MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Insiden Pertama di Asrama


__ADS_3

"Jadi namamu Maha?" Tanya seseorang yang saat itu berdiri di tengah pintu, di belakang Maha.


"Ya." Jawab Maha jutek, yang mana saat itu kondisi Maha sudah letih, karena membawa barang-barangnya ke asrama.


"Aku dari Gereja Suci, tapi aku tidak pernah melihatmu. Apakah kau pindahan dari luar kerajaan?" Tanya orang yang sama.


Seseorang itu bercirikan, laki-laki dan usia yang masih belia, kira-kira sama dengan usia Maha, dan dari pakaian yang ia kenakan sepertinya bukanlah dari kalangan rakyat jelata.


"Aku bukan dari Gereja, dan aku bukan dari luar kerajaan. Tujuanku adalah bersekolah di Akademi Kerajaan. Aku tidak punya teman, karena aku tidak butuh itu. Itu saja, aku akan ke kamarku di asrama, jadi menyingkirlah dari pintu itu, aku akan masuk." Ucap tegas Maha.


Terkesan kasar memang, ini karena kondisi letih tadi.


Laki-laki itu pun memberikan jalan pada Maha untuk melewati pintu asrama. Ekspresi dari laki-laki itu bukanlah kesal atau marah, yang ia tunjukkan tetaplah senyum ramahnya.


Melihat senyum ramah itu Maha pun berhenti berjalan, dan menoleh ke laki-laki itu.


"Namamu?" Tanya Maha padanya.


"Oh, namaku Jeevan." Jawab laki-laki itu.

__ADS_1


"Oke. Je, tidak perlu menghiraukan kata-kata kasarku tadi, karena aku sedang letih setelah pindahan." Ucap Maha lalu pergi dan segera menuju kamar asramanya.


Saat sampai di asrama Maha merasa lega, dan rebahan di atas kasurnya.


'Haruskah aku menulis agenda yang aku jalani tiap harinya? Hmm.. Sepertinya aku belum tahu pasti kegunaan dari buku yang Ayahku berikan. Semoga buku ini bisa bermanfaat bagiku.' Pikir Maha, sebelum pada akhirnya ia berhasil tertidur di kasurnya.


Waktu berlalu cepat, yang tadinya Maha tertidur pada waktu siang, kini waktu telah menunjukkan waktu malam. Dan, Maha memiliki masalah serius. Tidak tahu jam makan di asrama. Dan kini, ia merasa lapar.


Saat melihat jam dinding, jarum jam menunjukkan tengah malam, yang pasti ia yakin kalau lampu asrama telah dimatikan semuanya.


Tapi mau tidak mau ia harus makan. Akhirnya dia keluar dari kamarnya dan berniat mencari makanan di dapur asrama. Tapi ia malah bertemu dengan Jeevan, yang saat itu selesai dari toilet.


"Maha? Apa yang kau lakukan di tengah malam begini?" Tanya Jeevan, yang membawa satu lilin yang menyala.


"Jam 6 malam adalah jam makan terakhir di asrama ini Maha, apa yang akan kau cari di dapur bila sudah tengah malam begini."


"Apapun itu, aku sungguh kelaparan saat ini."


"Ayo ikut denganku Maha, mungkin orang ini punya jawabannya." Ajak Jeevan pada Maha.

__ADS_1


Lalu Jeevan menuju ke sebuah kamar. Dan mengetuk pintu kamar itu. Mungkin itu adalah kamar tukang masak atau apalah itu, pikir Maha.


Saat membuka pintu kamar, benar saja, itu adalah salah satu tukang masak di asrama ini.


"Ada apa Nak Jeevan malam-malam begini?" Tanya orang itu menahan kantuk.


"Bisakah aku mendapatkan sedikit makanan? Temanku melewatkan jam makan malam, jadi dia sekarang kelaparan." Ucap Jeevan.


"Tentu, apakah tidak ada yang memberitahukan jam makan padanya?" Tanya orang itu sambil menuntun jalan menuju dapur.


Saat sampai di depan dapur, ia membuka dapur dengan kunci yang ia miliki.


"Ada beberapa roti sih, apakah mau?" Tanyanya pada Maha.


"Apapun, sungguh apapun itu akan aku makan." Jawab Maha.


Lalu dia mengambilkan beberapa potong roti, dan memberikannya pada Maha. Selagi Maha menyantap roti tersebut, dia bertanya pada Maha.


"Ah ya siapa namamu, wahai anak baru?"

__ADS_1


"Maha, namanya Maha." Jawab Jeevan dengan cepat. Di sini Jeevan yang menjawab, karena ia merasa kalau Maha adalah tipe orang yang bila sibuk tidak bisa diganggu


Maha yang sedang makan lahap ketika Jeevan menjawab orang itu, Maha menyadari kalau Jeevan punya pemikiran tentangnya. Ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


__ADS_2