
"Tentu Maha. Aku bisa menceritakan tentang Nathan kepadamu. Namun, di lain hari saja, karena sebentar lagi, para petinggi kerajaan akan mengadakan rapat khusus." Balas Raja pada Maha.
Setelah itu, Maha pun pergi dan berniat kembali ke asrama. Tapi, dia terlanjur penasaran dengan cerita ayahnya.
"Je. Ayo kita ke perpustakaan setelah makan malam nanti." Ajak Maha pada Jeevan.
"Kamu pergi sendiri dulu deh Maha. Aku sedikit pusing, mungkin karena ketegangan saat berada di hadapan Raja barusan." Jawab Jeevan.
"Oh baiklah Je, istirahatlah dulu. Besok usahakan tetap masuk ke sekolah." Ujar Maha, dan Jeevan mengangguk mengiyakan Maha.
Sesampai di asrama, kita alihkan cerita ke Jeevan sebentar. Saat Jeevan dan Maha menghadap ke Raja tadi, Jeevan jadi tahu kalau Maha tidak memiliki aliran sihir. Padahal sebelumnya, Jeevan ingin mencari Pustakawan yang bisa membaca aliran sihir untuk Maha. Tapi hal itu sudah terjawab karena pertemuannya dengan Raja tadi.
Kita mengarah ke Maha.
Singkat cerita, selesai makan malam segeralah Maha pergi ke perpustakaan, dengan tujuan mencari beberapa dokumen maupun cerita tentang kerajaan ini, dia berharap menemukan nama Nathan di sana.
Saat ia sedang asyik membaca salah satu buku, dia dikagetkan dengan seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di bangku, di depannya.
__ADS_1
"Hai." Sapa perempuan itu.
Maha yang biasanya saat membaca buku tidak bisa diganggu, kini dia malah terganggu dengan perempuan ini. Alhasil, Maha hanya membalas perempuan itu dengan anggukan kecil, lalu melanjutkan membaca.
"Bagaimana keadaan Nathan?" Tanya perempuan itu pada Maha.
Maha yang terkejut, karena muncul lagi yang kenal dengan Nathan, ayahnya.
"Kakak ini siapa ya?" Tanya balik Maha.
"Aku? Aku Ayyra, teman Nathan. Dan aku salah satu petinggi yang menghadiri kegiatan tadi. Aku mendengar nama Nathan yang membuatku nostalgia."
"Ya, ini semua adalah efek samping yang aku dapatkan ketika aku menjadi kelinci percobaan dari salah satu sihir Merlin. Dan walaupun ini efek samping dari sihir Merlin, aku sangat bersyukur, karena aku akab terus menjadi muda." Jawab Ayyra, sambil mendongakkan kepalanya keatas, seakan menunjukkan sifat congkak.
"Sihir apa itu kak?"
"Kamu kenapa penasaran sama sihirnya?"
__ADS_1
"Karena aku tidak bisa menggunakan sihir, mungkin akan aman bila kakak beritahukan padaku."
"Kalau aku beritahu padamu, meski kamu gak bisa memakai sihir, kamu kan punya ahli sihir pribadi. Bahaya nanti. Kalau memang penasaran banget, mendingan langsung tanya aja ke Merlin."
"Begitu ya. Kakak bisa bercerita tentang ayahku?"
"Bukannya Raja yang akan menceritakannya?"
"Aku terlalu penasaran dengan cerita ayahku. Akan aku kabulkan apapun yang kakak minta deh."
"Maha, Maha... Apa yang harus aku harapkan kepada anak kecil sepertimu. Bagaimana kalau aku ceritakan tentang Valencia?"
"Ibuku?"
"Iya. Mungkin kamu bisa belajar dari cerita itu."
"Baiklah, aku akan menunggu cerita ayahku dari Raja, dan untuk sekarang aku akan mendengarkan cerita tentang ibuku darimu kak."
__ADS_1
"Baguslah. Akan kuringkas sehingga mudah untuk kamu mengerti Maha. Valencia, dia adalah seorang putri kerajaan dari selatan, sebelum dia jadi warga biasa di kerajaan ini. Dia datang ke kerajaan ini karena hal yang sama seperti di Kerajaan Rayya ini, menimpa kerajaannya. Menjadi medan perang, dan semua harta benda, rakyat dan hubungan bisnis, semua hilang dalam sekejap mata. Valencia dan beberapa rakyatnya pun datang kemari untuk meminta pertolongan dari petinggi disini, namun karena keterbatasan hubungan kerajaan, jadi Valencia hanya diterima sebagai rakyat biasa, itupun atas bantuan Nathan dan Raja yang saat ini."
"Terimakasih kak, aku sudah paham dari sini sampai saat dimana aku lahir."