
"Sudah-sudah... Yang bisa aku bilang pada kalian adalah, Maha ingin kita bertahan di sini. Yang artinya, kita harus bersosialisasi selama masih ada di sini, tentu dengan warga di sini, terutama Richard dan Ryu. Aku tidak akan menyuruh kalian seperti yang dilakukan Maha, tapi aku akan jadi perantara kalian dnegan Maha sementara. Aku, Reha, Rya dan Zia akan mengurus pekerjaan rumahan, seperti mencuci, memasak dan membersihkan rumah. Mengerti apa yang aku maksud, kan?" Jelas Kanna.
"Ke-kenapa... Apakah aku tidak bisa bertemu dengan Tuan Maha?" Tanya Ryu, dengan menahan rasa sakit setelah di tendang Reha.
"Nanti setiap hari tertentu, Maha akan berdiskusi dengan kita, tapi untuk hari biasa, kita tidak bisa mengobrol begitu banyak dengannya." Jawab Kanna.
"Yah apapun itu, Maha pasti ingin cepat menyelesaikan tugasnya untuk mendapatkan pengetahuannya. Terlebih lagi, Maha sebelumnya mengatakan kalau kerajaannya sedang berada dalam bahaya." Ucap Reha.
"Benar, Reha. Karena kita harus kembali ke kerajaan kami, makanya kita sebaiknya tidak mengganggu Maha." Balas Kanna.
"Oiya, Kanna. Apakah salah bila aku bertanya tentang kerajaan kalian? Dan darimana kalian berasal?" Zia bertanya.
"Tidak salah, toh karena kita sudah jadi se-tim, aku akan menceritakan sedikit tentang kerajaan kami, sekalian akan aku ceritakan tentang Maha saat masih berada dikerajaan." Jawab Kanna.
"Jadi kerajaan asal kami adalah Kerajaan Rayya. Dimana kerajaan ini adalah kerajaan yang diapit oleh kerajaan-kerajaan besar, yang membuat kerajaan kami dulu sering kali dijadikan medan pertempuran, makanya kerajaan ini berada dalam ambang bahaya. Namun beberapa tahun kemudian, lahirlah aku dan Maha, kami lahir dihari yang sama, dan juga saat kami lahir tengah terjadi pertempuran..." Jelas Kanna, dipotong Richard.
"Apakah konflik antar manusia saja?" Tanya Richard.
"Ya, tidak ada ras lain yang ikut campur. Singkat cerita, kami ada di akademi saat usia tujuh tahun, dan saat kami berada di akademi, ekonomi kerajaan sangatlah buruk. Dan saat itulah Maha melakukan langkah pertama untuk membantu kerajaan, intinya langkah pertamanya mampu memperbaiki sedikit masalah ekonomi. Dan singkat cerita lagi, ketika aku dan Maha berangkat mengelana, Maha mengusulkan di adakannya sekolah untuk siapapun anak yang ada di kerajaan. Karena akademi tidak bisa dimasuki semua orang, makanya Maha mengusulkan hal itu."
"Lalu? Saat Kalian pergi, apakah kalian tidak khawatir dengan kerajaan kalian?" Tanya Ryu.
"Maha memiliki seorang sahabat yang ia tinggalkan di Rayya, dan bersumpah setia untuk berjuang bersama meski jarak mereka saling berjauhan. Dia adalah Jeevan, biasa dipanggil Je oleh Maha."
"Apakah Jeevan ini anak-anak juga? Bukankah cukup beresiko bila mempercayakan pada anak-anak?" Sahut Reha bertanya.
"Jeevan memang seumuran denganku dan Maha. Tapi, dia juga dipercaya sebagai calon penyihir pendamping Maha. Ya, bisa dibilang bahkan Jeevan bukanlah anak-anak sembarangan."
"Tunggu Kanna. Saat kita nanti ke Rayya, apakah mereka semua akan menerima kami?" Tanya Richard.
__ADS_1
"Semua sudah aku atur, terakhir aku dan Maha membantu beberapa Dwarf untuk masuk ke Rayya."
"Oh waw... Lalu? Setelah kita nanti kembali ke Rayya, apa yang akan kita lakukan?" Masih pertanyaan dari Richard.
Lagi-lagi Reha menendang Richard.
"Kau ikut dengan Maha atau egomu sendiri sih?! Aku yakin yang kau tanyakan itu tidak akan dijawab mudah oleh Kanna." Ucap Reha.
"Hehe... Begitulah. Tapi, yang bisa aku bilang pada kalian adalah, kita akan melakukan apapun agar perdamaian benar-benar terwujud di daratan ini." Ucap Kanna.
"Dan oh ya, ini akan jadi rahasia di tim kita saja..." Sambung Kanna memelankan suaranya.
"Apa?" Tanya Richard.
"Maha adalah kandidat Raja Iblis." Jawab Kanna yang membuat semuanya kaget.
"Raja Iblis? Bukankah Raja Iblis dari kalangan Demon? Apa maksudnya Kanna?" Tanya Ryu.
"Baiklah... Seperti yang Kanna bilang, kita akan hidup normal di desa ini. Aku tahu akan memakan beberapa tahun untuk hal ini, tapi aku yakin kita bisa bertahan di sini, karena yang jelas desa ini aman dari dunia luar." Ucap Reha.
"Ryu dan Rya, bisa aku meminta tolong sesuatu pada kalian?" Tanya Kanna.
"Ada apa, Kanna?" Tanya balik Ryu.
"Aku ingin kalian tidak selalu waspada pada para Elf. Hawa was-was kalian bisa saja menakuti mereka." Jawab Kanna.
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan usahakan hal itu."
"Tapi semuanya, meski Maha tidak akan sering bersama dengan kita, kita tetap adakan diskusi kecil seperti ini. Ya, untuk menghabiskan waktu kosong." Tambahan dari Kanna, lalu mereka semua bubar sesuai dengan apa yang mereka diskusikan.
__ADS_1
Di sisi lain, Maha sedang mendengarkan penjelasan dari tetua Elf yang ia temui. Taa nama Elf itu.
"Elf ini, sepertinya memiliki banyak pengalaman, Maha. Aku yakin dia sudah pernah tinggal di luar hutan ini."
"Tuan Taa, apakah anda sudah pernah tinggal di luar hitan Elf ini?" Tanya Maha.
"Aku pernah mengelilingi daratan ini nak, dan tidak perlu memakai bahasa yang formal padaku nak." Jawab Taa.
"Oh baiklah. Jadi namaku adalah Maha, aku ingin mengetahui pengetahuan tentang daratan ini, sebanyak mungkin. Untuk itulah aku datang kemari."
"Banyak yang datang ke sini untuk menyerang kami, nak. Dan yang kau lakukan ini adalah hal yang jarang aku temui. Sebelum aku memberikan beberapa pengetahuan padamu, aku akan menanyakan tujuanmu, kenapa harus mengetahui tentang daratan ini."
Maha lalu menjelaskan kalau dia ingin membawakan kedamaian pada daratan ini, dengan berbekal pengetahuannya. Taa yang mendengar hal itu, sedikit ragu dengan Maha. Ya, siapa yang akan langsung percaya pada anak-anak.
"Aku akan menguasai daratan ini." Celetuk Maha.
"Apa?!" Taa kaget dan langsung geram pada Maha.
Dia langsung mengeluarkan tongkat sihirnya dan menodongkannya pada Maha.
"Bukankah aturan ras Elf tidak boleh membunuh ras lain?" Tanya Maha santai.
"Aku diberikan wewenang untuk membunuh siapapun yang kuanggap menjadi ancaman bagi ras kami. Dan itu kau nak." Jawab Taa, langsung melontarkan sihir api pada Maha.
Seperti biasa, Maha yang memiliki resistensi terhadap sihir apapun, tidak akan menerima serangan dari Taa. Maha dengan muka tenang, sedangakan Taa dengan muka kaget dan panik.
"Aku tidak akan mengancam siapapun, aku benar-benar akan menyebarkan kedamaian di daratan ini." Ucap Maha ngeyel.
"Aku masih tidak percaya padamu, nak." Ucap Taa.
__ADS_1
Taa lalu mengambil tombak yang ada disampingnya dan tanpa basa-basi dia langsung menusukkannya pada Maha.