MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Kembali ke Rayya


__ADS_3

Hari demi hari Maha dan timnya lalui.


Maha yang mendapat banyak pelajaran, mulai sering sharing pada timnya, pada pertemuan diskusi setiap minggunya.


Timnya yang bersosialisasi dengan penduduk setempat, makin hari makin akrab seperti kampung halaman mereka sendiri.


Singkat cerita, tak terasa tiga tahun mereka berada di desa Elf. Ilmu demi ilmu mereka dapatkan, sampai akhirnya, Maha telah mendapatkan seluruh pengetahuan yang Taa dan beberapa Elf punya.


Maha berniat untuk kembali ke Rayya secepatnya. Karena dia tahu, dia sudah terlalu lama pergi dari Rayya. Dan degan berbekal ilmunya dia yakin akan kembali ke Rayya.


Suatu pagi di hari mereka akan berangkat ke Rayya.


"Oke, semuanya dengarkan aku..." Ucap Maha pada timnya, di rumah yang sama.


"Sebelumnya aku akan minta maaf pada kalian, kalau aku terlalu lama untuk memperlajari pengetahuan yang ada di sini." Sambung Maha.


"Maha, sepertinya aku tidak perlu memanggilmu Tuan Muda lagi, tiga tahun kita berada di sini dan aku yakin kau juga merasa bukan lagi anak-anak." Ucap Richard.


"Ya, aku tahu itu. Makanya, sekarang karena aku sudah selesai mendapatkan beberapa pengetahuan, aku yakinkan diriku sendiri untuk kembali ke Rayya. Dan ya, sekali lagi aku akan menanyakan pada kalian, apakah kalian akan terus ikut denganku dan Kanna, atau kita akan berpisah?"


"Kalau aku... Aku dan Rya akan terus ikut bersamamu, Tuan." Ucap Ryu.


"Kalau kau ikut denganku, berarti kita harus mengunjungi Rey, dia pasti sangat kesepian." Balas Maha.


"Kalian?" Tanya Maha pada yang lain.


Richard, Reha dan Zia sepakat untuk ikut Maha. Dan Maha lalu menjelaskan tentang rute yang akan mereka lalui selagi menuju Rayya.


Maha berniat mampir menemui Rey, lalu menuju ke kota Demon dan menemui Karin. Lalu langsung ke Rayya setelah dari kota tersebut.


"Kota Demon?" Tanya Reha.


"Tenang, Reha. Di kota ini akan aman, terlebih lagi ada guruku disana." Jawab Kanna.


"Baiklah."


"Jadi ada yang keberatan?" Tanya Maha. Dan semua setuju dengan Maha.


"Ryu dan Rya, aku ingin kalian membawa kami semua. Kita akan memakai jalur udara." Sambung Maha, Ryu dan Rya mengiyakan.


Setelah itu, Maha dan timnya segera berpamitan dengan Harley dan beberapa Elf yang akrab dengan mereka.


"Harley, kurasa kau perlu menceritakan tentang kami pada anak cucumu, agar nanti saat aku berhasil dengan kedamaian yang aku bangun, mereka juga bisa merasakan kedamaian tersebut. Dan juga, agar desa Elf tidak perlu repot-repot membuat gerbang pelindung nantinya." Ucap Maha.

__ADS_1


"Oh tentu, pasti banyak anak-anak yang tertarik dengan cerita kalian saat di sini. Dan juga, Taa pernah bilang kalau kau tidak bisa mati, aku yakin anak-anak akan menyukai ceritanya." Jawab Harley.


"Sebisa mungkin, susun cerita kami sebagai kisah semenarik mungkin, kelak aku akan datang kesini lagi." Maha mengulurkan tangan pada Harley untuk berjabat tangan, sebagai simbol perdamaian.


Singkat cerita lagi, Maha dan timnya segera keluar dari desa Elf, dan menuju tempat Rey untuk menyapanya.


Dengan bantuan tubuh naga Ryu dan Rya, mereka dengan cepat bisa menuju tempat Rey. Sesampainya di tempat Rey, nampak Rey sedang tidur dengan tubuh naganya.


"Rey!" Teriak Maha, yang membuat Rey terbangun.


Rey sepertinya agak kebingungan saat bangun, mungkin karena telah lama tak melihat Maha, bisa jadi dia lupa.


"Apakah menurutmu ras Dragon bisa lupa ingatan, Maha?"


"Hah? Memangnya bisa?"


"Ya siapa tahu."


Ryu dan Rya segera membawa mereka turun ke hadapan Rey.


"Siapa kalian?" Tanya Rey.


Rey langsung sadar dan ingat, saat Ryu dan Rya berubah menjadi wujud manusianya.


"Wah, kita lama tidak berjumpa." Ucap Rey.


"Rey... Apakah kau kesepian?" Tanya Ryu, yang saat itu langsung merangkul bahu Rey.


"Kalau tidak salah, namamu Rya ya?" Tanya Rey, lalu dipukul oleh Ryu.


"Ryu, bodoh." Ucap Ryu, pada Rey yang tertawa kecil.


"Apa yang kau lakukan selama kami pergi Rey?" Tanya Maha.


"Aku hanya tidur, karena tidak ada yang datang kesini sama sekali. Ngomong-ngomong penampilanmu tidak jauh berbeda Maha." Jawab Rey.


"Oh iya kah? Iya juga sih."


"Lalu kenapa kau bisa lupa pada kami, bodoh?!" Ryu lagi-lagi memukul Rey.


"Kau berbeda Ryu, kenapa kau jadi suka memukul?" Tanya Rey heran. Semua tim Maha saat mendengar pertanyaan Rey, langsung menoleh ke arah Reha.


"Eh apa?" Reha kaget.

__ADS_1


"Ya, aku mendapatkan ilmu memukul dari gadis itu Rey. Aku hanya memperoleh pelajaran itu selama ini." Ucap Ryu sambil memejamkan mata, menghayati ucapannya.


"Kau!!" Reha yang nampak kesal, ditahan kedua tangannya oleh Richard.


"Haha... Jadi Rey aku memiliki tawaran untukmu." Celetuk Maha tiba-tiba, membuat semua mata tertuju padanya. Karena belum pernah Maha bilang kalau akan memberikan tawaran pada Rey.


"Tawaran apa itu?" Tanya Rey, menanggapi Maha.


"Dari beberapa pengetahuan yang aku dapatkan, sudah pasti akan jarang ada yang datang kesini. Dan ya, sudah pasti kau menganggur, ikutlah denganku ke kerajaanku." Jawab Maha.


"Apa keuntungan yang nanti aku dapatkan?" Tanya Rey pada Maha dengan muka serius.


"Tidak ada keuntungan yang bisa aku jaminkan padamu, yang jelas kami akan mengisi kesepianmu." Jawab Maha.


"Katakan padaku tujuan kalian selanjutnya." Pinta Rey, sebelum mengiyakan ajakan Maha.


Maha pun menjelaskan bahwa dia akan menuju Kota Demon, dan menuju kerajaan Rayya. Lalu melakukan segala cara untuk menyebarkan kedamaian di daratan ini.


"Kupikir itu tidak buruk juga, aku akan ikut dengan kalian, tapi ada syarat yang harus kau penuhi padaku, Maha."


"Apa itu?"


"Tidak ada darah diantara kita." Maksud Rey adalah, tidak ada pertikaian diantara mereka.


"Tenang saja, Rey. Di sini kau akan tahu banyak hal seru, yang pasti di tim kita ini hanya ada seseorang saja yang boleh tumpah darah." Ucap Ryu.


"Siapa?" Tanya Rey.


"Tuan Maha sendiri." Jawab Ryu.


"Loh?" Rey kebingungan dengan jawaban Ryu.


"Ryu, jangan asal bicara." Ucap Rya, membuat semua mata tertuju padanya, karena Rya tidak pernah berucap sebelumnya, karena selalu diwakilkan oleh Ryu. Semua kaget karena suaranya yang lembut.


"Tidak perlu terlalu serius, Rya. Benar kata Ryu, sebagai pemandu tim aku harus berani mengorbankan diriku sendiri." Ucap Maha pada Rya.


"Baiklah, Rey. Kita akan pergi menuju kota Demon sekarang juga, dan aku ingin kau menggantikan Rya untuk membawa kita." Sambung Maha.


"Menggantikan Rya?" Tanya Rey.


"Ya, sepertinya dia akan kelelahan nantinya." Jawab Maha.


Berangkatlah mereka. Ryu ditunggangi oleh Richard, Reha, dan Rya. Rey ditunggangi Maha, Kanna dan Zia.

__ADS_1


__ADS_2