MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Assassin


__ADS_3

Kedua naga itu segera turun dari langit, dan berubah wujud seperti Rey. Maha kira mereka akan melakukan penyerangan terhadapnya sama seperti yang Rey lakukan, tapi ternyata tidak. Kedua naga yang berwujud manusia itu tunduk di hadapan Maha.


"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan?" Tanya Rey yang panik.


"Kenapa kau panik, Rey? Ajaran ras Dragon adalah saat kita bertemu seseorang yang lebih baik dari kita, kita harus tunduk padanya. Dan ya, orang itu ada dihadapanmu saat ini." Ucap salah satu Dragon itu.


"Percaya atau tidak, dua Dragon ini nampaknya bisa melihatku Maha." Ucap Hain.


"Lalu?"


"Aku telah hidup lama sebelum mereka, bisa dipastikan kalau mereka tunduk padamu karena ada aku, makhluk yang lebih tua dari mereka."


"Baiklah, aku paham Hain."


"Siapa kalian?" Tanya Maha pada kedua Dragon itu.


"Tuan, kami tidak memiliki nama. Yang jelas kami adalah naga yang tak memiliki tujuan." Jawab salah satu naga itu.


Di saat itu juga, Kanna sedikit menarik jubah Maha. Maha memang pemarah, tapi Maha bukan pendendam.


Maha pun segera mengajak Kanna untuk berbincang empat mata, dan menyuruh Richard dan Reha menjaga para Dragon itu.


"Ada apa, Kanna?" Tanya Maha.


"Aku hanya mau minta maaf padamu, Maha." Jawab Kanna.


"Itu bisa dibicarakan nanti."


"Tidak!" Kanna berteriak.


"Aku tidak mau menunda lagi, aku benar-benar minta maaf, Maha." Sambung Kanna dengan menundukkan badannya.


"Hatinya gemetar terus Maha, sepertinya dia tidak tahu letak kesalahannya."


"Aku tidak pernah dendam padamu Kanna, tapi jangan biarkan perasaan egoismu menguasai dirimu. Saat ini kita sedang berhadapan dengan ras Dragon. Kita bicarakan hal ini nanti, yang jelas aku telah memaafkanmu." Balas Maha.


Maha dan Kanna pun kembali ke hadapan para Dragon. Dan Maha bingung dengan tujuan para Dragon ini.


"Apa tujuan kalian kemari?" Tanya Maha pada para Dragon itu.

__ADS_1


"Seharusnya kami yang bertanya, ada perlu apa kau sampai datang kemari?


"Kami hanya akan melewati rute ini, kami sedang menuju ke hutan para Elf."


"Hutan para Elf? Itu akan sangat bahaya bila kalian memasukinya. Banyak hal yang aneh di sana, bahkan tidak mungkin hal-hal itu ada di daratan ini."


"Baguslah kalau begitu, aku akan makin bersemangat untuk data ke hutan itu. Dan oh ya, namaku Maha, calon penguasa daratan ini." Ucap Maha, lalu bersama timnya Maha pergi meninggalkan para Dragon.


"Tuan Muda, kurasa mereka adalah pemilik wilayah ini." Ucap Richard.


"Richard, di daerah ini sering kali terjadi pertempuran, tidak mungkin mereka menempati tempat ini." Sahut Reha.


"Kalau begitu, apakah kau tahu berapa lama yang akan kita habiskan untuk menuju hutan Elf itu?" Tanya Maha pada Reha.


"Aku tidak tahu pasti, bahkan aku tidak tahu ada atau tidaknya hutan Elf itu. Yang jelas, aku pernah melihat ada wilayah perhutanan di ujung barat daya daratan ini, dan ya kurasa itu yang kita tuju. Dan kalau berjalan kaki seperti ini, kurasa waktu satu bulan adalah waktu yang paling singkat." Jelas Reha.


"Baguslah, selama sebulan perjalanan ini, aku akan melakukan sesuatu hal, dan kalian berdua jangan ikut urusan itu." Ucap Maha.


"Kanna?" Tanya Reha.


"Urusan itu bersama Kanna, kau dan Richard jalanlah dulu, kalau ada apa-apa tahan, dan tunggu kami." Jawab Maha.


"Jadi ada apa Kanna, aku akan mendengarkanmu." Ucap Maha.


"Sebenarnya aku tidak tahu, hal yang membuatmu marah, dan aku minta maaf karena aku tidak menyadarinya. Lalu, aku terus terpikirkan akan hal itu, aku di tim ini hanya punya kau Maha, aku tahu ada Richard dan Reha, tapi aku hanya ingin punya dirimu saja." Jelas Kanna.


"Yang jelas, aku tidak pernah menyimpan dendam padamu. Dan hal yang membuatku marah adalah, dirimu Kanna, aku juga hanya inginkan dirimu yang sesungguhnya, aku tidak kenal dengan Kanna yang bersikap angkuh seperti yang sebelumnya, intinya aku marah karena aku tidak ingin kehilangan Kanna yang kukenal." Balas Maha.


"Apa boleh aku memelukmu, Maha?" Tanya Kanna.


"Kemarilah." Jawab Maha, lalu memeluk erat Kanna.


Sekali lagi, Kanna menangis di pelukan Maha.


"Kenapa harus menangis?" Tanya Maha sambil terus memeluk Kanna.


"Aku rindu hal ini Maha." Jawab singkat Kanna.


Singkat cerita, lima hari berlalu, tiba-tiba Maha dan Kanna melihat Richard dan Reha yang sepertinya kehabisan daya sihir di depan mereka. Maha dan Kanna pun segera berlari dan menuju tempat Richard dan Reha.

__ADS_1


"Kenapa kalian?" Tanya Maha.


"Ada seorang pemburu bayaran yang tiba-tiba menyerang kami, dan kurasa aku kehilangan beberapa uang dompetku, Tuan Muda." Jawab Richard.


"Dia bukan pemburu bayaran biasa, Maha. Sepertinya dia telah terlatih dan berpengalaman lebih dari setahun, gerakannya sangat lincah." Sambung Reha.


"Sebut saja mereka Assassin, Maha. Mereka akan melakukan tugas mereka ketika mereka dibayar."


"Lalu, kemana dia pergi?" Tanya Maha.


"Yang jelas, kami diberikan segel olehnya, sehingga kami tidak bisa mengisi daya sihir kami." Jawab Reha.


"Kanna. Bisa kau atasi ini?" Tanya Maha pada Kanna.


"Sebentar." Kanna lalu memejamkan mata, dan mengidentifikasi sihir segel yang dimaksud Reha.


"Ini... Ini adalah sihir tingkat rendah." Sambung Kanna.


"Rendah?" Reha heran.


"Ya, ini tingkat rendah. Bahkan aku bisa membuka segel ini hanya dengan melihatnya saja." Jelas Kanna.


"Lalu? Tunggu apa lagi Kanna. Bantu mereka." Suruh Maha. Kanna yang menurut, dia hanya mengedipkan matanya, seketika Richard dan Reha terlepas dari pengaruh sihirnya.


"Menarik. Sihir apa yang digunakan oleh Kanna, kurasa sihir itu juga sihir kelas rendah. Tapi Maha, bukankah sihir Kanna meningkat lebih jauh? Makanya dia bisa bilang kalau segel ini adalah sihir tingkat rendah."


"Bisa jadi seperti itu Hain. Aku juga sudah hampir tidak pernah melihat Kanna memakai sihirnya."


"Ini hal yang bagus Maha, perlahan Kanna mulai tumbuh, ya meski sifat kekanak-kanakannya masih melekat padanya. Tapi, seoring bertambahnya usia, aku yakin dia akan menjadi lebih baik lagi."


"Kurasa aku menyukai sisi kekanakannya Kanna, Hain. Terlebih lagi, aku sangat terbiasa dengan hal itu."


"Itu terserah kau, Maha. Yang jelas, daya sihir Kanna telah meningkat lumayan drastis, bisa jadi karena depresinya waktu itu, setelah kematianmu."


"Benar begitu? Baguslah kalau begitu. Aku bisa berkesempatan untuk mempererat hubungan kami, Hain."


"Tentu, Maha."


"Ini bukan segel tingkat rendah, Kanna. Kekuatanmu sajalah yang telah berkembang. Kurasa bagus untukmu, akan kuberikan kau pujian." Ucap Maha, lalu mendekati Kanna.

__ADS_1


__ADS_2