
Kanna langsung duduk dengan tegap, dan sedikit bergeser menjauhi Maha. Meski tidak ada tawa di antara mereka, setidaknya mereka sama-sama paham kalau sedang bercanda.
"Hmm... Maha?"
Suasana sedikit hening, yang tadinya ada suara gemuruh warga desa.
"Kenapa perlahan sunyi?"
"Aku tidak tahu, coba akan aku lihat keluar." Maha menengok ke luar dari jendela yang tadi ia buka.
Saat melihat keluar, sebelumnya Maha melihat para warga sedang asyik bersantai, sekarang dia melihat tiga orang bertanduk. Itu adalah Demon, setelah Maha melihat ke arah para Demon itu, mereka langsung melihat ke arah Maha yang sedang memantau mereka.
Salah satu dari mereka pun menodongkan sebuah tongkat sihir, dan menyuruh Maha untuk keluar dari kamar itu.
Maha tidak takut apapun pada saat itu langsung saja dia keluar untuk menemui dan memenuhi pinta orang itu. Tentu, Kanna selalu ikut kemana pun Maha pergi.
Kanna yang saat itu keluar bersama Maha, kini berdiri di samping Maha untuk menghadap ketiga Demon itu. Dan juga, Kanna tidak se-tegang waktu pertama kali melihat Demon.
"Saat semua orang takut pada kami, kau kenapa tidak takut?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Untuk apa takut pada kalian?" Tanya balik Maha.
"Kami adalah penguasa daratan, dan kami para Demon adalah sejatinya para penguasa hahaha..." Ucap orang itu lalu tertawa kejam.
"Benarkah begitu? Lalu, siapa raja kalian? Kalian saja tidak memiliki pemimpin."
Demon itu terdiam, seolah marah dan kesal dengan pertanyaan Maha. Dia pun langsung menarik leher Maha dan berniat mengangkatnya. Namun, hasilnya berbeda dengan niat Demon itu, saat dia baru memegang leher Maha, Demon itu langsung seperti terkena aliran kejut listrik.
Demon itu menarik tangannya.
"Manusia licik, apa yang kau kenakan?!" Bentaknya pada Maha dan sambil memegang tangan yang kesakitan.
Maha pun kaget dengan reaksi Demon itu, tapi dia baru ingat, kalau dia sedang memakai kalung yang diberikan oleh Karin. Dan ya, karena Maha memang licik, dia langsung memanfaatkan situasi tersebut.
"Hahaha... Aku adalah calon pemimpin dari segala ras, namaku adalah Maha. Aku yang akan menguasai daratan ini. Dan ingat ini wahai Demon lemah, aku akan membiarkanmu pergi, untuk saat ini!" Ucap tegas Maha.
__ADS_1
Kanna kaget. 'Lho he lho he, kok Maha bisa menjawab begitu?' Tanya Kanna dalam hatinya.
Para Demon itu pun lari dari desa itu, dan para warga mulai keluar dari rumah. Karena mereka mendengar ucapan Maha yang ingin menguasai daratan ini, mereka pun langsung bertanya-tanya pada Maha, apa maksud dari ucapan Maha.
Namun, seperti biasa Maha selalu menghindar dari obrolan yang tidak ingin dia obrolkan. Maha menarik tangan Kanna, dan kembali ke kamar yang sebelumnya.
Sebelum Kanna bertanya aneh-aneh Maha mendahului berbicara pada Kanna.
"Sepertinya sihirmu belum bisa dilihat oleh mereka, Kanna."
"Eh.. Ah ya... Kau jangan mengalihkan perhatianku, Maha. Apa yang kau bilang barusan?" Tanya Kanna yang tidak lagi terkecoh dengan Maha.
"Haaah..." Hela nafas Maha seolah menunjukkan betapa malasnya dia.
"Intinya itu semua hanya intimidasi. Sebenarnya aku juga tidak tahu, kalau kalung dari Karin ini memiliki efek kejut seperti itu." Jelas Maha.
"Efek kejut?"
"Iya, kamu lihat kan tadi, Demon itu seolah tersengat sesuatu saat baru menyentuh leherku."
"Jangan dong. Nanti kamu kenapa-kenapa." Tangkis Maha, padahal mah sedang tidak mau disentuh Kanna.
Kanna menurunkan tangannya, tapi mukanya malah cemberut. Maha yang sadar kalau Kanna kesal padanya, dia langsung mengusap kepala Kanna, seperti mengusap seekor kucing.
"Lain kali. Sekarang tidurlah, aku akan berjaga untukmu." Ucap Maha tersenyum, dan memejamkan matanya.
Sekian lama Kanna melakukan perjalanan bersama Maha, baru pertama kali dia melihat Maha senyum setulus dan seikhlas itu. Karena, Kanna terluluhkan dengan senyuman Maha, dia pun segera tidur.
Maha? Maha seperti biasa, menulis pengalaman di buku kesayangannya. Tak lupa juga, dia menutup jendela yang tadi ia buka.
Maha selain menulis tentang informasi yang ia dapat dari warga, dia juga menuliskan tentang kalung yang ia kenakan.
Maha melihat Kanna, sepertinya sudah pulas tertidur. Maha pun melanjutkan menulis.
Lalu, Maha terpikirkan sesuatu. Kemana Temperance Lloyd, dia kan kepala desa di desa ini, mengapa tidak membantu warganya.
__ADS_1
Tak lama setelah Maha berpikir seperti itu, tiba-tiba ada ketukan dari pintu kamarnya. Langsung saja, Maha membukakan pintu, dan ternyata adalah Lloyd.
"Terimakasih, Nak. Aku tidak tahu harus membalas dengan apa padamu. Aku memiliki kesalahan di desa ini yang membuat para warga ketakutan saat para Demon datang." Ucap Lloyd sambil memegang pundak Maha.
"Kemana anda pergi? Bukankah ini tanggung jawab anda?" Tanya Maha membalas.
"Aku di angkat menjadi kepala desa, karena aku pernah membantu mereka membangun ekonomi. Dan aku juga membuat perisai untuk desa ini, tapi karena faktor usia, segala yang aku kuasai mulai pudar." Jelas Lloyd.
"Namaku Maha. Aku mengelana karena aku mencari tiga penyihir yang menjadi legenda. Sebarkan tentangku, pada siapapun. Dan juga, ingatlah kalau aku pernah kesini, aku akan memberikan penjagaan." Ucap Maha.
Maha berbicara ingin memberikan penjagaan terhadap desa para Machos itu, karena Maha sebelumnya tidak sengaja melihat ada sebuah sihir dari lembaran Kanna yang bisa melindungi suatu daerah. Tidak perlu banyak sihir, karena sihir tersebut hanya membutuhkan kekuatan angin, dan kita tahu dimana-mana pasti ada angin.
"Esok hari aku akan memasang sebuah pelindung itu, siapapun yang berniat jahat, dia tidak akan bisa masuk ke desa ini. Dan juga, kami akan berangkat esok hari, karena kami harus bergegas." Sambung Maha.
Lalu setelah berbincang beberapa menit, Maha diberitahu tempat yang berkemungkinan ada seorang penyihir yang mereka cari, yaitu desa para Goblin.
Maha pun melanjutkan menulisnya, eh ternyata Kanna masih bangun.
"Apa kau akan memaksaku untuk membuat pelindung untuk desa ini Maha?" Tiba-tiba bisik Kanna di telinga Maha yang menulis, kagetlah Maha.
"Apa kamu tidak mau melakukannya?" Tanya Maha pada Kanna yang menaruh dagunya di atas bahu Maha.
"Aku akan mendapatkan apa dari melakukan hal itu?"
"Benar juga. Baiklah, setelah kamu memasang pelindung itu, aku akan menuruti perkataan mu seharian." Ucap Maha.
Karena Kanna mulai suka dengan perilaku Maha, dia pun menyetujui permintaan Maha untuk melindungi desa para Machos ini.
Singkat cerita, besok pagi setelah memasang pelindung dan bersiap pergi, mereka dihentikan oleh Lloyd.
"Nak Kanna, aku tidak tahu pasti kepercayaan apa yang ada di Rayya, tapi temanku adalah orang yang datang dari Rayya sana. Ini adalah baju temanku yang dari Rayya, dia seorang pengelana juga waktu muda, sekarang dia sudah meninggal. Akan kuberikan baju ini padamu." Ucap Lloyd memberikan sebuah bungkusan.
Kanna pun mengenakannya, dan Lloyd bilang ada sihir yang terus mengalir di setiap serat benang yang ada di baju ini.
(Baju seperti di ilustrasi sebelumnya, Episode 'Kelahiran Putri Kanna')
__ADS_1