muda?"
"Apa yang kamu rasakan ketika tiba-tiba aku panggil tadi? Kamu langsung datang di sampingku lho."
"Aku seperti mendengar suaramu memanggilku lewat pikiranku, tanpa kusadari aku sduah berpindah tempat dan tunduk di sampingmu. Karena reflek tunduk, jadi aku langsung seolah tegas di hadapan Robert, dan oiya itu juga, aku saat berada di hadapan Robert, aku langsung sadar kalau namanya adalah Robert." Jelas Richard.
"Maha. Apakah kira-kira perpindahan Richard ini sama seperti sihir teleportasi milik Kanna?" Tanya Kanna pada Maha.
"Hain?"
"Anggap saja sama. Dan juga sepertinya, kau dan Richard memiliki ikatan antara majikan dan bawahan. Yang mana membuat Richard perlahan mulai memahamimu."
"Aku pikir itu adalah hal yang sama, Kanna. Dan juga Richard, kupikir setelah ini kamu tidak perlu seformal tadi saat bertemu Robert. Santai saja. Aku tidak mau ada orang yang lebih tua tunduk padaku, kecuali orang itu orang jahat yang aku taklukan, dan kurasa kamu orang baik." Jelas Maha.
__ADS_1
"Setidaknya biarkan aku memnggilmu Tuan Muda." Ucap Richard. Maha mengangguk mengiyakan ucapan Richard.
Beberapa saat kemudian, makanan mereka tiba, dan mereka segera memakannya. Setelah makan, Maha dan Kanna kembali ke penginapan. Sedangkan Richard, dia masih terus berjalan dan mengawasi kota. Apalagi dia sekarang agak tidak terlalu kepikiran tentang Maha yang bisa saja terkena masalah, karena Richard sudah tahu kalau Maha bisa memanggilnya
Di saat berada di kamar penginapan, Maha dan Kanna menghabiskan waktu mereka untuk mengobrol seperti biasa.
Singkat cerita, besok paginya Maha dan Kanna datang ke guild kota untuk tujuan mencari uang dengan menyelesaikan misi yang disediakan di papan request yang ada di guild.
"Kita mau melakukan misi yang seperti apa Maha?" Tanya Kanna pada Maha yang sedang membaca misi, yang tersedia di papan itu.
"Benar juga... Apakah kita harus dari misi tingkat terendah?" Tanya Maha balik.
"Sepertinya kalau misi dengan sihir, Kanna bisa mengatasinya Maha." Jawab Kanna.
"Misi yang tingkat menengah saja bagaimana Kanna?"
Kanna mengangguk.
Beberapa setelah itu, mereka menemukan sebuah misi yang menurut mereka cocok untuk mereka. Sihir menyembuhkan beberapa pasien yang ada di kota.
"Kanna, apakah sihirmu aman?"
"Iya. Kanna kan beberapa hari belakangan tidak memakai sihir, jadi Kanna rasa aman sih."
"Baiklah, maafkan aku Kanna karena menanggungkan misi ini padamu seorang."
"Tidak apa-apa, Maha. Kanna dengan senang hati kok menerima misi ini. Dan juga Maha, dari berbagai misi yang akan kita jalani nantinya, Kanna rasa akan bagus untuk menambah kekuatan fisik Maha." Ucap Kanna.
"Benar juga Kanna, ajarkan padaku ya." Ucap Maha, dan Kanna membalasnya dengan senyuman.
Singkat cerita, setelah seharian menyembuhkan pasien, mereka melaporkan hasil misi mereka pada guild. Lalu, setelah itu mereka mendapatkan beberapa keping uang sebagai bayaran mereka.
Hari sudah mulai memasuki malam, mereka bertiga berkumpul lagi di tempat makan yang sama dengan di hari yang sebelumnya.
"Richard, apa yang kamu dapatkan dari berkeliling hari ini?"
__ADS_1
"Aku hanya mengawasi warga kota, dan mengumpulkan beberapa informasi secara diam-diam. Menurutku ini adalah informasi yang akan menjadi penting untuk kedepannya, ada sekumpulan Demon yang akan menyerang kota ini."
"Lalu?"
"Aku mendengar informasi ini dari seseorang yang kurasa bukan warga di kota ini, dia seorang Machos tapi gennya berbeda dengan yang ada di kota ini. Kalau kita perhatikan di kota ini, para Machos kebanyakan memiliki gen kucing dan anjing, orang yang mengatakan informasi ini, ber-gen rubah. Jadi kurasa dia adalah penyebar kepanikan untuk warga, dan saat panik itu menyerang warga, kalau yang ia katakan tentang Demon itu benar, maka akan mudah bagi para Demon menyerang ke sini, karena para warga panik." Jelas Richard.
"Ini informasi terbaik untuk saat ini, Maha." Celetuk Hain.
"Pemikiran yang bagus itu Richard. Kalau yang kamu katakan ini benar adanya, aku juga pasti langsung berpikir ke arah pikir yang sama sepertimu. Baiklah, kita punya satu informasi, dan untuk sekarang kita akan mempersiapkan segala sesuatunya." Balas Maha.
"Untuk itu, mulai besok aku akan melatih beberapa kemampuan, Richard. Kanna akan membantuku, kalau kamu kupanggil langsung saja datang ya." Sambung Maha pada Richard.
"Siap Tuan Muda." Jawab Richard.
Setelah mereka selesai Makan. Mereka kembali seperti sebelumnya, Richard mengumpulkan informasi dengan berkeliling kota, Maha dan Kanna kembali ke penginapan.
"Maha." Ucap Kanna pada Maha yang berdiri memandang ke luar jendela.
"Ada apa, Kanna?" Jawab Maha, pada Kanna yang duduk di kasur.
"Kanna merasa kedepannya nanti kita akan lebih sibuk daripada biasanya."
Maha lalu duduk disamping Kanna.
"Apakah kamu mengkhawatirkan sesuatu, Kanna?"
"Apakah hari santai kita akan sirna?" Tanya Kanna, lalu menyenderkan kepalanya ke bahu Maha.
"Kanna, kamu tahu aku kan? Aku akan selalu santai disetiap keadaan. Jadi tenang saja, aku akan menjaga ke tenangan ini." Jawab Maha.
"Kanna percaya dengan Maha."
"Apakah jangan-jangan kamu khawatir kalau kita jarang berduaan Kanna?" Tanya Maha dengan nada bercanda.
Kanna langsung menegakkan kepalanya, dan mengeluarkan sihir api di tangannya.
__ADS_1
"Gak... Gak... Aku cuma bercanda Kanna." Ucap Maha dengan tawa kecil.