MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Persiapan Maha


__ADS_3

"Kanna..." Sapa Maha pada Kanna yang tengah melamun.


"Apa yang kau pikirkan, Kanna? Ceritakan padaku." Sambung Maha.


"Kenapa kau tidak menceritakan tentang adanya Putra Mahkota padaku, Maha?" Tanya Kanna ditengah lamunannya.


"Aku akan bertanya beberapa hal padamu, Kanna. Apakah kau terganggu dengan adanya Putra Mahkota dari Rayya ini?"


"Aku sejujurnya tidak masalah, karena yang pasti itu adalah kakakku sendiri. Tapi, yang tidak aku sangka adalah sifatnya yang cukup menjengkelkan."


"Maha. Bukankah daripada Xavier sifatmu lebih patut dibilang menjijikkan?"


"Hain, diam sebentar."


"Ya... Ya..."


"Lalu, apakah dengan aku memberitahukan tentang Xavier ini maka akan membuatmu senang? Ataukah malah bersedih?"


Kanna lalu tersadar dari lamunannya.


"Apa maksudmu, Maha?"


"Karena kau bertanya, maka dengan senang hati aku akan menjawabnya, Kanna. Tentang Xavier, aku tahu pandanganmu tentangnya adalah sifatnya yang menjengkelkan, tapi apakah kau tahu tentang rasa cintanya terhadap Rayya? Kurasa dia paling mencintai Rayya dibandingkan orang lain, bahkan lebih darimu mencintai Rayya, Kanna."


"Kenapa begitu?"


"Dari beberapa berita yang aku dengar, Xavier ini rela dianggap anak buangan dari Rayya, dan ketika sudah mumpuni maka Rayya akan mengambil Xavier lagi. Maka, apakah ada orang yang sangat mencintai kerajaannya sendiri seperti Xavier? Kurasa butuh puluhan tahun bagi kita untuk merasakan rasa cinta yang sama seperti yang Xavier tunjukkan."


"Lalu mengapa sifatnya begitu menjengkelkan?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu padaku? Bukankah sifatku juga sama menjengkelkannya? Dan juga, mungkin bisa dibilang sifatku lebih menjengkelkan daripada sifatnya?"


"Terlepas dari itu, mengapa kau menerima tantangan darinya?"


"Bukankah itu hal yang bagus? Untuk sekedar bermain-main dengan calon raja dari Rayya. Dan juga, sepertinya aku harus mencoba meruntuhkan ambisi calon raja ini, hehe..."


"Sepertinya kau memikirkan sesuatu yang tidak baik, Maha... Ceritakan padaku."


"Tunggu saja nanti. Aku akan memenuhi tantangan kakakmu itu dan membuatnya kaget dan terheran-heran, hahaha..." Ucapan penutup dari Maha dengan tawanya yang keras.


Besok paginya, Maha ngobrol dengan Nathan dan Valencia, menceritakan apa yang ia dapatkan kemarin saat berada di istana kerajaan.


"Maha, aku tahu akan hal itu. Apakah kau sudah bisa menerawang isi kepalaku? Lalu kau menyebarkan informasinya?" Tanya Nathan, perihal Xavier.


"Kau pikir anakmu seorang peramal? Aku hanya menyimpulkan dari berbagai informasi yang aku dapatkan, ayah." Jawab Maha, dengan senyum ringan.

__ADS_1


"Maha, ibu jarang sekali melihatmu tersenyum dulu. Apakah akhir-akhir ini kau sedang mengalami perubahan sifat secara drastis?" Tanya Valencia.


"Apakah aku nampak aneh saat tersenyum?"


"Hmm... Ya, seperti bukan Maha yang kami kenal, Nak." Jawab Nathan dengan menyilakan tangan dan memejamkan matanya.


"Tidak-tidak, itu bagus untukmu Maha. Murah senyum adalah hal yang bagus." Balas Valencia sambil menginjak kaki Nathan.


"Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong ibu, apakah ibu bisa membuatkanku sebuah jubah yang sama persis dengan yang aku kenakan saat ini?"


"Jubah anti sihir?"


"Tidak, kali ini bukan anti sihir ibu, aku ingin ibu buatkan aku jubah dengan sihir Regeneration."


"Tinggal masukkan kedalam jubahmu saja, Nak. Tidak perlu repot-repot membuat jubah lagi."


"Jadi, kalau mau efek Revitalize tinggal masukin saja?"


"Ya, tapi siapa yang bisa menggunakan Revitalize?"


"Kanna."


"Ibu bahkan mempelajari sihir itu bertahun-tahun, tapi hanya sampai di tahap Regeneration tidak bisa melebihinya, hebat sekali Putri Kanna bisa mengusainya di usia belia."


"Ya kurang lebih itulah gunanya perjalanan kami, ibu. Dan juga, apakah ibu percaya dengan adanya kutukan?"


"Kalau ayah?"


"Tenang, anakku. Aku akan percaya setiap omonganmu." Jawab Nathan dengan menahan rasa sakit, karena kakinya sedari tadi diinjak oleh Valencia.


"Aku akan bilang kalau aku telah dikutuk oleh salah satu dari tiga penyihir itu."


"Benarkah begitu?" Tanya Valencia.


"Ya. Untuk kutukannya sendiri, kalian datanglah saat aku berduel dengan Xavier di kemudian hari, agar mengetahunya."


"Kami pasti akan datang, karena kerajaan ini tidak seseram dulu lagi, Nak. Tentu, karena bantuanmu dan bantuan Jeevan. Kau masih ingat Jeevan kan?"


"Iya, kami beberapa hari yang lalu bertemu dia di kota Demon. Tidak perlu kaget, Demon yang berada di kota tersebut tidaklah suka mengganggu ras lain. Dan kurasa beberapa saat lagi, Je akan kembali ke Rayya."


"Baiklah. Kurasa ibu dan ayah tidak bisa menemanimu lama-lama nak. Rekan-rekanmu sepertinya sedang menunggumu." Ucap Nathan.


"Nak, kau harus selalu ingat. Keselamatanmu harus kau dahulukan." Sambung Valencia.


"Baik, ibu, ayah. Aku akan selalu mengingat ucapan kalian. Dan ayah, sedikit lagi aku akan memenuhi keinginan ayah untuk membuat jaya kerajaan Rayya. Saat itu terjadi, aku akan meminta satu hal pada ayah, dan ayah harus menurutinya."

__ADS_1


"Apakah bukumu sudah habis, nak?" Tanya Nathan.


"Kok buku?"


"Kau kan dulu minta buku."


"Aku sudah lupa, lagian buku yang ayah berikan belum penuh lembarannya. Ada satu hal nanti yang ayah perlu berikan padaku."


"Apa itu?"


"Nantikan saja." Maha lalu meninggalkan Nathan dan Valencia ke ruang santai, dimana timnya berkumpul.


"Apakah sudah selesai, Tuan?" Tanya Ryu.


"Ya, begitulah."


"Tuan Maha, bukankah kau sudah lama tidak bertemu dengan orang tuamu, apakah kau tidak ada isak rindu?" Sambung Richard bertanya.


"Untuk apa? Kan juga udah ketemu, lagian juga kalau dipikir-pikir lagi, aku dan kedua orang tua ku jarang membuat hal-hal yang dramatis." Jawab Maha.


"Kanna, bisa kau tanamkan sihir Revitalize di jubahku?" Tanya Maha pada Kanna.


"Tentu, tapi kenapa aku harus menanamkan sihir itu pada jubahmu?" Tanya balik Kanna pada Kanna.


"Ayolah, Kanna. Kau pikir berapa persen Maha bisa bertahan dari kekuatan kakakmu itu? Kurasa ide yang bagus dari Maha yang mau menanamkan sihir itu di jubahnya." Sahut Reha.


"Tuan Maha, apakah anda juga membutuhkan beberapa sisik ras Dragon yang kokoh?" Tanya Rya tiba-tiba.


"Tidak Rya. Sepertinya aku hanya membutuhkan sihir dari Kanna saja. Tapi kurasa kalau kau ingin membantuku, setidaknya aku butuh tameng lengan. Apakah direkomendasikan bila memakai sisik ras Dragon?" Tanya Maha.


"Segera saya buatkan, Tuan." Jawab Rya, lalu menghilang.


Tak lama langsung kembali lagi, dan membawa Ryu dan Rey pergi. Lebih tepatnya menyeret mereka berdua pergi.


"Maha, apakah aku tidak bisa membantu?" Tanya Zia.


"Hmm... Aku akan memastikan satu hal darimu, Zia. Taa pernah bilang ini padaku, dan akhirnya akupun mendapatkan satu informasi unik dari bangsa Elf sendiri, kalau mereka bisa memanggil hujan bahkan petirnya, walaupun petir sihir?"


"Iya, kami bisa melakukannya dengan peluit buatan dari tangan kami sendiri."


"Bisakah kau membuatkannya untukku?"


"Tentu, akan segera aku buatkan Maha. Aku tidak akan bertanya gunanya untukmu."


"Baguslah."

__ADS_1


Zia segera mengerjakan apa yang perlu ia lakukan. Selagi Kanna sedang menanam sihir Revitalize, Richard dan Reha berlagak sok sibuk dengan melihat keadaan sekeliling.


"Kalian berdua, ikut denganku untuk membantu ibu dan ayahku. Atau kalian mau menginap gratis disini?" Tanya Maha seolah mengancam mereka.


__ADS_2