MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Desa Elf


__ADS_3

Tyra pun mencoba membantu dengan memanggil penjaga di hutan itu, ya si golem itu. Tapi Tyra tidak merasa harus membantu Maha lebih dari ini, karena bisa saja yang ia lakukan malah menimbulkan salah paham terhadap para Elf.


Tak berapa lama setelah itu, sang golem benar-benar muncul dan tersusun dari batuan di depan mereka.


Saat golem itu muncul, Maha mengira akan sulit untuk melawannya, karena bisa dibilang ukuran golem itu sangat besar, mungkin sebesar tubuh naga Ryu dan Rya.


"Kurasa para Elf memang memiliki rahasia tersendiri untuk daerahnya, sampai benar-benar menyiapkan golem sebesar ini."


"Menurut penilaianmu, apakah kita bisa menaklukkan golem ini, Hain?"


"Biarkan aku menyentuh golem itu, Maha. Aku akan menidurkannya. Golem ini juga berasal dari sosok roh, kuyakin dengan kekuatan rohku, aku bisa menidurkannya."


"Apakah aku langsung berjalan pada golem ini?"


"Ya, segeralah. Mumpung tubuh golem ini belum sepenuhnya tersusun. Aku akan menidurkan rohnya langsung, ketika ia baru memasuki tubuh golemnya."


Maha lalu berjalan, ke golem itu. Menyentuh bagian kaki golem itu. Tak lama, benar saja golem itu dengan tubuh yang tersusun langsung tidur, seperti layaknya seekor kucing yang ditidurkan majikannya.


Selesai menidurkan golem itu, semua heran dengan apa yang Maha lakukan. Tapi, Maha hanya bersikap biasa.


"Maaf Ryu dan Rya, kurasa aku telah mengambil tugas kalian. Kupikir akan susah, ternyata tidak sesusah yang aku pikirkan." Ucap Maha.


"Tyra? Kami sudah boleh masukkan?" Saat Maha bertanya pada Tyra, Tyra hanya membalasnya dengan tersenyum dan menghilang.


Bersamaan dengan menghilangnya Tyra, hutan yang mereka coba masuki selama seminggu tidak berhasil itu, akhirnya ranting-ranting pohon yang sebelumnya menghalangi, perlahan mulai terbuka.


Maha dan yang lainnya segera masuk ke sana, beberapa saat semua yang bersama Maha, termasuk Maha sendiri kaget. Karena yang pertama mereka lihat adalah keindahan dari hutan itu sendiri, cahaya matahari yang sedikit memasuki hutan itu memberikan kesan yang sejuk.


"Tuan Muda, bagaimana caramu menjinakkan golem itu?" Tanya Richard.


"Tidak ada yang spesial, semua terjadi secara langsung. Entah mengapa aku merasa, kalau aku bisa menyentuhnya maka aku bisa menenangkannya." Jawab Maha.


"Itu tidak sekedar tenang, Maha. Dia tertidur." Sahut Reha.


"Begitu ya? Ya sudahlah. Anggap saja tadi itu adalah keajaiban." Balas Maha cuek.


"Jadi, dimana letak desa Elf, Zia?" Sambung Maha bertanya pada Zia.


Zia lalu menunjuk ke arah depan, dan memandu perjalanan mereka. Tidak lama memang, dari saat pertama mereka memasuki gerbang hutan ini, mereka sudah bisa melihat sebuah desa yang bertumpu pada pohon-pohon besar.


"Itu adalah desa Elf. Aku rasa, Tyra telah kesana, jadi kalian silahkan kesana." Ucap Zia.

__ADS_1


Lalu Kanna menggenggam tangan Zia.


"Ini adalah tempatmu pulang, apakah kau tidak ingin pulang?" Tanya Kanna pada Zia.


"Aku hanya akan dianggap pengkhianat bila kembali ke sana." Jawab Zia.


"Baiklah, Zia. Dengarkan aku..." Kanna memegang kedua bahu Zia.


"Anggap saja kali ini kau datang kemari sebagai salah seorang dari tim kami, dan kau hanya berkunjung ke sini." Sambung Kanna.


"Sepertinya kau tidak akan begitu kerepotan setelah ini, Maha. Karena Putri Kanna sepertinya mulai membiasakan diri untuk membantumu berbicara."


"Ya, kuharap dia tidak menjadi seperti yang lalu."


Akhirnya Zia ikut dengan mereka untuk ke desa Elf itu. Kesan pertama mereka adalah takjub, karena indahnya tatanan rumah para Elf itu. Mereka juga takjub akan ramainya warga di sana.


Mereka terus berjalan, lalu pada satu titik mereka jadi pusat perhatian seluruh warga Elf saat itnu.


Tiba-tiba Tyra dan seorang Elf datang menuju mereka.


"Rombongan ini Tyra?" Tanya Elf itu pada Tyra, memastikan sesuatu.


"Siapa kau nak?" Tanya Elf itu.


"Aku Maha. Aku datang kemari untuk berbagi ilmu, dan juga mencari ilmu." Jawab Maha.


"Maha ya? Namaku adalah Harley. Elf yang sudah berada di tingkat Fairy, dan aku adalah pemimpin desa ini." Balas Elf itu.


"Fairy?"


"Setahuku Maha, Fairy adalah seorang Elf yang sudah melebihi batasnya sendiri sebagai seorang Elf. Sama halnya seperti beberapa manusia yang melenihi batas tertentu."


"Seperti Merlin?"


"Ya kurang lebih seperti itu. Tapi, aku kurang tahu tentang kelebihan dari seorang Fairy sendiri."


"Sebelum aku banyak omong, aku akan bertanya padamu, Tuan Harley. Apakah kau menerima kami di desamu ini?" Tanya Maha.


"Aku tidak bisa menolaknya, karena seperti yang ada di peraturan. Siapa pun yang bisa melewati golem, maka diizinkan untuk datang kesini." Jawab Harley.


"Sebaiknya kau perkenalkan siapa saja yang ikut denganmu Maha, termasuk Zia."

__ADS_1


Maha lalu memperkenalkan siapa saja yang ikut dengannya, dari Kanna sampai Zia.


"Zia!?" Kaget Harley.


Zia hanya tertunduk, walaupun Zia tahu dia tidak sengaja berbuat kesalahan, tapi dia tahu kalau membunuh ras lain adalah kesalahan, makanya dia hanya diam.


"Zia datang kesini bukan sebagai seorang Elf yang ingin pulang, tapi karena dia sudah menjadi rekan kami, maka kami harus membawanya kemanapun kami pergi." Jelas Maha.


"Ya, aku tahu Zia bukan Elf yang jahat. Tapi, peraturan tetaplah peraturan." Ucap Harley.


"Tenang saja, Tuan Harley. Aku akan bertanggung jawab kalau nanti terjadi apa-apa dengan Zia." Sambung Maha menjelaskan.


Dan Harley menerima penjelasan Maha itu. Dia lalu mengajak Maha dan timnya berkeliling melihat-lihat desa Elf itu.


Di tengah perjalanan berkeliling mereka, Harley menanyakan sesuatu pada Maha tentang hawa Demon dari Kanna.


"Kau menyadarinya juga? Saudariku ini memang menguasai enam elemen, sihir cahaya dan sihir kegelapan pun ada pada dirinya. Itu karena dia murid seorang Demon." Jelas Maha.


"Tuan Muda, bukankah kau kasihan pada Reha?" Bisik Richard bertanya pada Maha.


"Kasihan? Kenapa?"


"Dia bahkan adalah keturunan Demon, apakah si Harley ini tidak merasakan hawa Demon pada Reha?"


"Tuan Harley, apakah kau merasakan hawa Demon lain di antara kami selain dari Kanna?" Tanya Maha pada Harley yang memandu jalan.


"Tidak aku tidak merasakan hawa Demon selain dari Saudarimu itu. Kenapa memangnya?"


"Oh tidak-tidak... Aku hanya berbasa-basi."


Richard lalu berbisik pada Reha.


"Nah apa yang kau rasakan Reha? Apakah sakit hati karena tidak di anggap sebagai ras Demon? Haha."


Reha yang kesal dengan bisikan Richard langsung menendang kaki Richard.


"Setidaknya aku adalah manusia, Ogre bodoh." Ucap Reha.


Ryu dan Rya, terus berwaspada pada pandangan para Elf yang tertuju pada tim mereka.


"Tenang saja." Celetuk Kanna pada Ryu dan Rya.

__ADS_1


__ADS_2