
Saat mereka berada tepat didepan gerbang mereka dihadang oleh penjaga disana. Dilarang masuk oleh mereka, lalu Kanna membuka identitasnya pada penjaga itu.
"Kami tidak percaya, Putri Kanna tidaklah berambut putih, kau jangan mengada-ada." Ucap seorang penjaga.
Karena mereka semua tidak bisa masuk, Maha dan timnya hanya bisa menunggu keberuntungan di depan gerbang Rayya. Kalaupun mereka memaksakan masuk, malah akan terjadi keributan, lebih baik mereka menunggu, entah apa yang ditunggu.
Karena mereka tidak ada kerjaan, Maha menyuruh mereka satu persatu menembakkan sihir api pada Maha. Dan ya Maha tidak merasakan apapun ketika diserang.
Saat itu juga, para penjaga melihat tim Maha ini sedikit merasa terusik, karena bisa jadi tim Maha yang mereka lihat ini adalah *******. Akhirnya seorang penjaga pergi, dan segera meminta pada penyihir terdekat untuk mengusir tim Maha.
Dan kebetulan penyihir itu adalah Ayyra. Ayyra yang belum sampai di hadapan Maha, meski samar-samar dia merasakan daya sihir yang besar, dan juga dibarengi dengan perasaan tidak asing. Ayyra mempercepat jalannya menuju gerbang, seperti yang seorang penjaga pinta.
Saat baru sampai di gerbang, kagetlah Ayyra.
"Maha?! Putri Kanna?!" Teriak Ayyra, lalu berlari ke arah Maha dan Kanna dan memeluk mereka.
"Kak Ayyra, kukira kau akan lupa dengan penampilanku yang sekarang." Ucap Maha.
"Aku sangat menantikan kalian, tidak mungkin aku melupakan kalian." Jelas Ayyra.
"Penyihir kerajaan, Ayyra. Kurasa para penjaga sudah lupa denganku." Ucap Kanna.
Para penjaga pun kaget, dan segera meminta maaf. Uniknya mereka meminta maaf sampai sujud-sujud.
"Maha, siapa yang kau bawa? Sepertinya bukan orang sembarangan." Tanya Ayyra, setelah melepaskan pelukannya.
"Mereka adalah rekan-rekanku." Jawab Maha, lalu memperkenalkan satu persatu anggota timnya.
"Hybird?" Ayyra kaget ketika Maha memperkenalkan Reha padanya.
"Kenalkan aku Ayyra, sama sepertimu aku adalah seorang Hybird." Ucap Ayyra mengulurkan tangan.
"Y-Ya... Aku adalah Reha." Jawab Reha dan menggapai tangan Ayyra.
"Jadi, Maha. Kemana kau akan pergi kali ini?" Tanya Ayyra pada Maha.
"Mumpung ada di sini aku ingin menyapa orang-orang yang ada dibangunan tua."
"Kebetulan sekali, Menteri Pembangunan berada di sana sekarang."
Mereka pun segera menunju bangunan yang dimaksud Maha, dan menemui orang-orang yang ada di sana. Maha langsung bertemu dengan Menteri Pembangunan disana.
"Arton." Sapa Maha pada Menteri Pembangunan.
"Hmm... Siapa?" Arton nampak kebingungan, karena merasa belum pernah melihat orang yang menyapanya itu.
"Apakah semuanya lancar? Aku jauh-jauh pulang ke Rayya untuk mendengar kabar baik darimu dan perkembangan orang-orang yang ada disini."
__ADS_1
Arton termenung, dan seolah mengingat-ingat, apakah ia pernah bertemu dengan orang yang disepanny ini atau tidak. Tak lama kemudian, Ayyra menyeltuk kecil menyebutkan nama Maha.
"Oh bos muda, lama tidak bertemu." Ucap Arton.
"Kenapa bisa lupa denganku?" Tanya Maha dengan senyuman kecil.
"Ya... Aku akan ingat pastinya kalau rambutmu tidak berubah."
"Bukankah pakaianku tetap masih sama?"
"Oh benar juga, tapi auramu sangat berbeda bos. Kau dulu lebih dingin, dan sepertinya orang-orang dibelakangmu sekarang sedang melihat seorang Maha sebagai manusia yang memiliki aura yang hangat."
"Banyak omong, seperti dulu. Itu tidak akan memakan banyak waktu, Arton."
"Kau masih suka mengintimidasi ternyata bos muda? Jadi apa tujuanmu kemari bos?"
"Aku datang untuk menyapamu saja, dan berikan salam pada orang-orang kalau aku sudah kembali."
"Baiklah bos."
Maha dan timnya pun segera pergi lagi, sekarang tujuan mereka adalah rumah Maha. Semua orang yang berada di sepanjang jalan nampaknya sedang bertanya-tanya tentang tim Maha ini, karena penasaran dengan rombongannya. Terutama Richard yang memiliki penampilan paling menonjol.
"Kenapa ku tidak menuju istana terlebih dahulu, Maha?" Tanya Ayyra.
"Kurasa aku akan menyapa orang tuaku dulu, karena aku lima tahun tidak bertemu dengan mereka."
Maha dan timnya terus berjalan. Di tengah keramaian rakyat Rayya, mereka jadi sorotan.
"Maha."
"Oh Hain, beberapa hari belakangan kau tidak berbicara denganku, apakah kau sedang tidur?"
"Tidak juga, Maha. Aku sedang mengawasimu. Ngomong-ngomong, aku hanya sekedar menyarankan sesuatu padamu, selagi kalian berjalan menuju tempat orang tuamu, ceritakan tentang dirimu pada semuanya, sepertinya mereka sudah cukup penasaran."
"Begitu? Baiklah, Hain."
"Sudah sampai di Rayya, apakah kalian tidak penasaran tentangku?" Tanya Maha pada timnya.
"Tentu kami penasaran." Jawab Richard.
"Aku juga penasaran, Maha. Kau bilang masih ada satu hal yang belum mereka ketahui tentangmu."
"Ya, aku hanyalah anak petani biasa di Rayya." Jelas Maha.
"Lalu?"
"Ya hanya informasi itu yang belum kalian dapatkan sebelumnya, selebihnya sudah."
__ADS_1
"Tidak tunggu, kami belum tahu mengapa Kanna dipanggil putri?"
"Kalau Kanna dipanggil putri, berarti Kanna ya seorang putri, apalagi?"
"Bukankah kalian kembar?"
"Tidak, kami hanya lahir di waktu yang sama, dan orang tua kami berbeda." Jawab Kanna.
"Sebaiknya kita segera ke rumahku, setelah itu baru kita ke istana." Ucap Maha.
Singkat cerita mereka sampai di rumah Maha, disana Maha sudah bisa melihat Nathan dan Valencia. Maha pun mempercepat langkah kakinya.
"Ayah! Ibu!" Teriak Maha dari kejauhan.
Nathan yang sedang memegang cangkul langsung melihat ke arah Maha, lalu tersenyum. Sedangkan Valencia langsung berlari dan segera memeluk Maha.
"Aku pulang ibu." Ucap Maha pada Valencia.
"Selamat datang, Nak." Jawab Valencia.
Nathan segera menuju Maha yang dipeluk Valencia, dan menepuk kepala Maha.
"Hei, Maha... Bukankah kau lebih tinggi daripada sebelumnya?" Tanya Nathan dengan senyum yang sumringah.
"Lima tahun berlalu, ayah. Mana mungkin aku tidak bertambah tinggi." Jawab Maha.
"Bagaimana?" Nathan bertanya lagi.
"Aku selesai mempelajari dari bangsa Elf, dan ya sekarang tidak hanya Kanna dan Je, rekanku makin banyak." Jawab Maha.
"Baguslah, Nak. Apakah kau akan pulang malam ini?"
"Sepertinya aku harus segera ke istana, ayah. Aku tidak boleh membiarkan Raja terus khawatir dengan Kanna."
"Baiklah, setidaknya taruh saja barang-barang kalian di rumah, kami akan menjaganya selagi kau ke istana. Dan oh ya, aku sudah bertemu para Dwarf yang kau kirim."
"Baguslah, walaupun bukan aku yang mengirim mereka, tapi Kanna."
"Oh begitu? Baiklah, sebelum ke istana datanglah ke Gereja Suci, Maha."
"Untuk apa?"
"Rahib Cayna menanti kalian, dia bersumpah tidak akan pergi dari Gereja Suci kecuali kalian telah kembali, dan terus berdoa untuk kalian agar segera kembali ke Rayya."
"Eee ibu... Apakah kau tau tentang sumpah Rahib Cayna itu?" Tanya Maha pada Valencia.
"Tidak Maha, aku tidak mengetahuinya." Jawab Valencia.
__ADS_1
"Ayah? Kau jadi penguntit ya? Marahi saja ayah, ibu. Dan beritahu kalau menguntit itu tidak baik." Balas Maha bercanda.