MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Pertarungan


__ADS_3

Terlihat Maha dan Xavier tengah bersiap-siap ditengah koloseum.


"Tak kusangka kau benar-benar datang, bocah." Ucap Xavier pada Maha.


"Setidaknya aku datang untuk bertemu, dan membanggakan diriku pada para warga." Jawab Maha.


"Warga? Kau pikir kau yang bukan siapa-siapa dikenal oleh masyarakat?" Tanya Xavier pada Maha dengan sombongnya, yang membuat Raja menggelengkan kepala setelah mendengar hal itu.


"Mari kita dengar lagi, siapa yang para warga panggil dari tadi?" Ucap Maha sambil menaruh kedua tangannya disamping telinganya.


"Huh... Jangan berlagak sombong kau anak rakyat jelata!" Teriak Xavier lalu tertawa terbahak.


MAHA... MAHA... MAHA...


Suara teriakan warga mulai terdengar di telinga Xavier yang membuatnya agak menciut.


"Ke-Kenapa para warga jauh mengenalmu daripada aku?" Tanya Xavier panik.


"Kau pikir dengan dikirimnya dirimu ke luar kerajaan maka membuatmu terkenal di kerajaan? Kau hanya meninggalkan kerajaanmu, bukan memakmurkan kerajaanmu." Jawab Maha.


"Ke-Kenapa, kau dikenal para warga?!"

__ADS_1


"Apakah aku harus menjelaskan lagi? Bukankah Putra Mahkota harusnya pintar dalam memilah kata-kata yang telah ia dengar sebelumnya?"


"A-Aku tidak mengerti bodoh."


"Haaaah~" Hela nafas Maha panjang.


"Bukankah kau kesini menantangku bertarung?" Sambung Maha bertanya.


"Ba-Baiklah... Ayo kita mulai." Jawab Xavier mengeluarkan pedangnya dari sarung pedangnya.


"Ayo maju, apa kau berani menyerang bocah seperti ku?" Tanya Maha, tanpa ancang-ancang dan kuda-kuda.


Xavier tanpa berbasa-basi langsung menyerang Maha, yang mana Maha langsung dengan mudah menangkisnya dengan perisai lengan yang diberikan Rya sebelumnya.


Ditambah, kala itu Xavier sedang tidak enak perasaannya, karena terdengar olehnya teriakan warga yang mendukung Maha dibandingkan dia sebagai Pangeran Mahkota. Yang jelas membuat Xavier merasa terganggu.


Amarah Xavier terus membara dan terus terbakar, membuat Maha sedikit demi sedikit mulai kewalahan dengan apa yang Xavier berikan padanya. Terlebih lagi, Maha tidak berpikiran kalau akan terjadi hal yang semerepotkan ini.


"Maha?"


"Kenapa kau berinteraksi denganku di saat genting seperti ini, Hain."

__ADS_1


"Kupikir karena kau masih belum berpikiran macam-macam, sebaiknya aku ajak ngobrol saja kau. Daripada nanti malah bertindak macam-macam."


"Tidak, aku hanya akan memanggil hujan dengan peluit Zia saja. Kupikir setelah nanti petir itu turun, dan menghantamku, kurasa Xavier akan kaget denganku."


"Baiklah, tapi biarkan aku terus mengawasimu, Maha."


Suara peluit Maha terdengar nyaring di telinga para penonton, *Fliuuuuuuu~


Seketika mendung datang ke atas langit gladiator itu. Semua orang sontak menoleh ke atas, tepat saat semua orang menoleh ke arah mendung itu.


*Jdarrr....



Seluruh petir yang menyambar itu langsung diserap oleh tubuh Maha menggunakan jubahnya.


"Apakah kau masih yakin terus menyerangku, Xavier?" Tanya Maha dengan tawa kejamnya.


"Kau pikir aku takut dengan petir, bocah? Bahkan anak kecil juga bisa menahan petir." Jawab Xavier.


Tanpa banyak omong lagi dan basa-basi lagi, Xavier berlari dengn kencang dan segera menusuk Maha dengan kekuatan pedangnya. Xavier langsung menembus perut Maha, setidaknya itu yang dirasakan Xavier.

__ADS_1


"Hah! Lihat! Ini? Ini orang yang kalian bangga-bangga kan? Orang lemah seperti dia memang patut untuk mati." Ucap Xavier pada para penonton yang menonton pertandingan mereka. Meski begitu madih banyak yang mengharapkan Maha dan mencemooh Xavier.


__ADS_2