MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Penghormatan


__ADS_3

Raja menanyakan hal itu pada Maha, agar Raja sendiri tahu langkah awal Maha, dengan harapan Raja bisa membantunya.


"Langkah pertama yang akan aku ambil adalah bersekolah di akademi sampai aku memiliki cukup pengetahuan dan kekuatan, lalu akan kumulai langkah selanjutnya." Ujar Maha.


"Baiklah. Akan aku berikan kamu satu keinginan untuk saat ini. Coba sebutkan, apa yang kamu inginkan." Balas Raja.


"Suruh agar Kanna tidak merepotkan aku." Pinta Maha yang membuat seisi ruangan langsung menatap ke arah Maha.


Tatapan yang dipancarkan oleh semua orang ini sangatlah wajar, di karenakan Putri Kanna dihormati oleh orang-orang yang ada di kerajaan.


"Tidak bisa, karena Kanna aku beri kebebasan untuk melakukan apa yang dia mau." Ujar Raja.


"Kalau begitu... Kanna, jangan lagi membuat Jeevan panik, dia bercerita padaku, saat hari pertama di akademi, kamu mengagetkannya." Pinta Maha pada Kanna, karena sebelumnya Jeevan bercerita tentang hari pertamanya di akademi.


Semua orang nampak kebingungan, karena ucapan Maha pada Kanna seakan tidak menghormati keluarga kerajaan. Dan saat itulah Jeevan berdiri dan berbisik pada Maha.


"Kalau di kerajaan, panggil Kanna dengan gelar putrinya." Bisik Jeevan.

__ADS_1


"Untuk apa Je? Disini hanya ada satu pemimpin, dan hanya satu orang itu yang kita hormati." Ucap Maha. sedikit lantang.


Setelah itu, dari belakang istana keluarlah sang Ratu, lalu tersenyum menatap ke arah Maha.


"Rajaku, kamu lihat, anak ini tidak takut dan tidak gentar meski berada di hadapan anda. Bukankah sudah jelas?" Tanya Ratu pada Raja yang berada di depan Maha.


"Merlin, didiklah Jeevan dengan ilmu-ilmu sihirmu. Untukmu Maha, aku akan memberikanmu akses khusus kerajaan, agar kamu bisa mempelajari segala hal tentang kerajaan ini." Ucap Raja pada Merlin dan Maha.


"Akan aku terima akses kerajaan, tapi aku tidak akan mempelajari kerajaan langsung dari kerajaan. Aku akan mempelajarinya secara bertahap dari akademi." Jawab Maha.


Maha terpikirkan sesuatu. Apa yang membuat Raja percaya padanya, padahal dia masih anak-anak berusia tujuh tahun.


"Baiklah obrolan serius kita sudahi. Dan semua harap tenang. Aku akan menanyakan hal yang umum padamu Maha." Ucap Raja, lalu kembali ke singgasananya.


"Nathan dan Valencia, apakah mereka sehat?" Sambung Raja, ketika sudah duduk.


"Ya, mereka selalu sehat."

__ADS_1


"Baguslah. Telah lama aku tidak berjumpa dengan mereka."


"Akankah anda berniat menemui mereka Raja?" Tanya Merlin.


"Belum saatnya aku bertemu dengan mereka."


Maha mulai penasaran tentang hubungan Raja dengan orang tuanya. Tapi dia ragu untuk bertanya pada Raja, karena ditakutkan Maha malah menanyakan hal yang sensitif.


"Tidak baik membuat anak-anak penasaran, Rajaku." Ucap Ratu, yang melihat raut wajah Maha yang seolah menunjukkan perasaan bingungnya.


Lalu Raja melihat kearah Maha.


"Benar juga. Tidak ada yang spesial dari cerita kami Maha, Nathan adalah teman lamaku." Ucap Raja pada Maha.


"Bagaimana seorang Raja bisa berteman dengan ayahku, yang hanya rakyat biasa?" Balik tanya Maha.


"Ayahmu bukanlah rakyat biasa, dia adalah pejuang di kerajaan ini sebelum adanya peperangan ini."

__ADS_1


Makin bingunglah Maha, karena Nathan tidak pernah cerita tentang dirinya di masa lalu. Walaupun Maha sadar, kalau yang dilakukan Nathan adalah hal yang wajar, karena Nathan sibuk mengajari Maha tentang banyak ilmu.


"Lalu bisakah anda menceritakan masa lalu ayahku Raja?"


__ADS_2