
Penyihir itu membawa Maha dan Kanna ke suatu rumah kecil, dan saat baru memasuki rumah itu, suasana dan perasaan mulai berubah. Karena, di sekeliling rumah itu ada aliran sihir yang melindunginya.
Ular yang tadinya mengejer mereka pun tidak sadar kalau di tempat itu ada rumah kecil, ular itu pun amblas dan tidak lagi mengejar mereka.
Saat berada di rumah itu, betapa takjubnya Maha dan Kanna, karena rumah itu berisi barang-barang antik. Dan penyihir itu menjelaskan, kalau benda-benda yang mereka lihat itu adalah benda pusaka.
"Namaku Reha, penyihir yang melakukan pekerjaan karena desakan." Ucap penyihir itu.
"Aku Maha dan ini saudariku, Kanna."
"Kalian bisa-bisanya dikejar sama Garaga."
"Garaga?"
"Ya, itu nama mereka, ras reptil terbesar, Garaga."
"Raja reptil?"
"Ya begitulah. Kemana kalian akan pergi? Mengapa bisa bertemu dengan Garaga?"
Maha pun menjelaskan kronologinya. Mulai dari dia dan Kanna yang menunggu berhari-hari sampai bertemu dengan Reha.
"Tujuan kalian?" Tanya Reha.
"Kami mencari tiga penyihir yang menjadi legenda."
"Kalau aku tebak, kalian sudah bertemu dengan Lloyd kan?"
"Ya, beberapa minggu sebelumnya, kami bertemu dengan Temperance Lloyd. Dan kami mencari dua lainnya."
"Satu dari dua yang kalian cari, adalah guruku. Dan kupikir, mungkin saja dia sudah tidak sekuat dulu, karena usianya."
"Kami tidak menemui mereka untuk meminta pertolongan maupun kekuatan. Kami hanya disuruh seseorang untuk menyapa mereka." Sahut Kanna.
"Dari jenis sihirmu, sepertinya kamu kaum Demon ya?"
"Aku manusia, yang memiliki guru seorang Demon."
"Begitu? Baiklah, aku akan memberikan kalian beberapa petunjuk tentang Marry Trembles, guruku."
Reha menuliskan beberapa catatan dan memberitahu secara lisan pada Maha dan Kanna tentang Marry.
"Oiya, aku akan bertanya pada kalian, apakah kalian pernah mendengar julukan mereka?"
"Ya. Si Kejam, Si Terlatih, dan Si Lembut." Jawab Maha.
__ADS_1
"Nah, kau tau kenapa mereka mendapatkan julukan itu?"
"Kenapa?"
"Karena mereka memiliki sifat yang berlawanan dari julukan mereka. Aku tanya, apakah Lloyd kejam seperti julukannya?"
"Oiya benar juga, saat kami berada di desa Machos, desa itu diserang oleh para Demon. Saat itu, Lloyd tidak datang untuk melindungi rakyatnya, yang mana kurasa dia tidak melindungi desanya karena dia ingin berdamai dengan siapapun yang datang ke desanya. Terlebih lagi selesai aku dan Kanna mengusir Demon itu, Lloyd malah berterimakasih sedalam-dalamnya karena kami telah menyelamatkan desa itu. Kenapa begitu?"
"Mereka menjadi banyak yang kenal, karena mereka pernah mengalahkan musuh terbesar dari daratan ini. Yaitu Kraken, seekor makhluk laut raksasa yang berniat merusak tatanan daratan ini."
"Kurang lebih aku paham." Ucap Maha.
"Tunggu sebentar, kalau mereka memiliki sifat kebalikan dari julukannya, berarti gurumu Marry Trembles...?" Ucap Kanna.
"Ya, dia tidak memiliki riwayat pernah belajar sihir dimana pun, makanya dia di juluki si Terlatih. Dan itu juga, menjadi alasan untuk aku kabur darinya." Balas Reha.
Reha menceritakan tentang Marry Trembles, mulai dari kebiasaannya sampai sihir apa yang Marry punya.
Kebiasaan Marry adalah suka merebahkan diri di atas kasur dan membaca buku, sifat Marry adalah bermalas-malasan. Sedangkan sihir yang sering Marry gunakan adalah sihir cahaya, atau sihir yang biasa digunakan untuk melawan para Demon.
"Terimakasih atas informasinya. Kami akan segera pergi, karena kami tidak bisa berlama-lama." Ucap Maha pada Reha.
"Tidak masalah. Mengapa kalian buru-buru untuk pergi?"
"Begitu kah?"
"Ya begitulah. Ngomong-ngomong, katamu kamu adalah penyihir yang melakukan pekerjaan karena desakan, maksudnya?"
"Hutan kecil dan rumah ini adalah wilayahku, jadi aku melakukan pekerjaan hanya kalau tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi pada hutan ini." Jelas Reha.
"Baiklah. Kalau begitu kami akan langsung melanjutkan perjalanan kami."
"Tunggu. Garaga masih berada di hutan ini, dia belum keluar dari hutan ini. Tunggu sampai dia keluar dari hutan ini, lalu lanjutkan perjalanan kalian." Ucap Reha.
"Darimana kamu bisa tahu hal itu?" Tanya Maha.
"Sebenarnya aku memasang beberapa pengintai di hutan ini. Dan itu cukup memudahkanku untuk mengetahui apa saja yang terjadi di hutan ini." Jelas Reha.
"Oh, baiklah."
"Aku akan menuju ruanganku, kalian silahkan ngobrol berdua dulu." Ucap Reha, lalu meninggalkan ruangan yang mana Maha dan Kanna berada di situ.
"Kakimu gak sakit, Kanna?"
"Tidak."
__ADS_1
"Baguslah. Sepertinya kamu lumayan termenung, apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Si Lembut, Susan Edward. Entah mengapa aku merasa kalau dia akan sulit kita temui nantinya."
"Jelaskan padaku apa yang membuatmu merasa seperti itu."
"Pertama, sudah pasti sifatnya yang berbalik dari julukannya. Kedua, apakah ada jaminan, setelah kita menemui Marry, kita bisa mendpaatkan informasi tentangnya?"
"Pertimbangan yang bagus, Kanna. Tapi perlu di ingat lagi, sejauh ini kita berjalan tanpa tujuan, akan tetapi kita dapat menemukan jalan keluarnya. Setidaknya untuk sekarang kita harus berpikir positif." Jelas Maha.
"Baiklah, aku paham. Ngomong-ngomong, kenapa kakimu gemetaran, Maha?"
"Tidak, tidak apa-apa kok."
"Kakimu sakit? Kamu jarang lari kan?" Kanna setelah bertanya, langsung memegang kedua kaki Maha dan memberikan Holy Healing padanya.
"Setelah pulang nanti, saat sudah kembali ke Rayya, aku akan memberikanmu pelatihan, agar tubuhmu tidak lemah." Sambung Kanna yang sedang menyembuhkan kaki Maha.
"Kamu mengancam?"
"Ya aku mengancammu. Kalau kau tidak mau, maka akan aku laporkan pada ayahku, kalau kau telah melakukan sesuatu yang aneh-aneh padaku."
"Kok? Aku kan gak pernah ngapa-ngapain kamu."
"Hehe." Tawa kecil Kanna yang terkesan jahil.
Lalu Reha membawa minuman pada Mah dan Kanna.
Saat baru disajikan oleh Reha, Kanna yang haus segera berniat meminumnya, namun dicekal oleh Maha.
"Tunggu Kanna, aku mencium bau tanaman herbal yang tidak asing. Ini adalah teh chamomile, obat tidur. Apa maksudnya ini, penyihir Reha?"
"Bagus juga penciumnmu nak. Aku hanya menguji kalian, apakah kalian benar-benar seorang pengelana yang berilmu atau pengelana yang semena-mena. Dari sini, aku akhirnya tau kalian punya ilmu untuk melakukan perjalanan. Baiklah, aku minta maaf atas ujianku." Jelas Reha.
"Siapapun itu, yang berani mencelakai saudariku, tidak akan aku maafkan, jadi hati-hati."
"Heee~ Lalu bagaimana caramu menyelamatkan saudarimu dari celaka yang nanti menghampirinya? Sedangkan dirimu sendiri tidak memiliki daya sihir, dan sepertinya kau juga tidak memiliki kekuatan fisik."
"Apapun caranya, akan aku lindungi Kanna."
"Iya-iya. Bawa ini." Ucap Reha memberikan sepasang sarung tangan putih.
"Apa ini?"
"Ini bisa menangkis sihir yang sedang menuju ke arahmu, dan ingat meski bisa menangkis sihir, alat ini juga ada batasnya." Jelas Reha.
__ADS_1