
"Lalu apa? Kau akan membantu mereka?" Sambung Kanna bertanya.
"Kanna, aku berencana sesuatu, itu semua demi mewujudkan apa yang kamu inginkan, dan kamu berusaha menghalangiku? Ataukah kamu tidak memerlukan bantuanku? Turuti saja perintahku." Ucap Maha pada Kanna. Dengan ekspresi bengisnya yang telah lama tidak muncul, kini dia memberikan ekspresi itu kepada Kanna, yang mana hal itu membuat Kanna terdiam dan tidak menjawab Maha.
"Tenanglah Maha, kita bisa bertemu dengan mereka di lain kesempatan. Sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya Merlin.
"Kita akan melanjutkan perjalanan kita. Ingat Kanna, kamu hanya mengikutiku." Ucap Maha, masih dengan ekspresinya yang bengis, dan membuat Kanna takut terhadapnya.
Mereka pun langsung melanjutkan perjalanan, di saat sedang asyik berjalan, Kanna tiba-tiba merasakan rasa lapar. Tapi, dia tidak mau melaporkan hal itu pada Merlin ataupun Maha, karena dia merasa bersalah pada Maha, dan takutnya Maha masih mrah terhadapnya. Akhirnya yang Kanna lakukan adalah menahan rasa lapar itu.
Maha memiliki kelebihan kepekaan di setiap indera-inderanya, yang mana membuat Maha mendengar perut Kanna yang berbunyi.
"Kita berhenti sejenak, Merlin."
"Ada apa?"
"Aku lapar." Maha lalu menurunkan, tas punggungnya.
Tidak lama setelah mereka berhenti dan memakan beberapa makanan, tiba-tiba seekor burung pembawa pesan datang menghampiri mereka.
"Itu burung dari Rayya." Ucap Merlin, lalu mengulurkan lengannya untuk dihinggapi burung itu.
Merlin segera membaca sebuah surat yang berada di kaki burung itu, surat itu benar saja dari Rayya. Dan yang mengirim pesan itu adalah Raja.
"Raja bilang, kalau Rayya sedang dalam incaran kerajaan lain lagi." Ucap Merlin.
"Merlin, apakah kamu sanggup untuk mengatasi hal itu?" Tanya Maha.
"Kurasa begitu."
"Baiklah, aku akan melanjutkan perjalanan dengan Kanna. Aku akan kembali ke Rayya saat Rayya benar-benar membutuhkanku." Ucap Maha yang membuat Merlin dan Kanna terkejut.
"Kamu benar-benar mau mengelana berdua saja?" Tanya Merlin.
"Ya, mengapa tidak. Berikan kabar pada Kak Ayyra, kalau aku telah berteman dengan salah satu Demon."
"Baiklah, aku percayakan padamu. Aku akan segera berangkat, agar cepat datang ke Rayya."
"Tidak-tidak. Kita akan mengetes kemampuan Kanna, apakah sihir teleportasinya benar-benar bekerja."
__ADS_1
Kanna hanya mengangguk, dan mengiyakan ucapan Maha.
"Kalau begitu, bawa cincin ini Maha." Ucap Merlin, memberi sebuah cincin pada Maha.
"Untuk?"
"Para penyihir itu akan menganggap kalau aku datang menemui mereka, anggap saja cincin ini adalah barang kepercayan mereka, agar mereka menerima kedatangan kalian." Jelas Merlin.
"Baik Merlin."
Setelah itu, Merlin bilang kalau akan mengirimkan burubg pembawa pesan pada Maha bila sihir Kanna berhasil. Dan sihir Kanna pun segera dipakai untuk mengirim Merlin.
Merlin berhasil terteleportasi, dan Kanna langsung tumbang, sepertinya kehabisan sihirnya yang belum memenuhi kapasitas daya sihirnya itu. Meski masih sadarjan diri, tetap saja dia telah tumbang, dan telentang menghadap langit yang biru nan cerah.
Dan Maha yang duduk disamping Kanna yang telentang, menanyakan sesuatu padanya.
"Kamu kenapa?"
"Sepertinya aku telah memaksakan diriku."
"Tidak,bukan itu, aku menanyakan tentangmu yang tidak mau bilang kalau kamu sedang lapar."
"Eee... Hehe."
"Maafkan aku, Maha."
"Ya."
Mereka terdiam, menatap langit yang sama. Semakin lama, semakin tidak ada obrolan diantara mereka. Kanna pun menanyakan sesuatu dengan ragu pada Maha.
"Kau tidak mencatat sedikit informasi dari seorang Orc tadi?"
"Sepertinya akan ku tulis nanti. Saat ini aku sedang menikmati angin yang sedang berhembus."
"Apa kau yakin kita akan mengelana berdua saja, Maha?" Tanya Kanna, melihat ke arah Maha yang sedang memejamkan mata seolah benar-benar sedang menikmati setiap hembusan angin.
"Sudah kubilang sebelumnya, kan? Aku punya rencana, yang harus kamu lakukan hanyalah mengikutiku."
"Kita masih anak-anak, Maha. Tidakkah kau takut kalau ada orang yang macam-macam pada kita?"
__ADS_1
"Kalau ada orang yang macam-macam padaku, aku bisa mengatasinya. Tapi kalau ada orang yang macam-macam padamu, akan aku usahakan untuk menolongmu."
Kanna kembali menatap langit yang biru.
"Semalam kau bertanya tentang kekhawatiranku pada kerajaan, sekarang kita benar-benar mengirim Merlin kembali ke kerajaan."
"Ya, ini memang tidak termasuk dari pemikiranku ataupun rencanaku, tapi ini kemungkinan yang memang sangat mungkin bisa terjadi. Terlebih lagi, Rayya adalah kerajaan yang berada di antara kerajaan besar, dan wilayah Rayya bisa saja menguntungkan mereka bila diambil alih."
"Se-khawatir apa kau pada kerajaan, saat ini Maha?"
"Tidak begitu khawatir, kuyakin masalah saat ini masih ringan. Dan aku yakin hanya Kak Ayyra saja seharusnya sudah cukup bisa menanganinya."
"Lalu mengapa kita mengirim Merlin?"
Maha tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung berdiri, mengulurkan tangan pada Kanna yang telentang, untuk membantunya berdiri.
"Tugasmu hanya mengikutiku, Kanna. Aku berjanji padamu tidak akan ada pertumpahan darah nantinya." Ucap Maha.
"Aku akan percaya padamu Maha, walaupun aku masih ragu untuk mengelana hanya berdua saja."
Maha tidak lagi menghiraukan ucapan Kanna, dia langsung mengangkat tas punggungnya, dan mengajak Kanna untuk segera bergegas.
"Kamu tahu, Kanna..." Ucap Maha.
"Apa?" Balas Kanna bertanya.
"Kita pergi mengelana hanya berdua, dan mengirim Merlin kembali ke Rayya. Tapi, kita lupa bertanya jalan dan tempat pasti para penyihir itu." Ucap Maha tersenyum tipis tegang.
Kanna yang paham tentang ketegangan Maha, dia menjadi merasa tegang juga. Namun, mereka tetap terus berjalan, karena satu-satunya petunjuk yang mereka punya adalah bahwa para penyihir itu berada di ujung barat daratan. Mereka pun dengan pikiran positif, terus melangkah.
Mereka lebih sering berhenti daripada sebelumnya, saat masih bersama Merlin. Kali ini bukan karena Maha yang suka mengeluh, melainkan Kanna yang tubuhnya perlahan mulai mengalami demam.
Suatu ketika saat mereka berjalan, Kanna langsung pingsan di samping Maha. Dan segera Maha pun segera, memangku Kanna.
"Oi... Kanna! Wah, sepertinya kamu demam." Ucap Maha sambil memegang dahi Kanna.
Maha menidurkan Kanna di atas tas, sebagai bantalnya. Segera Maha menghangatkan air untuk mengkompres Kanna, Maha tidak langsung mengeluarkan obat, karena dia tahu kalau demam yang di utamakan adalah istirahat.
Saat itu di kejauhan, Maha melihat sebuah gua, yang mana sepertinya gua itu nampaknya aman untuk merawat Kanna sementara.
__ADS_1
Maha pun membawa Kanna ke dalam gua itu, dengan tujuan untuk mengistirahatkan Kanna, dan juga berlindung di kala malam tiba.
Malam pertama di gua itu terasa sangat dingin. Maha yang banyak membaca buku, banyak referensi untuk membuat api unggun, akhirnya ia putuskan untuk membangun api unggun.