MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Valencia Khawatir


__ADS_3

"Apa yang membuatmu meminta maaf padaku Maha? Aku tidak akan membebanimu, aku akan mendukung tindakanmu. Mari kita anggap kalau kita berjalan selangkah demi selangkah. Tidak perlu terburu-buru, dengan keadaan ekonomi kerajaan yang semakin membaik seperti ini, mungkin nantinya akan mudah bagimu untuk melangkah ke langkah yang selanjutnya." Ucap Nathan pada Maha yang tadi meminta maaf dan menunduk.


"Baiklah. Terimakasih Ayah. Ibu, salahkah aku, bila aku merindukan kalian berdua diusia yang semakin tua?" Tanya Maha pada Valencia.


"Tidak Maha. Hal itu adalah hal yang wajib ada didalam hatimu agar kamu selalu mengingat orangtuamu." Jawab Valencia, tersenyum lebar pada Maha.


"Oh ya Maha, apakah kamu memiliki teman saat di akademi?" Tanya Nathan.


"Aku memilikinya Ayah, dia anak dari salah satu petinggi kerajaan, namanya Jeevan. Aku berteman dengannya karena aku bisa memanfaatkan kemampuannya dalam bidang sihir, yang aku tidak bisa kuasai." Jawab Maha.


"Memanfaatkannya? Jahat sekali." Balas Nathan.


"Maksudku, memanfaatkannya dalam artian yang positif. Aku menutupi kekuranganku dengan memanfaatkan kemampuannya itu."


"Benar, kamu harus pintar memanfaatkan temanmu, Maha." Ucap Valencia.


Nathan langsung menoleh ke Valencia, karena kaget dengn ucapannya.


"Loh?" Kaget Nathan.

__ADS_1


"Bagus lho, kalau dimanfaatkan dengan benar." Balas singkat Valencia.


Nathan pun memaklumi, karena memang sifat Valencia yang sedikit bengis, dan sifat kebengisannya itu yang terwariskan ke Maha.


"Lalu Anakku, Maha. Merlin bilang padaku kalau Putri Kanna membecimu, bisa kamu ceritakan detailnya?" Tanya Nathan pada Maha, mempertanyakan kejelasan dari Maha.


Maha pun menceritakan awal pertemuannya dengan Kanna, dan pengalaman hari pertamanya di akademi, saat ditolong Kanna.


"Bukan kah dia telah membantumu, nak? Lalu mengapa kamu kesal juga terhadapnya?" Tanya Nathan setelah mendengar cerita dari Maha.


"Kesan pertamaku padanya adalah dia anak yang cerewet, dan yang pasti akan merepotkanku."


"Benarkah seperti itu? Ibu, bukankah ibu dulu adalah seorang putri, sebelum kerajaan keluarga ibu berantakan?" Tanya Maha yang membuat Nathan dan Valencia kaget.


"Iya benar. Tunggu-tunggu, kamu mendengar cerita ini dari siapa?" Valencia balik bertanya.


"Aku mendengar ceritamu dari Kak Ayyra, Ibu."


"Ayyra? Oh masih hidup ternyata perempuan itu." Ucap Valencia sedikit menunjukkan ekspresi kesal.

__ADS_1


"Mengapa?" Heran Maha.


"Ya singkatnya Ayyra adalah temanku dan Valencia, sebelum akhirnya dia menghilang tiba-tiba, dan itu membuat khawatir Valencia." Nathan menjawab keheranan Maha.


"Bukannya dia menjadi Pustakawan di perpustakaan kota ya? Ayah seharusnya tahu karena pernah membawaku kesana kan?"


"Pustakawan? Tidak-tidak, Pustakawan di perpustakaan kota kan masih muda, dan aku yakin usia Ayyra pasti sudah tidak muda lagi."


"Kak Ayyra memiliki penampilan seperti perempuan berusia dua puluhan tahun Ayah."


"Tidak Maha, dia berusia dua puluhan tahun saat kami masih bersama, aku yakin kini dia berusia sama seperti kami yang berusia tiga puluh sampai empat puluhan tahun." Ucap Nathan masih tidak percaya.


"Apakah kita perlu mendatangi Pustakawan itu, dan kita tanyakan semuanya?" Tanya dan ajak Maha pada Nathan dan Valencia.


"Ayo, sekarang juga!" Teriak Valencia menjawab ajakan dari Maha.


Lalu pergilah mereka menuju perpustakaan kota. Di tengah perjalanan, Nathan dan Maha mengingat setahun yang lalu saat Nathan dan Valencia mengantar Maha ke asrama, saat itu masih banyak orang yang tersebar tanpa kehidupan di jalanan, kini sudah tidak dilihat lagi oleh mereka karena dampak resolusi dari Maha.


"Setahun yang lalu jalanan masih dipenuhi oleh orang-orang yang tanpa tujuan, kini jalanan sudah dipenuhi oleh orang-orang dengan berbagai tujuan. Jujur saja aku semakin bangga padamu Maha." Ucap Nathan lalu mengelus kepala Maha, Maha pun membalas dengan senyumnya, yang bengis tentunya.

__ADS_1


__ADS_2