MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Kota Karin


__ADS_3

Di dalam perjalanan mereka di udara, Zia yang berada di belakang Maha dan Kanna menanyakan sesuatu pada dua orang di depannya itu.


"Maha dan Kanna, cuma perasaanku saja atau memang rambut kalian ada beberapa yang hitam?"


"Rambut hitam?" Kanna heran dengan pertanyaan Zia.


"Oh ya benar juga, Maha. Ini sudah tahun kelima kita sejak memakai obat darimu." Sambung Kanna.


"Apakah efeknya bisa langsung pudar, Maha?"


"Tidak, kurasa rambut baru kami yang akan tumbuh hitam, tidak mungkin rambut putih menghitam kan?"


"Ya, lalu? Apakah akan kau biarkan menghitam?"


"Tidak, Hain. Mungkin saat nanti sampai di Rayya baru aku meracik obatnya lagi."


"Baiklah."


"Obat? Obat apa?" Tanya Zia.


"Kami memakai sebuah obat untuk memutihkan rambut kami, Zia. Manusia tidak mungkin lahir dengan rambut putih." Jawab Maha.


"Ya, lalu obat apa itu?" Tanya Zia masih penasaran dengan obat rambut yang disinggung Kanna.


"Intinya obat itu yang membuat rambut kami menjadi putih, Zia. Sebenarnya obat ini bukanlah obat yang sempurna, bisa lebih sempurna lagi kalau aku benar-benar menggarapnya. Tapi karena waktu itu aku sedang dikejar waktu, maka efeknya hanya berlaku selama lima tahun." Jawab Maha.


"Iya lalu obatnya apa? Terbuat dari apa?" Zia masih ngeyel bertanya.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika mengetahuinya, Zia?" Tanya Kanna.


"Aku hanya penasaran, Kanna."


"Tidak perlu kau pikirkan, Zia."


"Loh?"


"Aku rasa mereka melakukannya untuk menutup identitas mereka, Zia. Tidak perlu kau tegas bertanya seperti itu, biarkan saja." Celetuk Rey.


"Kau fokuslah pada jalanmu, Rey." Balas Maha.


"Bahkan dengan menutup mataku, aku bisa sampai di tujuan kita, Maha." Ucap Rey.


"Memangnya kemana tujuan kita?" Tanya Maha.


"Kerajaan Rayya kan?"


"Kita ke kota Demon suku barat dulu, Rey. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya?"


"Oh benar juga, Maha. Perjalanannya akan memakan beberapa hari, Maha. Kurasa kita bisa sedikit bersantai di langit." Balas Rey.

__ADS_1


"Kalau begitu, apakah kau dan Ryu tidak akan capek nantinya?" Tanya Kanna.


"Tenang saja, aku yakin Ryu juga sama sepertiku, dia telah lama bersamaku. Aku tahu ketahanan kita masing-masing." Jawab Rey.


"Ngomong-ngomong, Rey. Darimana dan siapa yang memberimu nama?" Tanya Kanna.


"Aku? Aku diberikan nama oleh seorang penyihir wanita." Jawab Rey.


"Siapa?"


"Kalau tidak salah, namanya adalah Susan Edward."


"Ha?!" Maha kaget.


"Kenapa Maha? Kau sepertinya yang paling kaget." Balas Rey.


"Nenek tua itu mengutukku, Rey. Aku jadi merasakan dua kali kematian, gara-gara kutukannya." Jawab Maha.


"Kutukan? Kutukan apa memangnya?"


"Aku bercerita pada nenek tua itu, bahwa aku akan menyebarkan kedamaian di daratan ini. Dan sepertinya nenek tua itu tidak percaya padaku, lalu dia mengutukku agar tidak bisa mati sampai kedamaian benar-benar terjadi." Jawab Maha menjelaskan.


"Tunggu dulu, secara garis besar aku paham, Maha. Tapi, kalau konteks kedamaiannya Susan berbeda dengan konteks perdamaianmu, lalu kapan kau bisa lepas dari kutukanmu itu?"


"Benar juga, Rey. Tapi yang jelas, aku melakukan penyebaran perdamaian bukan karena aku takut dengan kutukan itu, aku melakukannya karena keputusanku sendiri."


"Baiklah. Lalu jelaskan padaku, apa tujuanmu datang ke kota Demon ini, Maha? Bukankah ras Demon adalah musuh alami ras Manusia?"


"Oh baiklah, sebelumnya kau datang ke kota itu bersama Kanna saja?"


"Tidak, kami bersama guru dari Rayya. Namun, dia harus kami kirim kembali ke Rayya, karena ya ada kegentingan di Rayya."


"Kenapa kalian tidak ikut kembali ke Rayya?"


"Ya, aku harus menyelesaikan tujuanku dulu, agar aku bisa memenuhi keinginan Raja untuk memperbaiki kerajaan."


"Oh baiklah."


"Kau perlahan membuka identitasmu, Maha. Apakah akan aman nantinya?"


"Kuharap begitu, Hain. Terlebih lagi, sekarang aku tidak bisa membuang-buang waktuku untuk hal yang kekanak-kanakan lagi."


"Apa yang akan kau lakukan, Maha?"


"Hanya memikirkan saja, hal pertama yang akan aku lakukan setelah kembali ke Rayya. Apakah akan ada pemberontakan pada kerajaan sekitar, ataukah aku harus menyelesaikan masalah internalnya dahulu?"


"Kupikir akan bagus kalau kau perbaiki masalah di dalam Rayya dulu, setelah itu baru kau pikirkan hal lain."


"Baiklah Hain. Dan juga, kita tidak mendapatkan kabar tentang Rayya selama lima tahun, kuharap di sana tidak terjadi hal yang tidak-tidak."

__ADS_1


"Kurasa temanmu juga sudah menunggumu, Maha. Dan kuyakin, temanmu itu akan menjalankan tugasnya untuk kerajaan dengan baik."


"Je? Aku percaya pada Je, Hain. Kurasa hanya dengan memikirkan adanya Je di Rayya bisa membuatku tidak begitu khawatir dengan Rayya."


"Baguslah. Sekarang kau fokus ke dirimu sendiri. Biarkan aku istirahat untuk beberapa saat."


"Tumben sekali kau istirahat, Hain?"


"Ya begitulah. Ada beberapa hal yang aku dapatkan juga dari si tua Taa, saat kau belajar pengetahuan darinya."


"Baiklah."


"Oh ya, Rey..." Ucap Maha dan terus mengobrol dengan Rey.


Beberapa hari terlewatkan, mereka semua tiba di kota Demon, dimana penginapan Karin berada. Segeralah mereka masuk, dan sebelum itu para Dragon harus mengubah wujudnya dulu, agar tidak terjadi macam-macam.


"Baiklah semuanya. Kita semua tidak perlu waspada dengan para penduduk, bikin santai saja." Ucap Kanna.


Semua menyetujuinya dan segeralah mereka masuk ke kota itu. Sorot mata para penduduk tertuju pada tim Maha, yang memiliki kekuatan-kekuatan sihir yang cukup besar.


"Kanna." Ucap Zia.


"Kenapa, Zia?"


"Kenapa ras Demon memiliki tanduk?"


"Percaya atau tidak, tanduk ras Demon itu menandakan besarnya daya sihir mereka. Semakin besar tanduk mereka, semakin kuat mereka."


"Oooh... Aku baru tahu hal itu."


"Tapi tenang saja, mereka yang dari suku barat ini cukup baik pada ras lain."


"Memangnya berapa suku ras Demon yang ada?"


"Mereka hanya ada dua suku, suku selatan dan suku barat. Mereka yang dari suku selatanlah yang selama ini mencari pertikaian kemana saja." Jawab Maha.


"Hooo~"


"Nah sudah tahu kan, Zia? Sekarang lepaskan genggaman tanganmu dari lenganku." Ucap Kanna, yang lengannya dari tadi digenggam oleh Zia.


"Oh ya, hehe..."


Tim Maha terus berjalan, niatnya mau ke penginapan Karin. Tapi mereka terhenti di altar, karena sedang ada kerumunan.


Tim Maha segera untuk nimbrung, melihat apa yang sedang terjadi. Maha berjinjit berusaha melihat apa yang ada dihadapannya itu, karena didepannya banyak orang, mau tidak mau harus berjinjit.


Hal pertama yang Maha lihat adalah kepala manusia yang dilingkari oleh emas, Maha semakin penasaran.


Timnya pun segera berusaha membukakan jalan untuknya. Dan yang Maha lihat adalah seseorang yang memakai pakaian khas Rayya, dengan teliti Maha lihat orang itu.

__ADS_1


"Je?!" Teriak Maha, membuat orang itu menoleh kearahnya.


__ADS_2