
Besok paginya, Maha dan Kanna pergi ke sebuah lapangan yang cukup luas, dikelilingi pepohonan rimbun di sekitarnya. Di sana Kanna mengajarkan dasar-dasar ilmu berpedang dari Rayya.
Meski Kanna tidak ikut dalam latihan secara langsung, tapi Kanna terus mengawasi Maha. Tapi, saat Maha sedang asyik bermain-main dengan pedang kayunya, tiba-tiba Kanna berlari ke arah Maha seolah meilhat sesuatu yang mengerikan.
"Maha..." Teriaknya.
"Sepertinya hidupmu memang tidak akan pernah tenang, hingga kau kembali lagi ke Rayya." Ucap Hain.
"Ada apa Kanna?"
"Kanna merasakan, hawa mengancam yang kuat. Apakah ini hawa seorang Demon?"
"Aku tidak merasakan apapun, Kanna. Dari arah mana kamu merasakannya?"
"Mengelilingi kita."
Maha segeralah bersiaga, menoleh ke kanan dan ke kiri. Maha berusaha memanggil Richard, namun Richard tidak datang seperti yang sebelumnya.
"Kanna merasakan ada sihir yang mengurung kita, Maha." Ucap Kanna melihat ke arah langit.
"Aku tidak bisa melihat sihir apapun, Kanna."
"Kanna juga, tapi Kanna bisa merasakannya. Maha, apakah Kanna boleh mencoba beberapa sihir?" Tanya Kanna, lalu mengangkat kedua tangannya, karena Maha mengiyakan pertanyaannya.
Sambil menunggu Kanna merapal sihirnya, Maha terpikirkan sesuatu dalam pikirannya.
"Hain. Entah ini benar atau tidak, aku terpikirkan sesuatu yang menarik."
"Apa Maha?"
"Bukankah orang yang mengurungku ini pintar?"
"Kenapa begitu?"
"Sebelum menyerangku dia berarti mempelajariku dulu, bisa dibilang perlengkapanku lumayan lengkap untuk menetralkan serangan sihir, dari jubah dan yang lainnya, yang aku kenakan. Dia menyadari itu, dan akhirnya mengurung kami di sini, karena kalau dia tidak memahami itu, dia akan langsung menyerangku dari depan."
"Pemikiran yang bagus, Maha. Sejauh ini, itu yang akan kau pakai untuk acuan."
"Baiklah."
__ADS_1
Tak lama setelah Kanna membaca beberapa sihir, akhirnya Richard bisa datang ke samping Maha. Dan Maha rasa sihir penghalangnya sudah dilenyapkan oleh Kanna.
"Ada apa, Tuan Muda?" Tanya Richard.
"Sebelum kamu datang kemari, Kanna merasakan ada penghalang yang mengurung kami menggunakan sihir, dan aku terus memanggilmu, tapi sepertinya dihalangi oleh penghalang itu." Jawab Maha.
Richard langsung posisi siaga, dan juga api Ogre-nya yang sekian lama tidak di gunakan oleh Richard, kini ia memunculkannya di belakang punggungnya.
"Tenang dulu, Richard. Kita tidak tahu apakah di akan menyerang, atau hanya menguji saja." Ucap Maha.
"Tidak, bersikap siaga adalah hal yang wajar, bila merasakan hawa sekuat ini." Jawab Richard.
Maha yang tidak bisa merasakan apapun makin penasaran, karena dari penjelasan Kanna dan Richard sepertinya hawa keberadaan itu sangatlah kuat.
"Apa yang kamu rasakan, Richard?" Tanya Maha.
"Entahlah, hawanya tidak menetap di satu tempat, dia terus mengitari kita. Aku rasa ini bukanlah manusia biasa, bisa jadi ini adalah Demon." Jawab Richard rang terus berputar, seolah mengikuti pergerakan hawa yang mengitari mereka.
"Maha. Setelah Kanna teliti lagi menggunakan sihir cahaya, sepertinya ini bukanlah hawa seorang Demon." Ucap Kanna pada Maha.
"Berarti berkemungkinan besar adalah manusia." Ucap Maha.
Di sudut pandang Maha dan Kanna, sama seperti saat melihat Merlin dan Lloyd, yang mereka lihat adalah seorang nenek-nenek tua, padahal Richard bilang kalau ada seorang wanita muda mendekati mereka.
Semakin wanita itu mendekat, semakin besar tekanan hawa yang dirasakan oleh Kanna dan Richard.
"Tuan Muda, sepertinya hawa itu berasal dari wanita muda ini." Ucap Richard.
"Richard sedang dikunci pergerakannya oleh wanita ini, tapi tenang saja, hal itu tidak akan melukainya. Terlebih lagi, kalau kau tahu orang ini, kau akan sedikit tenang Maha. Tunggu penjelasan dari orang ini." Jelas Hain.
"Salah satu dari kalian memiliki sihir Demon, aku harus melenyapkannya." Ucap wanita itu dengan tatapan merendahkan pada Maha dan Kanna.
Maha lalu menghalangi di depan Kanna.
"Kau murid? Atau orang yang membunuh Merlin?" Tanya wanita itu pada Maha yang menghalangi Kanna.
"Kenapa orang ini tahu Merlin, Hain?"
"Orang ini yang sedang kau cari Maha. Si Lembut Susan Edward."
__ADS_1
"Aku hanya seorang anak yang diberikan amanah oleh Merlin untuk menyapa ketiga penyihir." Jawab Maha.
"Bukan urusanku. Aku tidak mengenal mereka, sekarang biarkan aku melenyapkan anak yang memiliki sihir Demon itu." Susan mengacungkan tongkat sihir pada Maha yang berada di depan Kanna.
"Manfaatkan situasinya, Maha. Dia sedang berusaha menutup identitasnya."
"Oh, ya... Aku pernah mendengar tentang sihir yang bisa mengelabuhi mata dengan cara merubah penampilannya. Dan kebetulan aku punya kenalan yang menggunakan sihir itu, dia sudah usia senja dan dia menggunakan sihir itu untuk menjadi penampilan yang lebih muda, guna menutup identitasnya. Apakah kamu salah satu yang menggunakan sihir itu?" Tanya Maha sambil menyindir Susan.
Susan belum berkutik.
"Perkenalkan, Aku Maha dan ini saudariku Kanna. Dan yang sedang kamu kunci pergerakannya ini adalah Ogre bawahanku." Sambung Maha.
"Siapapun kau, aku tidak peduli. Biarkan aku membunuh anak dibelakangmu." Ucap Susan makin tegas, sambil sorot matanya semakin tajam pada Maha.
"Susan Edward. Kukira kamu orangnya benar-benar sekejam itu, ternyata kamu hanya mengancam." Ucap Maha.
Lalu Susan menurunkan tongkat sihirnya.
"Dari mana kau tau kalau aku adalah Susan?" Tanyanya.
"Tidak ada, aku hanya menebaknya saja. Aku hanya perlu memberitahukan satu hal padamu, kalau kamu benar-benar ingin memanipulasiku dengan sihir itu tidak akan mempan terhadapku. Meski aku tidak memiliki daya sihir, tapi aku memiliki resistensi terhadap sihir." Jelas Maha panjang.
"Omong kosong. Jelaskan padaku, kenapa aku merasakan sihir Demon di tubuh saudarimu?"
Maha menjelaskan seperti biasa, kalau Kanna adalah seorang murid dari seorang Demon.
"Hah?" Kaget Susan setelah Maha menjelaskan.
"Tidak mungkin ras Demon berteman dengan Manusia." Ucap Susan.
"Maha..." Ucap Hain, seolah menyadarkan Maha sesuatu.
"Akan aku buktikan hal itu padamu, Susan. Aku akan menguasai daratan ini, dan akan mendamaikan segala makhluk yang di atas daratan ini." Ucap Maha, dengan tatapan bengisnya pada Susan, tujuan Maha hanya ingin mengintimidasinya saja.
"Hah... Anak kecil sepertimu? Aku tidak yakin akan ada hal seperti itu. Akan kubunuh dengan kekuatanku sendiri, bila anak kecil sepertimu sudah berucap namun itu hanya omong kosong." Ucap Susan, makin menunjukkan muka marahnya pada Maha.
Maha dengan sorot matanya yang tajam, makin merasa kalau dirinya semakin direndahkan.
"Meski kamu dibilang adalah seorang legenda penyihir, aku tidak takut padamu. Aku sedang serius, bila kamu tidak menerimaku, aku bisa saja melenyapkanmu sendiri." Ucap Maha dengan sorot mata yang tajam pada Susan.
__ADS_1
Di sini Maha memancing Susan, agar dia meninggalkan tim Maha yang sedang berlatih.