MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Jeevan Tiba di Koloseum


__ADS_3

Di malam harinya, mereka semua berkumpul di ruang makan untuk makan malam tentunya. Dengan obrolan hangat dari Nathan dan Valencia.


Nathan menceritakan kisahnya saat masih menjadi pejuang dahulu, dan Maha merasa aneh di sini, kenapa saat ia bertanya dulu seperti seakan dirahasiakan padanya.


"Tunggu sebentar, ayah. Kisah ayah ini dulu pernah ayah tahan kan sebelum menceritakannya padaku? Apa ada alasan tertentu?" Tanya Maha memotong cerita Nathan.


"Biar ibu yang yang jawab. Jadi ayahmu beberapa tahun yang lalu masih takut kehilanganmu, terlebih lagi pemikiranmu yang lumayan tajam. Ayahmu takut kalau kau terinspirasi dari kisahnya lalu memberontak pada Rayya. Dan akhirnya saat tau kau akan berkelana, ia lalu menceritakannya padamu, kurang lebih begitu nak." Jelas Valencia.


"Kanna, beginilah jadinya kalau rasa percaya hanya setengah-setengah. Pasti akan menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari." Ucap Maha.


"Lalu, apakah rasa percaya bisa membuatmu benar nak?" Tanya Nathan.


"Tidak ayah. Setidaknya kalau kita percaya pada orang lain dan kita jujur, maka kita akan melakukan satu usaha yaitu menjelaskan. Lalu ketika kita tidak percaya pada orang lain dan membohongi orang lain, maka beberapa usaha akan kita lakukan, dan tidak akan keluar dari dua usaha ini, yaitu menutupi kebohongannya dan menjelaskan berulangkali. Kalau kita percaya pada orang lain, ya setidaknya tidak membuat kita kerepotan." Jelas Maha.


Maha dan Nathan terus beradu mulut, sedangkan semua yang ada di sampingnya, tim Maha termasuk Valencia hanya menjadi penonton diantara mereka.


"Maha, kupikir kau sudah jauh berkembang. Kali ini ayah akui, ayah kalah dalam perdebatan kali ini." Ucap Nathan.


"Ayah jarang sekali, bahkan tidak pernah kalah dalam perdebatan denganku beberapa tahun yang lalu, dan sekarang ayah mengakuiku dan langsung kalah dariku?"


"Hahaha... Ayah memang pintar dalam berdebat, tapi tidak soal wawasan. Ayah hanya anak seorang petani biasa." Jawab Nathan yang membuat tim Maha membatin bersamaan.


'Sama-sama mengaku anak petani, memang anak dan ayah.' Batin tim Maha termasuk Kanna.


"Ngomong-ngomong, kalian semua sudah menyelesaikan pintaku tadi siang?" Tanya Maha pada timnya.


Semua tim Maha mengangguk, dan segera setelah makan malam mereka menunjukkan hasil yang mereka dapatkan seharian.


"Kanna, sihir apa yang kau tanamkan selain Revitalize pada jubah ini?" Tanya Maha setelah memakai jubah yang seharian di tanami sihir oleh Kanna.


"Revitalize, sihir penyembuhan berskala waktu dengan jumlah yang lumayan banyak. Dan keunikannya adalah, ini juga aku baru tahu, ternyata kalau ditanam di pakaian juga bisa membuat pakaian menjadi sangat ringan." Jawab Kanna.


"Tidak Maha, kau berpikir kalau itu bualan dari Kanna? Kurasa yang ia katakan adalah benar."

__ADS_1


"Apakah Revitalize ini butuh daya sihir untuk mengaktifkannya?"


"Kurasa jubah dari ibumu ini memiliki keunikan tersendiri, bisa menarik daya sihir yang berhamburan di udara."


"Benarkah? Tapi aku tidak menanyakan hal itu, Hain."


"Ya, jadi yang kumaksud adalah bisa aktif saat kau terluka, kurang lebih seperti itu."


"Oh baiklah."


"Zia, jadi ini peluitnya?" Tanya Maha pada Zia yang menunjukkan sebuah peluit dari kayu.


"Kalau dijelaskan kenapa dari kayu, mungkin akan aku jawab dengan simpel. Karena di bangsa Elf sendiri, kayu adalah sumber daya alam yang melimpah. Dan kenapa bisa mendatangkan hujan, dan memunculkan petir sihir, kurasa kau lebih tahu akan hal itu dari pengetahuan Taa." Jawab Zia.


"Ya, Taa memberitahu padaku, bahwa dewa langit prnah memiliki kontrak dengan bangsa Elf melalui sebuah pohon raksasa. Dan itu adalah kepercayaan dari bangsa Elf sendiri." Balas Maha.


"Tuan Maha, ini adalah hasil kami hari ini." Ucap Rya memberikan Maha dua bilah perisai lengan.


"Baiklah, lalu kalian mendapatkan sisik ini dari siapa?" Tanya Maha.


Rya dan Rey menunjuk Ryu.


"Ryu, apakah kaua tidak suka kalau aku memakai kulitmu?" Tanya Maha pada Ryu, seolah menghibur Ryu yang barusan kehilangan beberapa lapis sisiknya.


"Sebuah kehormatan bagiku, Tuan Maha. Tapi, lain kali coba membuka pemikiran untuk mencoba menggunakan bahan metal, seperti baja ataupun besi. Kurasa sama kuatnya." Jawab Ryu.


Rey dan Richard langsung tertawa.


"Baiklah, untuk hari ini kurasa cukup sampai disini. Kurasa kita akan bertemu disaat hari pertarungan nanti." Ucap Maha beranjak dari duduknya.


"Apa maksudmu, Maha? Bukankah lusa kau baru bertanding?" Tanya Rey.


"Apakah kau pikir untuk orang sekelasku akan meremehkan lawan, Rey?" Tanya balik Maha.

__ADS_1


"Kalian datanglah ke gladiator kerajaan bersama ayah dan ibuku, aku akan menuju kesana sendirian." Sambung Maha.


"Setidaknya beritahu alasan kenapa kami harus mengikuti instruksimu itu?"


"Rey. Kubilang aku tidak akan meremehkan kekuatan lawanku kan?" Maha menatap bengis pada timnya, yang membuat Rey terdiam dan tidak menjawab ataupun bertanya apapun pada Maha.


Singkat cerita, hari pertandingan pun tiba. Semua orang berkumpul untuk datang dan melihat siapa orang yang berani melawan si penyelamat warga, Maha. Semua orang datang pastinya untuk mendukung Maha, tak terkecuali Jeevan yang tiba-tiba muncul diantara tim Maha.


"Tuan Je? Kapan kau kembali ke Rayya?" Tanya Ryu kaget dengn kehadiran Jeevan.


"Beberapa saat yang lalu. Dan saat aku kembali, banyak orang yang pergi ke gladiator. Kukira ada apa, ternyata Maha sedang bertanding." Jawab Jeevan.


"Apakah Tuan tahu tentang lawan Tuan Maha?"


"Xavier atau siapalah itu, aku tidak tahu pasti. Dan pastinya bukan orang Rayya kan?" Tanya Jeevan santai, dengan menyilakan tangannya.


"Tuan Je, seperti asumsimu salah. Si Xavier ini adalah Putra Mahkota Rayya."


"Oh benarkah? Menarik" Ucap Jeevan, lalu semakin fokus melihat ke arah tengah gladiator.


"Apakah kau tidak takut kalau Tuan Maha kalah, atau semacamnya?"


"Maha? Dia adalah tipe orang yang datang untuk menang, jadi tidak mungkin dia datang untuk kalah kan? Dan biar aku tebak. Dia sehari sebelumnya menutup dirinya dari kalian kan? Dia melakukannya untuk memikirkan strategi, bukan untuk bersantai ria." Jawab Jeevan.


"Sepertinya kau sungguh kenal dengan Tuan Maha. Bisa sedikit kau jelaskan tentang dirimu sebelum pertandingan dimulai?" Saat Ryu menanyakan hal ini, semua mata tim Maha langsung tertuju pada Jeevan.


"Heaaah... Baiklah-baiklah, aku adalah anak yang pernah hampir diangkat menjadi tangan kanan Maha." Jawab Jeevan.


"Hampir?"


"Iya hampir. Kalian pikir siapa lagi kalau bukan Putri cantik itu yang menggantikan posisiku. Setidaknya aku akan berusaha untuk terus melangkah bersama dengan Maha dijalur yang berbeda darinya. Dulu Maha dan Kanna juga bukan anak yang akrab, keduanya saling menjahili satu sama lain. Dan kurasa, ya kalian pasti tau seberapa dekat mereka sekarang." Jelas Jeevan lalu mengangkat bahunya sedikit sambil memejamkan mata.


"Hei... Lihat, pertandingannya sudah siap dimulai." Sambung Jeevan.

__ADS_1


__ADS_2