MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Undangan Raja


__ADS_3

Lalu setelah itu Jeevan tiba-tiba datang lagi, ke Maha dan Kanna.


"Apa yang kamu harapkan dari pemikiran anak-anak seperti Kanna, Maha?" Bisik Jeevan pada Maha.


"Tidak ada. Tapi siapapun yang memberikan sebuah informasi padaku, aku akan sangat menghargainya. Seperti contohnya tentang Buku ini." Ucap Maha sambil mengangkat buku bantahan dari Kitab Suci.


"Kembali ke Tujuan kita di awal Je. Aku tahu kita masih anak-anak, tapi aku selalu diajari oleh ayahku tentang pentingnya berpikir kritis." Sambung Maha.


"Aku juga anak-anak kan di matamu Maha? Lalu mengapa kamu percaya untuk membangun tujuan bersamaku?"


"Ya karena..." Ucap Maha terhenti dan menunjukkan satu pose agar Jeevan melihat kesegala arah.


Disaat itulah Jeevan sadar, kalau Maha tidak memiliki orang yang benar-benar bisa menerima maupun mempercayainya.


Kanna hanya kebingungan.


Singkat cerita, sepulang dari akademi mereka bertiga janjian untuk mampir ke air mancur di pusat kota untuk main-main. Ya sebenarnya idenya Kanna sih, Maha dan Jeevan ikut aja.


Sesampainya di air mancur, mereka mulai sibuk sendiri-sendiri, Maha sibuk menulis di buku tebal yang dari ayahnya, Jeevan menoleh ke kanan menoleh ke kiri, sedangkan Kanna, dia hanya duduk terdiam mencermati Maha yang sedang menulis.


"Maha?" Ucap Kanna tiba-tiba.

__ADS_1


"Hmm?" Jawab Maha yang fokus menulis.


"Kanna tadi malam mendengarkan obrolan Ayah dan Merlin, Merlin bilang kamu mau bertemu dengan Ayah. Benar begitu?"


"Tentu, siapa yang tidak ingin bertemu dengan Sang Raja." Jawab Maha dengan tetap fokus menulis.


Tak lama setelah Maha menjawab pertanyaan Kanna, Jeevan tiba-tiba ngomong.


"Maha, sepertinya beberapa prajurit kerajaan sedang menuju kemari."


"Mau menjemput Kanna mungkin." Ucap Maha masih tetap fokus menulis.


Jeevan pun terus memandangi para prajurit itu. Dan ya, benar saja. Para prajurit itu mendatangi mereka bertiga.


Jeevan pun segera menjawab pertanyaan itu, karena kembali lagi dimana Jeevan yang tahu sifat Maha yang tidak bisa diganggu.


"Ya, namanya Maha. Apakah ada perlu dengan Maha?"


"Siap, kami ditugaskan oleh raja, menjemput Maha untuk menghadapnya di istana."


"Apa pesan lanjutannya?" Ucap Maha yang selesai menulis lalu angkat bicara.

__ADS_1


"Tidak ada, hanya sebatas itu."


"Bawa kami bertiga, aku tidak mau bila menghadap pada Raja sendirian."


"Tentu. Mari kita langsung berangkat ke kerajaan."


Setelah itu, mereka pun pergi menuju kerajaan. Maha merasa ada kejanggalan di peristiwa ini.


'Kalau aku dirasa punya kepentingan oleh Raja, seharusnya aku akan dipanggil saat umurku lebih tua, tidak dalam kondisi masih anak-anak. Lagian apa yang membuat anak sepertiku punya kepentingan di kerajaan, toh juga aku juga masih bocah. Paling diundang hanya untuk datang saja, kali ini.' Pikir Maha.


"Wahai prajurit kerajaan. Aku diundang sebagai apa?" Tanya Maha yang berjalan mengikuti langkah prajurit di depannya.


"Kalau itu aku kurang tahu, yang jelas aku harus melaksanakan tugasku."


Maha makin dibuat bingung. Apa yang harus ia lakukan, haruskah ia santai, ataukah harus tegang.


"Je, kamu bawa buku catatan tidak?" Ucap Maha pada Jeevan.


"Bawa, kenapa?"


"Apapun yang nanti terjadi catat, apapun itu, sepenglihatanmu. Hal kecil kalau memang perlu kamu tulis, langsung tulis saja."

__ADS_1


"Oke, Maha."


__ADS_2