MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Desa Para Machos


__ADS_3

Maha bangun dari tidurnya, lalu berdiri dan meregangkan badannya.


"Aku tidak khawatir dengan sesuatu, aku hanya terpikirkan sesuatu, Kanna."


"Apa itu?"


"Kita belum tahu tujuan kita yang berada di ujung barat. Apakah para penyihir itu berada di suatu kerajaan ataukah berada di tempat lain." Maha berusaha melupakan kekhawatirannya terhadap Kanna.


"Yang kutakutkan saat kita mencari mereka, tidak ada yang tahu tentang keberadaan mereka." Sambung Maha.


Kanna berdiri, dan mendekat ke Maha.


"Kamu tahu Kanna, perkiraan perjalanan kita ini tidak akan selesai dalam waktu singkat. Dan aku akan memberikan kamu pilihan untuk kembali ke Rayya sekarang juga, atau tetap berkelana bersamaku."


"Kurasa setelah beberapa hari aku mengikutimu, aku semakin penasaran tentang apa yang akan kau lakukan kedepannya, jadi aku akan terus ikut denganmu."


"Yakin kamu?"


"Iya."


Mereka pun langsung segera berkemas lagi, dan melanjutkan perjalanan.


Perlu diketahui, perjalanan mereka tidak pernah memiliki tujuan yang pasti, satu-satunya letunjuk tentang para penyihir itu, ya di ujung barat. Merlin tidak pernah membicarakan hal itu sebelumnya, jadi Maha tidak mengetahuinya.


Berhari-hari mereka berjalan di daerah yang tidak terlihat adanya kehidupan, yang mereka lakukan selain berjalan hanyalah istirahat, makan dan tidur, dan lanjut lagi berjalan. Hingga mereka menemukan sebuah pemukiman, dan dari kejauhan mata Maha melihat, dia yakin kalau pemukiman itu adalah pemukiman manusia.


Saat mereka mendekati pemukiman itu, baru sadarlah mereka bahwa itu adalah desa kecil. Segera mereka memasuki desa itu untuk tujuan bertanya jalan yang harus mereka tempuh selanjutnya.


Begitu mereka masuk ke desa itu, yang mereka lihat adalah manusia setengah hewan. Kebanyakan dari mereka memiliki telinga hewan dan ekor.


Saat itu juga, beberapa penjaga langsung menodongkan tombak ke arah Kanna.


"Demon!" Ucap salah satu dari yang menodongkan tombak.


"B-Bukan!" Jawab Kanna.


"Kenapa kalian menodongkan senjata ke saudariku?" Tanya Maha, menutupi Kanna dengan tangannya.

__ADS_1


"Demon!" Ucap penjaga itu kekeh.


Tak lama setelah itu datang seorang kakek tua menghampiri mereka semua. Kakek itu lalu menyuruh penjaga itu untuk menurunkan senjatanya, dan mengajak Maha dan Kanna pergi ke tempatnya, untuk mengobrol.


"Siapa nama kalian, nak?" Tanya kakek itu.


"Aku Maha, dan ini saudariku, Kanna. Apakah anda seorang kepala desa?"


"Ya, aku kepala desa disini."


"Aku akan menanyakan pada anda, mengapa para penjaga anda menodongkan senjata mereka ke saudariku?"


"Aku minta maaf karena hal itu. Tapi, aku juga merasakan hawa Demon dari tubuh nona ini."


"Aku berani bersumpah, kalau Kanna bukanlah salah satu dari Demon yang kalian maksud. Kanna, hanya mempelajari sihir-sihir para Demon." Jelas Maha.


"Baiklah. Lalu bisa kamu menjelaskan, darimana kamu mendapatkan cincin Merlin ini?"


"Ayahku adalah murid dari Merlin, dan Merlin yang menyuruh kami mencari tiga orang penyihir."


"Haha~ Berbanggalah, karena kalian telah menemukan tujuan kalian."


"Namaku adalah Temperance Lloyd, seorang lelaki muda salah satu penyihir yang kalian cari."


"Muda? Aku melihatmu seperti kakek-kakek. Kamu juga melihatnya kakek-kakek kan, Kanna?" Tanya Maha, lalu Kanna mengiyakan.


Lloyd pun kaget.


"Wow... Tidak pernah ada seorang pun yang bisa membatalkan efek ilusi dari kami para penyihir, dan kalian bisa melihat wujud asliku? Sungguh luar biasa."


"Bagaimana keadaan Merlin?" Tanya Lloyd.


"Dia baik-baik saja, dan kami diajak olehnya untuk menemui tiga orang penyihir di ujung barat. Dan kami tidak diberitahu secara detil olehnya tentang tempat para penyihir itu, jadi kami asal mencarinya ke ujung barat dengan harapan menemukan mereka."


"Baguslah kalau begitu. Merlin tidak pernah mengunjungiku beberapa dekade belakangan, kupikir dia sudah tewas."


"Dia berada di kerajaan kami sebagai penyihir kerajaan."

__ADS_1


"Kalau kalian berasal dari kerajaan yang sama dengan Merlin, berarti kalian berasal dari Rayya, kan?"


Maha mengangguk mengiyakan.


"Ngomong-ngomong tentang tiga orang penyihir, apa yang kalian harapkan dengan bertemu kami?" Sambung Lloyd bertanya.


"Kami hanya berniat untuk menyapa kalian, karena Merlin tidak bisa ikut dengan kami, makanya dia memberikan cincin ini padaku."


"Oh begitu, baiklah. Aku akan membiarkan kalian tinggal di desa ini, kasihan juga anak-anak seperti kalian kalau tidak beristirahat kan."


Akhirnya Maha dan Kanna bermalam di desa itu hingga beberapa hari. Selama tinggal di desa itu, Maha dan Kanna terus menggali informasi, apapun informasinya.


Di desa itu, Maha mendapat informasi tentang beberapa ras yang masih nyambung dengan ras manusia, seperti ras manusia setengah hewan yang dikenal dengan sebutan Machos, ras manusia yang digadang-gadang setengah dewa yang disebut Demigod.


Semua hal yang Maha dan Kanna dapatkan sangatlah informatif, terlebih lagi mereka juga tidak punya wawasan lebih tentang ras-ras yang ada.


Lloyd, sang kepala desa sekaligus seorang penyihir, bercerita bahwa di antara ras manusia, bisa dipastikan kalau banyak makhluk lain yang tercipta, karena manusia itu sendiri. Dia juga bercerita pernah bertemu dengan seorang lelaki dari ras manusia, namun bisa mengubah wujudnya menjadi ras lain. Lloyd berkata kalau hal itu bukanlah hal sihir, melainkan karena faktor keturunan.


Suatu malam, Maha dan Kanna yang berada di satu kamar yang sama, mereka bertukar informasi apapun yang mereka dapatkan dari desa itu. Meski tidak banyak yang mereka dapat setidaknya berguna di kedepannya.


Kanna mendapatkan informasi dari petugas medis yang berada di desa itu bahwa, ras Elf berada di bagian barat daya daratan, yang mana hal itu akan memudahkan Maha dan Kanna yang sekalian menuju ujung barat.


Maha pun juga berbagi informasi, apalagi Kanna juga memiliki daya ingat yang kuat, siapa tahu suatu saat Maha lupa.


"Apakah menurutmu kita sedikit berkembang, Maha?"


Maha membuka jendela, yang disinari oleh sinar sang rembulan. Angin yang menenangkan hati mulai masuk ke kamar mereka, dan terdengar suara keramaian di desa tersebut.


"Kanna, kita belum ada perkembangan, kecuali kita sudah bertemu dengan ketiga penyihir yang perlu kita temui."


Maha lalu duduk di kasur, dimana Kanna sedang duduk di sana, Maha duduk disebelahnya.


"Aku tahu, kita akan berkembang secara perlahan. Untuk itu, akan lebih bagus kalau perkembangan kita yang lumayan memakan waktu ini kita isi dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, seperti yang aku butuhkan di awal perjalanan kita." Jelas Maha, merujuk pada tujuan awal mengelana, yaitu mencari segala informasi tentang daratan ini.


Kanna lalu menyenderkan badannya ke Maha.


"Semoga kita selalu diberikan kemudahan oleh Tuhan. Dan aku akan selalu menemani di setiap langkahmu, Maha." Ucap Kanna.

__ADS_1


"Kamu tahu Kanna, kalau kamu menempel padaku terus kita akan benar-benar seperti saudara kembar." Celetuk Maha.


__ADS_2