
Singkat cerita, mereka sampai di tujuan mereka. Yaitu, tempat di mana Marry Trembles berada. Tempat itu berupa desa kecil yang dipenuhi oleh reruntuhan bangunan yang tidak tertata.
"Desa macam apa ini?!" Teriak Kanna.
"Aku akan berkeliling dam melihat-lihat, apa saja yang ada di desa ini, Tuan Muda. Kalian segeralah mencari orang yang kalian cari." Ucap Richard.
Tidak lama setelah Richard meninggalkan mereka, Reha datang menghampiri mereka. Menyuruh mereka untuk mengikutinya.
Mereka dibawa ke suatu gubuk kecil, membuat mereka kebingungan.
"Disini Marry Trembles tinggal?" Tanya Maha.
"Ya, rumah seperti apa yang kau harapkan dari seorang pemalas sepertinya." Jawab Reha.
Mereka pun segera masuk ke gubuk itu. Dan nampak oleh mereka seorang nenek-nenek yang tiduran diatas kursi.
"Ini dia guruku." Ucap Reha.
"Sepertinya kita tidak perlu berlama-lama di desa ini Maha, kita harus segera pergi. Yang penting kita sudah bertemu dengan ketiga penyihir, dan kita harus segera menuju tempat para Elf, lalu kita kembali ke Rayya." Ucap Kanna dengan pandangan rendah pada Marry.
"Tidak usah buru-buru, lagian siapa ini Maha? Kanna yang sebelumnya tidak seperti ini." Tanya Reha.
"Seperti halnya sebuah tumbuhan yang bisa terus tumbuh, kami juga telah mengalami beberapa hal selama tiga bulan terakhir." Jawab Maha.
Yang dimaksud berbeda oleh Reha mungkin adalah karena Kanna saat pertama kali bertemu dengan Reha sikapnya lebih lemah lembut, dan kini sikapnya jauh terbalik, mungkin itu yang dimaksud Reha.
"Bangunkan dia, Reha. Apa kamu membuat kami menunggu?" Sambung Maha bertanya.
"Ya." Ucap Reha, lalu menendang Marry sampai jatuh dari kursi.
"Haaa~ahh." Marry mulai bangun.
"Ada apa, Re?" Tanya Marry pada Reha, dengan kondisi masih mengantuk dan duduk di lantai.
"Kau kedatangan tamu, nenek pemalas." Bentak Reha.
"Maha, Reha mengaku murid dari Marry kan ya?" Tanya Hain.
"Aku tidak meragukannya, Hain. Hal ini akan aku lakukan juga jika Merlin malas-malasan, dan juga hal ini adalah mungkin tanda kedekatan antara murid dan guru." Jelas Maha.
"Manusia memang ras yang aneh."
__ADS_1
Marry berdiri, lalu dengan sombongnya berkata.
"Apa yang kau butuhkan dari gadis sepertiku, anak muda?" Tanya sombong Marry, padahal Maha dan Kanna bisa melihat wujud asli Marry.
"Apa ini? Waham kah?" Hain heran.
"Aku rasa seperti itu Hain." Jawab Maha.
"Marry Trembles, aku diutus oleh Merlin untuk memberikan salam padamu." Ucap Maha.
"Perkenalkan namamu." Ucap Marry.
"Tidak usah banyak omong, aku dan Maha bisa tahu kalau kau tidak lagi muda, ilusimu tidak mempengaruhi kami. Singkat saja aku Kanna, dan ini saudaraku Maha. Dan temanmu, Susan Edward telah mengutuk Maha dengan entengnya." Kanna sangat kesal sepertinya.
"Susan? Kalian bertemu Susan? Berarti kalian telah bertemu dengan Lloyd juga. Aku rasa aku tidak bisa menerima kalian di sini. Anggap saja kalian telah selesai membawakan salam Merlin padaku." Ucap Marry dnegan muka serius, lalu tiduran lagi di atas kursi.
"Tahu begini, kau tidak perlu repot-repot mendatanginya Maha." Ucap Hain.
"Mau bagimana pun juga, sekarang aku sudah membawakan salam Merlin pada teman-temannya. Sepertinya mulai sekarang aku akan mencari tujuan yang sebenarnya, yaitu mendapatkan seluruh informasi tentang daratan ini, dan aku akan segera berangkat mengunjungi para Elf."
"Iya Maha, kurasa lebih cepat lebih baik. Tapi sepertinya kau akan mendapatkan bantuan tambahan setelah ini."
"Reha, ikuti anak-anak ini. Anggap saja ini ujian terakhirmu sebagai muridku. Temui Merlin, aku tau dia ada di Rayya, yang mana kerajaan itu sedang dalam incaran, sebaiknya kau menetap di sana." Ucap Marry yang sedang tidur, pada Reha.
"Lalu siapa yang akan mengurusmu?" Tanya Reha.
"Aku sedang memikirkan, apa aku harus menjadi seorang Lich, ataukah aku akan mati diatas kursi ini. Aku rasa waktuku tidak banyak lagi, jadi daripada kau sia-sia di sini, lebih baik ikuti anak-anak ini. terutama anak laki-laki ini, dia punya roh yang bagus untuk kau teliti." Jelas Reha.
"Ya sudah, aku akan menurutimu. Sekarang akui aku sebagai seorang High Witch." Ucap Reha.
"Ya." Jawab singkat Marry.
Mereka bertiga lalu meninggalkan gubuk Marry dan kembali ke posisi awal Reha menjemput mereka tadi.
"Ini maksudnya Hain?"
"Ya, kurasa ini adalah hal yang bagus, Maha."
"Baiklah."
"Jadi kemana kalian selanjutnya pergi?" Tanya Reha.
__ADS_1
"Kami selanjutnya akan pergi ke tempat para Elf, untuk mencari pengetahuan baru di sana." Jawab Maha.
"Menarik, baiklah aku harus menyiapkan beberapa persiapan terlebih dahulu." Ucap Reha.
"Bukankah semua barangmu sudah berada di penyimpanan sihirmu?" Tanya Kanna, yang matanya mulai bersinar.
"Ya. Tapi ada yang perlu aku siapkan lagi. Tapi tunggu, aku merasakan hawa makhluk lain. Orc? Bukan, aku merasakan sebuah hawa Ogre." Ucap Reha.
"Tenang saja. Richard." Ucap Maha, dan Richard langsung berdiri di sampingnya.
Reha kaget, dan langsung mengambil ancang-ancang. Richard masih tenang, dengan wajah datarnya.
"Dia adalah rekanku, aku bertemu dengannya setelah dari tempatmu." Jelas Maha.
Reha lalu menenangkan diri, dan kembali dengan posisi tegap.
"Dia adalah Richard. Dan Richard, sekarang di tim perjalanan kita akan ada anggota baru, dia adalah Reha, seorang High Witch." Jelas Maha.
"Aku curiga, apakah dia benar-benar manusia, Tuan Muda?" Tanya Richard.
"Reha seperti Ayyra, Maha. Walaupun dia lebih dominan ke ras manusianya dibanding ras Demonnya." Jelas Hain.
"Sepertinya, Reha seorang keturunan Demon dan manusia." Jawab Maha.
"Oh... Ada juga ya, manusia yang mau bercinta dengan Demon." Balas Richard, yang sedikit ambigu.
"Maksudku bukan hal yang aneh-aneh, Tuan Muda. Aku rasa manusia bisa mencintai ras selain manusia, dan hal itu tidak pernah kutahu sebelumnya." Sambung Richard sepertinya panik, karena mungkin dia merasa kalau Maha masih anak-anak dan belum boleh tau temtang hal dewasa.
Tapi, karena Maha adalah seorang pembaca, dia bisa seluruhnya mengerti, apa yang diucapkan oleh Richard.
"Maha. Aku tidak pernah bercerita tentang hal itu kan padamu? Darimana kau tau hal itu?" Tanya Reha, dengan muka gelisah.
"Tenang saja Reha, aku juga punya seorang teman yang bernasib sama sepertimu. Dan kini dia adalah seorang petinggi di kerajaan kami, akan kukenalkan nanti." Jawab Maha.
"Jadi kapan kita berangkat?" Kanna tiba-tiba bertanya, dengan nada yang sangat tidak enak didengar.
"Kenapa Putri Maha, makin menjadi tempramental begini." Ucap Hain, heran.
"Kanna!!!" Bentak Maha pada Kanna, yang membuat Kanna kaget.
"Kau bukan Kanna yang aku kenal! Lakukan perjalananmu sendiri kalau kau masih seperti ini!" Ucap Maha dengan penuh emosi.
__ADS_1